MY DESTINY

MY DESTINY
episode 4



Tidak terasa sudah seminggu aku berada di kota A.. Aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di kota A, handphone ku berdering kulihat ada pesan disana "dari Adrian aku tersenyum sendiri jujur aku sangat merindukan dirinya sikap dan perhatiannya membuatku merasa nyaman berada di sisi nya kubaca pesan dari Adrian


Adrian " Sayang maaf baru sempat mengirimkan kabar, aku sibuk beberapa hari ini


aaliya "gpp sayang aku ngertiin ko


Adrian " aaliya sayang Papa ku mengirim ku kuliah ke luar negeri, untuk beberapa waktu aku mungkin tidak bisa menghubungimu, tapi aku harap kamu bersabar.. Aku akan kembali untuk kamu aaliya


aaliya " kenapa tiba-tiba sekali? bukankah kau sudah mendaftar kuliah di kota B


Adrian " itu keputusan Papaku tidak apa aku yakin itu untuk kebaikanku


aaliya "tapi gabisa hubungin kamu dong sayang.. dengan nada suara yang manja..


Adrian " aku janji pasti kembali untuk kamu, sabarlah, sudah yaa aku harus mengurus beberapa persyaratan untuk kuliah take care bee


aaliya "iya sayang bye..


Tanpa sepengetahuan aaliya ternyata Papi nya telah mengetahui hubungan antara aaliya dan Adrian, karena itu Papi nya aaliya meminta kepada Papa nya Adrian agar menjauhi aaliya


sore harinya Papa Enrico terlihat memanggil Enrico ke ruang kerjanya,


Duduk ucap ayahnya Enrico


Enrico pun duduk di sofa yang ada di ruang kerja ayahnya tersebut, sedangkan ayahnya yang sedari tadi duduk di meja kerjanya segera beranjak menuju sofa tempat Enrico duduK


"Papa lihat kau tidak sungguh-sungguh atas perjodohan ini Enrico ucap Papa nya kepada Enrico


" Papa mau aku gimana lagi sih sahut Enrico dengan wajah sedikit kesal


"Lebih dekat sedikit lah dengan aaliya sahut Papa nya Enrico dengan santainya berkata


" Iyaaahhh as u wish Pah jawabnya sambil menghela nafas "udah kan sambil beranjak pergi


" yasudah sana sahut Papa nya sambil tersenyum dalam hatinya berkata "aku akan membuat kau mencintai aaliya nak dan kembali ke meja kerjanya..


Enrico kembali ke kamar menjatuhkan dirinya ke kasur sambil mengusap wajahnya dengan kasar " Haahhh kenapa begitu rumit sih ucapnya kemudian memukulkan tangan nya ke kasur tempat dia berbaring tidak lama terdengar handphone Enrico berbunyi ada pesan, dilihat nya nama yg tertera di layar My bee (nama panggilan Enrico untuk Diana)


Diana "sayang malam ini jadi kan kita keluar nonton


Enrico membalas pesan Diana sambil sedikit tersenyum bahagianya dia mengetahui kekasih nya itu mengajaknya keluar, kebetulan malam ini malam minggu juga


Enrico " Ya jadi lah bee jawabnya


Diana " jemput yah sayang, kita nonton yang jam berapa


Enrico "yang jam 8 malam aja ya bee


Diana " iyah sayang aku tunggu muach ucap Diana sambil memberikan sebuah ciuman pada Enrico


Enrico "iya bee muach ucap Enrico


Malam harinya setelah makan malam Enrico bersiap berangkat menjemput kekasih nya, dia berpakaian rapi dengan kaos abu-abu celana jeans dan tidak lupa memakai topi dia melewati ayah, ibu, dan aaliya yang sedang mengobrol di ruang keluarga.. Belum sempat melangkahkan kakinya keluar Papa nya Enrico pun memanggil


" Mau kemana kamu ucap Papa nya Enrico


"keluar Pah sama temen sahutnya sambil berjalan


" tunggu dulu ucap Papa nya Enrico menghentikan langkah kaki Enrico


"apa lagi sih Pahh sahut Enrico dengan nada malasnya


" ajak aaliya keluar denganmu kasihan kan sudah seminggu lebih dia disini ga pernah kamu ajak keluar


"tapi aku udah janji dengan teman Pah sahut Enrico dengan nada yg malas


" tuh kan dianya ajah gamau ikut seru Enrico


"udah jangan membantah! ajak aaliya denganmu ucap Om Pras dengan nada tegas


" aaliya pergi bersiap-siap ujarnya padaku


aku tidak ingin banyak berdebat karena kulihat raut wajah Om Pras sudah menunjukan kekesalan


"yaudah cepet sahut Enrico padaku dengan nada sedikit jutek


setengah berlari aku menuju kamar, aku memakai kaos tanpa lengan yang kemudian ku tutupi dengan jaket, dan celana jeans yang senada sementara aku mengikat rambutku ke atas aku sedikit berdandan memakai bedak dan lipstikkarena aku gak pede, aku lihat Enrico tadi sangat tampan dan rapi


Aku dan Enrico masuk ke dalam mobil, saat mengemudi aku memberanikan bertanya padanya "kita mau kemana sih Rico tanyaku


" udah diem! bawel amat sih sahut Enrico dengan nada yang jutek


"akupun terdiam karena percuma berdebat dengan nya


mobil memasuki sebuah cluster mewah dengan sampai didepan sebuah rumah yang mewah Enrico pun turun sambil berkata " loe tunggu disini awas kalo ikut masuk!!


"iyaa jawabku dengan agak berteriak karena kesal


Enrico menekan bel tak lama kemudian keluar seorang wanita cantik dengan dress terusan warna biru yang indah..


" kita berangkat sekarang sayang ucap Diana pada Enrico


"iya bee tapi aku ga sendirian tuh ucap nya sambil menunjuk ke arah mobil


" ko kamu ngajak dia sih sayang sahut Diana manja sambil mengerucutkan bibirnya


"Papa yg suruh dia ikut, aku ga bisa bantah bee kata Enrico


" hmmm Diana menarik nafas yg langsung di barengi dengan menggandeng tangan Enrico menuju mobil


sesampainya di mobil Enrico membukakan pintu di samping nya padahal tempat duduk itu sudah di tempati aaliya "pindah loe ke belakang ucapnya jutek pada aaliya


dengan malas aaliya pun pindah ke belakang " kalau tau akan begini males aku ikut ujarnya dalam hati..


Tiba di bioskop mereka duduk bertiga dengan Enrico berada di tengah, Enrico mengambil tempat duduk agak ke pojok, kebetulan tidak terlalu banyak penonton di bioskop setelah hampir berjalan setengah film yang di putar tiba-tiba Enrico mencium bibir Diana dia mengecupnya dengan mesra sambil ******* bibir Diana dan sedikit menggigitnya "aw sakit Rico ucapnya tapi Enrico tidak melepaskan ciumannya dari bibir Diana. Mendengar suara Diana membuatku terpaksa melihat adegan mereka aku agak sedikit terpana sebentar melihat adegan di sebelahku, entah apa yang kurasakan saat melihat Enrico mencium wanita itu tapi aku tidak menyukainya, setelah agak lama aku melihat aktifitas mereka bermesraan, aku kembali mengarahkan pandanganku pada layar film " jujur selama berpacaran dengan Adrian aku tidak pernah berciuman, kami hanya bergandengan tangan, dan yang terakhir Adrian memelukku saat kami akan berpisah.. Film selesai Enrico mengantarkan Diana pulang, tiba dirumah aku langsung pergi ke kamar tanpa berkata apa-apa aku tidak tahu apa yang kurasakan, tapi aku tidak suka atas apa yang dilakukan Enrico di bioskop tadi, aku langsung berlari kecil menuju kamar, aku tidak peduli di ruang tamu ada Om Pras dan Tante Angy yg melihatku, Enrico menyusulku namun Papa nya menghentikannya,,


"kamu apain aaliya Rico ucapnya.


" Gpp pah cuma salah paham ajah aku mau ke aaliya sebentar


"Papa gak akan segan menarik semua fasilitas yang Papa berikan kalau kamu sakiti aaliya ucap Om Pras


" Nggk Pah udah Rico mau ke aaliya dulu


"Yasudah kamu selesaikan baik-baik ujar Papa nya Enrico


aaliya menangis di kamarnya dia merasa Enrico tidak menghargainya walaupun memang Enrico tidak menyukainya tapi tidak seharusnya sengaja bermesraan dengan wanita lain di depan nya. Enrico masuk ke kamar aaliya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kemudian menutup pintu kamar aaliya, kamar aaliya sangat besar dan masing-masing kamar kedap suara sehingga tidak akan terdengar keluar, Enrico membalikan badan aaliya yang sedang menangis sambil berkata dengan sedikit marah


"Loe sengaja kan begitu depan Papa sama Mama..!! sengaja supaya ge dapet masalah iya ucapnya dengan nada marah


" Loe kalo mau mesra-mesraan gak usah ngajak gw sahut ku loe sengaja kan biar gw liat adegan yang tadi sahut ku sambil sedikit terisak


entah apa yang terjadi tiba-tiba Enrico menarik tubuhku ke arahnya, mendekapku sambil berbisik "bilang ajah kalo loe mau, kemudian menarik wajahku hingga tengadah mengahadap nya kemudian mencium bibirku dengan kasar dia ******* bibirku dan menggigitnya, aku mendorong badan Enrico menjauh tapi tak bisa karena tenaga Enrico jauh lebih besar, yah bisa dilihat dia dari badan nya yang sexy dan bentuk tubuhnya yang athletis dia sering ber olah raga. setelah agak lama Enrico baru melepaskan ciuman nya dari bibirku dia melihat bibirku yang berdarah dan menunjuk ke arah tissue "tuh bersihin ucapnya


" keterlaluan kamu ucapku sambil mendorongnya


"bersikap baiklah jangan buat masalah atau aku akan melakukan lebih dari ini ucapnya sedikit mengancam sambil berlalu meninggalkan kamarku