
Frans membalikan tubuhnya untuk melangkah pergi meninggalkan Saina. Sebuah penolakan dari Saina membuat hatinya begitu hancur sampai tak tersisa. Bahkan dia kehabisan kata-kata untuk menyangkal ucapan Saina. Namun baru saja satu langkah ia pergi dia pun menghentikan langkahnya saat mendengar suara ambruk dibelakangnya.
Frans menoleh memastikan apa yang di dengarnya dan mendapati Saina yang tersungkur ditanah. "SAINA ..." teriak Frans mendekati Saina dan membalikan tubuhnya. Frans bertambah cemas saat melihat darah yang mengalir dari hidung Saina. Frans langsung menggendongnya dan melarikannya kerumah sakit.
***
Tuuuuuttttt ...
Panggilan tersambung namun tidak ada jawaban dari Daniel, membuat Nayna menggerutu kesal. "Apa dia sesibuk itu sampai tidak menjawab panggilanku," gumamnya kembali menelfon ulang nomor Daniel namun tetap tidak di angkat. Nayna mendesah gusar dan mencoba untuk mencari Daniel di mansionnya.
Nayna melangkah masuk dan menemukan sosok Marco yang duduk dikursi rodanya, menatapnya dingin. Nayna tersenyum melihatnya seolah mereka bagitu akrab. "Em, Hai Tuan Marco ! Bagaimana kabarmu?" tanya Nayna membuka suara, memecahkan keheningan diantara mereka. Namun tidak ada jawaban dari Marco. Marco menatap
Nya seolah mengulitinya hidup-hidup.
"Daniel tidak ada disini." ucap Marco mulai bersuara. Namun dengan nada datar tanpa ekspresi.
"Oh, ya sepertinya memang tidak ada." jawab Nayna kaku.
"Apa kau sungguh mencintai anakku?"
"Tentu." jawab Nayna tegas. Seolah memperingati ayahnya Daniel ini agar berhenti mencoba memisahkan mereka. Namun diluar dugaannya. Marco malah menanggapinya lain kali ini.
"Pergilah." ucap Marco sengaja menghentikan ucapannya, membuat Nayna merengut sedih. Namun hal itu tidak berlangsung lama saat Marco melanjutkan ucapannya.
"Maksudku pergilah cari Daniel dan minta dia untuk segera menikahimu. Aku ingin menggendong cucu secepatnya, dan aku harap kau tidak mengecewakanku." sambungnya segera memutar kursi rodanya untuk pergi. Membuat Nayna mengembangkan senyumannya dan bersorak gembira dalam hatinya.
"Terimakasih," ucap Nayna, namun tidak ditanggapi oleh Marco.
Nayna segera beranjak dari sana dan mencoba mencari Daniel ketempat lain. Nayna sudah mencoba menghubungi Hans, namun juga tidak ada jawaban darinya.
Nayna membuka ponselnya saat merasa ada yang mengirimnya pesan dan segera membukanya. Nayna menatap datar pesan itu yang memperlihatkan gambar Celine dengan asyik bercengkrama dengan Daniel. Sepertinya ada seseorang yang ingin memprovokasi hubungan mereka. Nayna menyimpan kembali ponselnya dan segera pergi ketempat dimana Daniel dan Celine saat ini berada , untuk memastikan sendiri kebenaran nya.
***
Nayna membulatkan matanya saat melihat pria yang begitu dicintainya bersama wanita yang beberapa hari ini mencari masalah dengannya. Meski Celine adalah sahabatnya, namun apa yang dilihatnya saat ini seolah mengubah bentuk persahabatan itu. Nayna menatapnya datar, namun siapapun bisa melihat kehancuran dalam matanya itu.
Sadar akan kehadiran Nayna disana membuat Daniel tersentak kaget, seolah dia benar-benar membuat kesalahan. Apalagi posisinya saat ini yang akan membuat siapapun akan salah paham.
"Nayna?" ucap Daniel pelan namun masih bisa didengar oleh Celine. Celine menoleh kearah Nayna dan menyunggingkan senyuman seolah mengejek Nayna yang saat ini pastinya sedang patah hati.
Nayna tidak sanggup lagi berada disana, meski langkah kakinya begitu berat namun dia harus segera pergi meninggalkan Daniel dengan kepanikannya. Nayna berjalan dengan langkah cepat mencoba menahan air matanya yang akan segera tumpah, dia tidak ingin menangis dan terlihat lemah dihadapan Celine maupun Daniel.
Daniel sangat ingin mengejarnya jika saja Celine tidak dalam kondisi mabuk berat seperti itu. Daniel mengusap kasar wajahnya, merasa sangat gusar. Daniel meraba saku untuk mencari poselnya. Daniel bertambah kaget saat melihat puluhan panggilan tak terjawab dari Nayna. "Sial, kenapa aku tidak tahu ada panggilan masuk dari Nayna. Siapa yang mengubah mode silent diponselku." gumamnya menggerutu kesal.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengantar Celine pulang. Daniel membawa Celine kedalam gendongannya untuk mengantarnya pulang.
Saat mereka telah sampai di Apartemen Celine, Daniel membaringkannya pelan dan perlahan menarik tangannya, namun Celine menahan nya seolah Daniel tidak boleh kemana-mana. "Daniel jangan pergi. Aku takut sendirian." lirih Celine menahan tangan Daniel.
"Baiklah aku tidak akan pergi. Aku akan menemanimu disini. Tapi kau lepaskan tanganku." jawabnya merasa iba melihat Celine yang tinggal sendirian dalam keadaanya seperti ini, Daniel akan menunggu sampai Celine sadar dan ia harus memastikan bahwa tidak ada orang yang memanfaatkan kondisinya saat ini.
Daniel juga sudah memperingati Celine agar tidak minum terlalu banyak tadi, tapi Celine tidak mau mendengarkannya. Meski awalnya Celine hanya bercerita yang cukup membuat Daniel merasa iba padanya, tapi Daniel tidak menduga jika akan berakhir seperti ini.
ARGHhhh .....
Teriak Daniel kesal dengan melempar ponselnya.
Meski mata Celine tertutup namun dia tahu apa yang baru saja dilakukan oleh Daniel. Dia tersenyum senang, Celine tidak terlalu mabuk rupanya, dia hanya bersandiwara untuk menahan Daniel agar tetap berada disini bersamanya.
Rencana berhasil kali ini, membuat hubungan Daniel dan Nayna merenggang dan secara perlahan akan membuat mereka berpisah. Celine tahu benar jika dia sedikit bersandiwara seolah mengalami masalah berat Daniel akan setia mendengarkan keluh kesahnya. Itu adalah cara ampuh yang selama ini dia lakukan untuk membuat Daniel luluh padanya. Dan lagi-lagi cara itu berhasil. Apalagi orang suruhannya berhasil membuat Nayna datang menemuinya, ia sengaja membayar orang untuk mengambil gambarnya dengan Daniel untuk dikirimkan ke Nayna.
"Daniel, kepalaku pusing." ucap Celine kembali memulai sandiwaranya. Daniel segera mendekatinya dan memijat pelan kepalanya.
"Apa sudah lebih baik." ucap Daniel, dengan tangannya yang masih berada di kepala Celine.
"Ya. terimakasih." ucapnya pelan.
Daniel merebahkan tubuhnya di kamar yang bersebelahan dengan Celine. Dan secara perlahan dia memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak, namun ternyata dia malah tertidur pulas.
Tanpa ia sadari Celine memperhatikan dia sejak tadi, lalu Celine mengambil kesempatan itu untuk memulai aksinya.
Celine ikut berbaring disebelah Daniel dengan perlahan-lahan. Dan mengambil posisi dengan begitu dekat seolah mereka memang sengaja tidur bersama. Celine memberi kode pada orang suruhannya untuk memotret mereka dan kembali mengirimkannya pada Nayna.
CEKREK
Celine tersenyum senang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada Nayna. Dia bisa membayangkan wajah Nayna yang pastinya akan menangisi nasibnya.
***BERSAMBUNG......
****
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH*** "