Not A Sugar Baby

Not A Sugar Baby
Mencari Kebenaran



Haiiiiiii, 😊


terima kasih masih setia disini,


Enjoy reading ⚘


_____________________


Alan membaca dengan teliti kertas yang ternyata adalah hasil tes kesehatan yang dikeluarkan oleh salah satu rumah sakit di Jakarta.


"Kamu.. hamil Ra, dan ini ..... anak aku kan?" tanya Alan.


Clara menatap Alan tajam, "Kamu pikir aku tidur dengan banyak laki-laki, ya pasti anak kamulah. Tembak tanpa pengaman terus ya hamil jadinya."


"Tunggu-tunggu, kamu hamil anak aku dan mau kamu claim itu anak Ben. Ini gila Ra, kalau Ben nuntut tes DNA gimana?"


"Aku akan pastikan hasilnya anak ini anak Ben."


"Itu kriminal Ra, apa harus senekat ini."


"Kamu tidak ingin mendapatkan Aruna lagi?" tanya Clara.


"Bukan begini caranya."


"Sudahlah, kamu ikuti saja permainanku dan terima hasilnya."


.


.


Ben sedang menerima panggilan telepon.


"Hmm"


....


"Lalu."


....


"Lanjut selidiki, sampaikan terus perkembangannya."


....


Mengelus rambut Una yang menjadikan pangkuan Ben sebagai bantal.


"Tidak jadi pergi?"


"Malas Bang, capek."


"Jadi, mau seharian di rumah?"


"Belum tau juga sih, bisa aja nanti aku berubah pikiran." Ben mengelus pelan perut Una, " Kapan jadwal kontrol berikutnya?"


"Minggu ini, Abang mau makan apa? Biar aku yang masak."


"Mau makan kamu."


"Ishh, mesum."


Ponsel Ben kembali bergetar, masih dengan posisi yang sama ia menerima panggilan telepon.


"Ya."


....


"Hmm."


....


Ben menghela nafas.


"Jam berapa?"


....


"Oke."


"Ada masalah ya?"  tanya Una sambil beranjak bangun. 


"Bukan masalah tapi hal yang harus aku ikut turun tangan. Mau ikut?"


Una mengangguk, "Aku ganti baju dulu." 


Ben dan Una sudah berada dalam mobil menuju kantor milik Ben. "Mulai besok akan ada asisten rumah tangga yang bantu kamu."


"Enggak usahlah Bang, orang akunya juga di rumah aja jadi bisa aku yang handle."


"Kamu itu istri aku bukan pembantu rumah tangga."


"Terus kalau aku bosan gimana?"


"Kita bikin anak yang banyak, jadi nanti kamu enggak akan bosan." 


Menjejakan kakinya di lobby dengan memeluk lengan Ben membuat Una menjadi pusat perhatian. Setiap orang yang berpapasan dengannya dan Ben menganggukan kepala, "Aku mampir ke divisi keuangan sebentar ya," ucap Una saat mereka berada dilift.


"Hmm, Leo perlu ikut denganmu?" 


"Enggak usahlah." 


Una melambaikan tangannya pada Ben sebelum pintu lift tertutup, lalu berjalan menuju ruangan tempatnya dulu bertugas. 


"Apa Clara masih di awasi?" tanya Ben pada Leo.


"Masih bos."


"Panggil orang yang mengawasinys sekarang juga, aku perlu mensinkronkan informasi."


Setelah Ben keluar dari lift dan menuju ruangannya, Leo menghubungi seseorang.


.


.


"Selamat siang," sapa Una. 


"Serius banget sih."


"Kangen banget sama Kak Aruna," ucap Rahmi sambil berjalan menghampiri Una lalu mereka berpelukan sambil tertawa dan Una menyapa semua yang ada di ruangan


"Iya, loe kerjain aja sesuai arahan yak." ucap Abil kepada rekannya setelah mereka keluar ruangan Bara. "Loh, Aruna," sapa Abil saat melihat Una sedang brrdiskusi dengan Rahmi.


"Hay, Bil." Abil menghampiri Una yang sedang duduk disebrang meja Rahmi.


"Wow, makin kinclong aja nih. Tumbenan ke sini?"


"Bete di rumah, kangen kalian."


Akhirnya Abil dan rekan asyik bercengkrama dengan Una, "Aduh asyik ngobrol nanti aku ditegur Pak Bara deh," ucap Una. "Yang ada Pak Bara ditegur sama loe Na."


Una hanya tersenyum sambil memainkan ponsel, "Aku sudah pesankan pizza untuk kalian ya, silahkan lanjut kerjanya."


"Mau ke mana Na?" tanya Abil.


"Ke atas, lagian aku udah pegal," jawab Una sambil mengelus pinggangnya. "Owh iya, nanti kapan-kapan kita maksi bareng ya."


"Iya kak, nanti kabarin ya," ujar Rahmi.


"Bye, semangat kerjanya," Una melambaikan tangannya sambil berlalu.


Abil kembali ke meja kerjanya, "Itu tadi siapa Bang?" tanya rekan kerja Abil.


"Aruna, loe itu menggantikan posisi Aruna. Dia dulu kerja di sini."


"Owh, gitu," ucap rekan Abil yang bernama Andra.


"Tapi sekarang udah naek kasta, dia nikah sama pemilik perusahaan ini," terang Abil.


"Wow, amazing."


.


.


Ben sudah duduk di sofa saat Ilham masuk ke ruangan Ben bersama seorang pria dan wanita.


"Duduklah," titah Ben.


"Ini Malik dan Firda yang kemarin menyelidiki kejadian di Surabaya," ucap Ilham.


"Jadi, apa yang kalian dapatkan."


Malik memajukan sedikit tubuhnya, "Ada beberapa titing terang terkait kasus Pak Ben. Setelah kami periksa cctv yang sengaja dihapus oleh seseorang yang memang dibayar cukup besar oleh wanita yang bernama Clara Zudith juga ada petugas yang disuap juga agar wanita ini bisa masuk ke kamar Bapak setelah meminum obat yang sudah dicampur pada minuman Pak Ben," ungkap Malik.


"Jenis obatnya?"


"Kami interogasi waittres itu mengatakan semacam obat bius, yang membuat ngantuk lalu pingsan," Firda menambahkan penjelasan.


Ada sedikit kelegaan Ben mendengar informasi dari orang-orang suruhannya. "Untuk orang-orang yang terlibat sementara masih aman, kalaupun Pak Ben akan memperkarakan kami sudah persiapkan bukti-buktinya."


"Hmm, kita keep dulu. Kita akan ungkap saat yang tepat agar orang-orang ini berhenti mengganggu."


"Baik pak," ucap Malik dan Firda serempak. Lalu terdengar ketukan pintu dan masuklah Una.


"Hey, sudah temu kangennya?" tanya Ben yang berdiri merangkul Una yang menghampirinya. Una menoleh pada Malik dan Firda, sedangkan orang yang dipandang menganggukan kepala tanda hormat.


"Masih lama ya, aku lelah."


"Hmm, kamu istirahat dulu." Ben mengajak Una ke ruang istirahatnya. "Tidurlah, nanti kalau sudah selesai aku temani." Una hanya mengangguk sambil berjalan menuju ranjang di ruang istirahat Ben, melelas alas kakinya lalu merebahkan diri di atas ranjang.


"Ilham dan Malik kalian boleh tunggu di luar, Firda tetap di sini. Panggilkan juga Leo."


Leo ikut duduk pada sofa bersama seseorang, "Jadi informasi penting apa yang bisa aku dapatkan?"


"Selama saya mengawasi wanita ini ada beberapa hal yang menarik akhir-akhir ini. Yang pertama ia ke rumah sakit sebelum berangkat ke Surabaya. Setelah dari Surabaya ia masih bertemu dengan teman dekatnya."


"Alan?"


"Betul pak, tadi pagi pun Clara ini menemui Alan di kantor tempat Alan bekerja dan itu sebelumnya sering banget pak. Tapi hari ini saya perhatikan pertemuannya tidak lama, Clara sekarang ada di apartement miliknya."


"Clara ke rumah sakit, untuk?"


"Berobat atau pemeriksaan dirinya sendiri, karena saya lihat dia antri di pendaftaran lalu menunggu di poli dokter spesialis kandungan."


"Kau yakin dia pasien?"


"Yakin pak, karena saya dengar namanya dipanggil lalu wanita itu masuk ke ruang pemeriksaan."


"Foto-fotonya akan saya kirim ke Pak Leo sebagai salah satu bukti bahkan saat di rumah sakit wanita ini bertemu istri Bapak."


"Aruna bertemu Clara? Lalu?"


"Iya pak, sempat saling sapa sesaat sebelum pergi."


"Ya sudah, siapkan saja bukti-bukti yang ada. Kau bisa keluar sekarang."


"Baik pak,"


"Firda, saya perlu asisten atau kasarnya pengawal untuk istri saya dan saya inginnya perempuan juga. Melihat kerjamu selama ini baik, maka saya tawarkan ini pada kamu."


"Lalu Bang Leo," ucap Firda.


"Ya sama Leo masih dengan tugasnya, bedanya kalau kamu bisa ikut masuk ke tempat tinggal kami. Yang jelas bisa mengawasi lebih dekat." Firda memgangguk tanda mengerti.


"Baik, saya siap pak."


"Nanti saya kenalkan dengan istri saya. Oke cukup kalian bisa keluar."


Kembali ke Alan, pria itu termenung mendengar pernyataan Clara sebelum wanita itu meninggalkan ruangan.


"Aku khawatir Ben mengawasiku, jadi sementara kita jangan bertemu," ujar Clara pada Alan


______


Jangan lupa jejaknya ya, like, koment, vote dll


Love you full 💕💕💕💕