MY DESTINY

MY DESTINY
EKSTRA PART ALIKA DAN GIO



Seorang gadis cantik tengah duduk memeluk dirinya sendiri sembari menatap bulan dari jendelanya. Rambutnya yang panjang lurus dia biarkan terurai terkena hembusan angin malam yang menenangkan.


Lamunannya terbuyarkan saat mendengar seseorang memanggil namanya dengan berbisik-bisik.


"Pssttt Alika ..."


Alika mengedarkan pandangannya, namun tidak menemukan siapapun. Sampai akhirnya mata Alika menatap kebawah, melihat Gio berada disana menggunakan tangga untuk naik kekamar Alika.


"Kakak ... Apa yang kau lakukan disana?"


"Nanti saja bertanyanya, cepat bantu aku." ucap Gio mengulurkan tangannya dan langsung ditarik oleh Alika.


Gio mendesah lega saat dirinya telah berada didalam kamar Alika.


"Kenapa kakak seperti pencuri? Kenapa tidak masuk saja dari depan?"


Gio memutar bola matanya. "Aku malas meladeni ayahmu nanti jika melihatku. Dia tidak akan memberikan waktu untuk kita berdua."


Alika terkikik kecil mendengarnya. "Memangnya ada perlu apa kakak ingin menemuiku sampai seperti ini?" tanya Alika menuntut.


"Aku hanya ingin merayakan ulang tahunmu yang ke dua puluh. Dan menjadi yang pertama memberi ucapan selamat untukmu."


Alika menggeleng. "Kakak. Ika sudah besar, hal Seperti itu tidak perlu lagi."


Gio mengangkat bahunya dan duduk didekat jendela seperti yang tadi Alika lakukan. Dengan mengambil sebatang rokok dan menghidupkannya. Alika mengambil tempat duduk disebelah Gio dengan menatap keindahan bulan.


Gio memperhatikan gadis cantik yang saat ini ada disebelahnya. Manik hitamnya tidak berkedip menatap kecantikan Alika. Gio menghisap rokoknya dan menghembuskannya perlahan kewajah Alika. Membuat Alika mengalihkan pandangannya mencebik kesal dengan kebiasaan Gio yang sering melakukan hal itu padanya.


"Berhenti melakukan hal itu Gio, aku tidak suka bau rokok." ujarnya sembari menutup hidung karena tidak ingin menghirup asap rokok yang bertebaran.


Gio terkekeh, namun masih tidak menghentikan ulahnya itu. Sampai membuat Alika kesal dan memukul-mukul tubuhnya.


Tidak lama kemudian ponsel Alika berdering, Alika segera mengangkatnya. Namun hal itu belum sempat terjadi karena Gio merebutnya dari tangan Alika.


Gio berdecak sebal, lagi-lagi pria seumuran dengan Alika menelpon nya terus. Entah mengapa Gio tidak menyukai teman Alika yang satu ini.


"Kakak apa yang kau lakukan? Biarkan aku mengangkatnya." Alika berusaha merebut ponselnya kembali namun sayangnya Gio telah memasukan ponsel itu kedalam saku celananya.


"Sudah kukatakan jangan terlalu dekat dengan pria manapun Alika. Kenapa kau tidak mendengarkanku?"


"Kakak, dia hanya temanku. Mungkin dia menelpon karena ada urusan penting."


Gio tidak menjawab, matanya menatap lurus kedepan. Seakan ikut tertarik melihat keindahan bulan malam itu.


Alika terus melirik kearahnya dan sesekali menatap ponsel yang ada disaku celana Gio. Sadar bahwa dia tidak bisa mengambilnya hingga Alika mendesah letih.


Gio tersenyum melihat Alika yang terus meliriknya seakan ingin menyerangnya.


"Kalau kau mau ponselmu kembali, kau bisa mengambilnya sendiri. Ponselmu ada disaku celanaku." ucap Gio tiba-tiba, namun matanya masih menatap lurus kedepan. Dia kemudian melirik Alika.


"A-pa, aku tidak mau mengambilnya, kakak bisa menyimpannya, Dan ....


Alika tiba-tiba menyerang Gio dan memeriksa kantung dicelana jeans nya. Lalu mencari ponselnya yang disembunyikan.


" Kakak, berikan padaku ..." ucap Alika, tangannya bahkan masih disaku celana Gio. Dia menyusupkan tangannya dan mencari ponselnya, menyerangnya tiada henti.


"Jangan berani menyerang seorang pria Alika. Meskipun itu hanya bermain-main. Nanti kau akan menyesal, kau mengerti !!" ucap Gio dengan suara parau, wajah mereka begitu dekat. Nafas Alika menghembus kewajahnya, hingga pertahanannya hampir saja runtuh. Untungnya Gio segera tersadar dan membantu Alika kembali duduk. Dia langsung berdiri menuju kamar mandi, meninggalkan Alika yang menatapnya bingung.


"Ada apa dengan kakak?"


***


Gio mengusap wajahnya beberapa kali menggunakan air di wastafle. Sembari mengingat ingat kejadian dengan Alika yang membuat jantungnya seakan berlari kencang.


"Alika adalah adikku. Umurnya baru dua puluh tahun sangat jauh dibawahku. Dia adalah adik kecilku." Gio mengucapkan kata itu berkali-kali. Seolah hal itu adalah mantra baginya, agar tidak terjerumus didalam pesona Alika.


"Kakak ... Kau baik-baik saja?" pekik Alika memanggil Gio yang masih berada didalam.


"Aku baik-baik saja." Gio keluar dari kamar mandi sembari mendekati Alika dan mengajaknya kembali duduk Seperti tadi.


"Alika. Ada yang ingin aku bicarakan padamu."


"Apa itu?"


Gio menarik nafasnya sebelum mengucapkannya. "Aku akan pergi ke Italy untuk urusan bisnis."


"Apa akan lama?"


"Entahlah, tapi aku rasa begitu." ujarnya murung.


"Tidak apa kak, jika itu penting maka pergilah. Tapi ...


Alika menghentikan ucapannya, membuat Gio menatapnya bingung.


" Aku pasti akan merindukanmu." Alika berucap menatap dalam manik mata Gio yang hitam.


"Aku akan berusaha pulang secepat mungkin untukmu." Gio berucap sembari membawa Alika kedalam pelukannya. Tubuh Alika yang kecil seakan tenggelam didalam tubuhnya. Gio menundukkan wajahnya sampai bibirnya jatuh kepundak Alika. Tanpa sadar Gio menghirup dalam aroma Alika dan memasukan wajahnya dileher jenjang Alika dan memberikan kecupan lembut yang singkat dilehernya.


"Kakak? Apa yang kau lakukan?" tanya Alika sembari mendorong dan menjauhkan tubuh Gio.


Dengan cepat, Gio melepaskan pelukannya. Gio sendiri bingung dengan apa yang dia lakukan barusan. Mereka akhirnya saling menatap. "Kau baik-baik saja kan kak?" ucap Alika dengan meletakkannya dikening pria itu.


"Tidak panas. Tapi kenapa wajah kakak menjadi merah?" Alika nampak berfikir.


Gio berdehem. "Sebaiknya aku pergi sekarang Alika. Nanti ayahmu akan bangun mendengar suara kita. Sekali lagi ... Selamat ulang tahun untukmu," Gio menghadiahkan kecupan singkat dipipi Alika dan mengacak pelan rambutnya, seperti yang biasa dia lakukan.


"Baiklah kak, terimakasih untuk semuanya." ujar Alika tersenyum tulus.


Gio hanya mengelus lembut rambut Alika sebelum melangkah pergi meninggalkannya.


Alika tersenyum sumringah melihatnya. Sikap Gio yang begitu manis padanya.


******NANTIKAN KISAH ALIKA DAN GIO DI JUDUL YANG LAINNYA YA


BYE


BYE***