MY DESTINY

MY DESTINY
episode 72 (Dua Garis Biru)



Maldives sendiri merupakan sebuah negara kepulauan indah dan memesona yang telah mendunia sebagai destinasi honeymoon yang super romantis yang terkenal dengan pemandangan indah pantai yang cantik untuk suasana romantis. Namun sayangnya Daniel dan Nayna tidak bisa terlalu lama berada disana. Mereka harus kembali karena banyaknya pekerjaan yang menuntut.


Meski begitu Nayna tetap bahagia karena telah menyempatkan waktu untuk datang kesana. Jika nanti ada waktu senggang, Daniel akan kembali mengajaknya, apalagi saat kehadiran sikecil mereka nanti. Pasti akan lebih menyenangkan. Pikirnya.


Entah mengapa saat itu Nayna merasa tidak enak badan, wajahnya pun terlihat pucat. Daniel yang menyadari hal itu tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


"Nayna, kau baik-baik saja? Apa kita harus menunda kepulangan kita?"


Nayna menggeleng cepat sembari memijit pelan pangkal hidungnya. "Tidak Daniel, aku baik-baik saja. Kita harus segera pulang. Aku takut Alika akan menyusahkan ibu." ucapnya lemah.


"Apa kau yakin?"


"Ya,"


"Baiklah, kita akan pulang sekarang juga."


***


Alika merasa begitu bosan berada dimansion yang begitu besar, namun nampak sepi. Alika berjalan-jalan untuk menghilangkan kebosanannya. Lalu matanya tertuju pada Marco yang sedang berada ditaman dengan duduk di kursi rodanya.


Alika berjalan perlahan mendekatinya, tidak ada ketakutan diwajahnya.


"Kakek?"


Marco menoleh malas melihat siapa yang memanggilnya itu.


"Apa kakek tidak bosan berada disini? Maksudku, apa kakek hanya akan memandangi taman ini seharian?"


"Ck, kau ini sama seperti bibimu. Cerewet!!" jawabnya ketus. Dengan raut wajah sebal.


"Kakek. Kenapa kakek tidak menyukai bibi Nayna? Bukankah dia orang baik. Bibi bahkan selalu bersikap lembut, tapi kenapa kakek begitu tidak menyukainya?" tanya Alika dengan wajah polos nya.


"Aku bukannya tidak menyukainya. Hanya saja aku masih belum siap untuk menerimanya. Aku membiarkan dia berada disini karena putraku begitu mencintainya." jawab Marco datar dengan menatap lurus kedepan.


"Suatu hari kakek pasti akan menyukainya. Percayalah, bibi orang yang baik. Kakek akan merasa kesepian jika tidak ada dia."


Marco menarik sedikit sudut bibirnya melihat kepolosan Alika. Marco menggerakan tangannya untuk mengusap lembut rambut Alika. Alika tersenyum senang dengan hal itu.


"Kakek, apa kakek mau mengajakku jalan-jalan. Ika akan membantu kakek mendorong kursi roda ini." ucapnya antusias.


"Tidak perlu Alika. Kursi ini memiliki tombol otomatis untuk berjalan sendiri, jadi tidak perlu didorong. Jika kau mau jalan-jalan mengelilingi mansion ini ayo, kakek akan mengajakmu."


"Benarkah???"


Alika berbinar bahagia dengan tawaran itu dan segera mengangguk mantap.


Mereka mengelilingi mansion dengan penuh keceriaan. Akhirnya setelah sekian lama tempat itu berubah menjadi ramai dengan kehadiran Alika yang bagaikan anugrah bagi mereka. Belum lagi ditambah cucu-cucu mereka nanti, Marco tersenyum sumringah membayangkan hal itu.


Lucia sendiri tersenyum senang melihat kedekatan Alika dan suaminya itu. Lucia pikir Marco akan merasa risih dengan kehadiran Alika, karena bukan cucu kandungnya. Namun ternyata dia salah. Kepolosan dan keluguan Alika ternyata mampu menarik sisi penyayang dari Marco sendiri.


Pemandangan yang begitu indah bagi Lucia saat melihat keceriaan dan warna baru diwajah suaminya.


***


Daniel dan Nayna telah sampai dikediaman mereka. Entah karena perjalanan yang cukup jauh, atau memang kondisi tubuh Nayna yang kurang fit. Membuat wajah Nayna semakin pucat. Tubuhnya terasa lemas seakan tidak bertenaga lagi. Tentu hal itu tidak luput dari perhatian sang suami dan juga Lucia yang menatapnya sejak tadi.


"Ada apa denganmu Nayna. Wajahmu pucat sekali. Apa kita harus memanggil dokter sekarang?" tanya Lucia khawatir.


"Tidak perlu bu, sepertinya aku hanya kelelahan, tidak perlu cemas." jawab Nayna lemah.


"Kalau begitu istirahatlah,"


Nayna mengangguk lemah dengan tersenyum lembut menanggapinya.


Sementara Lucia malah menatap tajam Daniel dengan penuh arti.


"Apa kau tidak berhenti menghajarnya selama disana, sampai dia kelelahan seperti itu?"


Daniel seakan tergagap mendengar penuturan ibunya yang begitu vulgar dengan raut wajah sinis seakan mengejeknya.


Tanpa menunggu jawaban dari Daniel, Lucia segera melangkah pergi membiarkan Nayna beristirahat.


Daniel mendekati Nayna dan mengusap rambutnya perlahan. ("Apa ibu benar Nayna seperti ini karena ulahku?") batinnya.


"Kau memikirkan sesuatu?" tanya Nayna yang memperhatikan raut wajah Daniel sedari tadi.


Melihat Nayna yang mulai menutup matanya, Daniel berusaha untuk tidak mengganggunya dulu kali ini. Membiarkan Nayna mengumpulkan tenaga untuk menghadapi nya lagi nanti.


.****


Pagi datang begitu cepat. Kondisi Nayna sendiri bukannya membaik malah semakin buruk. Kali ini dia bahkan kehilangan selera makannya. Bahkan untuk bangun saja dia terasa sangat malas. Namun Nayna juga tidak bisa untuk terus tidur karena perutnya tiba-tiba mual.


Nayna segera melangkah cepat menuju toilet untuk memuntahkan semua isi perutnya.


Daniel sendiri berkerut heran melihat tingkah Nayna. Dengan rasa khawatir, Daniel mendekatinya dan mengosok pelan punggung didekat lehernya.


"Nayna ada apa denganmu?"


"Daniel, pergilah ini menjijikan." ucap Nayna sembari menjauhkan Daniel darinya.


"Aku akan menelfon dokter."


Daniel segera keluar mengambil ponselnya untuk menghubungi doker pribadinya.


"Ada apa Daniel, kenapa kau terlihat cemas?"


"Nayna sepertinya sedang sakit bu, dia merasa mual dan muntah tadi. Jadi aku menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan nya."


Lucia melebarkan matanya mendengar itu. "Mual? Jangan-jangan ..." Lucia tidak melanjutkan ucapannya, dia berbalik mengambil sesuatu dikamarnya yang telah lama dia simpan.


Daniel sendiri bingung dengan tingkah ibunya. Namun masih tidak bisa menghilangkan kekhawatiran nya terhadap Nayna.


Lucia kembali masuk kekamar Nayna untuk memberikan alat tes kehamilan pada Nayna.


"Nayna, cepat masuk kekamar mandi dan gunakan alat ini, siapa tahu kau sedang mengandung saat ini." ucap Lucia begitu antusias. Nayna mengangguk dan mengambil alat itu dari tangan mertuanya.


Lucia tidak hentinya mondar-mandir didepan kamar mandi, menunggu Nayna yang tidak kunjung keluar dari sana. Berharap kabar baik akan segera datang dan menambah kebahagiaan keluarga mereka. Daniel yang baru datang dengan membawa dokter untuk memeriksa keadaan Nayna malah berkerut heran melihat tingkah ibunya itu.


"Ibu? Apa yang ibu lakukan? Dimana Nayna?"


Belum sempat Lucia menjawab, pintu kamar mandi telah terbuka menampilkan sosok Nayna yang keluar dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.


"Bagaimana? Apa hasilnya?" tanya Lucia seakan tidak sabar. Nayna malah menatap Daniel dengan pandangan sedih.


"Nayna ada apa? Hasil apa?" tanya Daniel bingung.


Nayna memberikan alat itu pada Lucia untuk melihat sendiri hasilnya. Lucia menutup mulutnya dengan mata melebar seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Alat itu dengan jelas menunjukan dua garis biru, yang menandakan kehamilan Nayna.


Daniel sendiri semakin bingung dengan keadaan itu. Semua orang diam seakan sibuk dengan urusan mereka masing-masing. "Cepat katakan padaku ada apa?" ucap Daniel mulai kesal.


"Daniel aku hamil."


***


****BERSAMBUNG .......


TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.


***


HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA


JANGAN LUPA KASIH


LIKE 👍


KOMENTAR 😀


BINTANG 5


FAVORITE


KOIN


DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN


JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH*******