
*flashback
HARI LAMARAN DARI GILANG
Setelah menyelesaikan pendidikannya di salah satu Universitas di Jogjakarta,Alista memang berencana untuk mencari pekerjaan disana. Namun takdir berkata lain, tiba-tiba saja kedua orang tua Alista memintanya untuk segera pulang.
Alista tidak mengerti sama sekali mengapa akhirnya hari itupun tiba. Hari yang tidak pernah sama sekali terlintas dalam benaknya. Hari yang tidak pernah dia mimpikan sebelumnya, bahkan dia tidak ingin hari itu berlanjut.
Semua orang berkumpul diruang tamu kediaman Arya. Baik dari keluarga Arya maupun keluarga Gilang yang saat itu hendak mengutarakan maksud kedatangannya saat itu.
"Nak Arya. Kedatangan saya kemari. Saya mewakili cucu saya Gilang untuk meminang putri keduamu Alista untuk menjadi pendamping hidup cucu saya Gilang". Begitu kalimat yang diucapkan Eyang dari Gilang yang mewakili seluruh keluarga besar Gilang yang hadir pada saat itu.
Gilang senang. Ia menunjukkan senyum kemenangan khas miliknya.
Entah mengapa dan entah sejak kapan sikap jahil dan usilnya Gilang yang ia tunjukkan kepada Alista selama ini, seketika berubah menjadi rasa sayang yang berlebih kepada wanita itu.
Karena keusilan Gilang terhadap Alista dulu,teman-temannya mengira bahwa mereka adalah pasangan dari lahir. Namun tidak bagi Alista, ia merasa terganggu hingga berubah menjadi rasa benci yang teramat kepada Gilang. Lalu bagaimana bisa kini ia duduk diantara banyaknya orang yang menjadi saksi, seolah dia dengan Gilang adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dan sedang meminta restu kepada keluarga mereka.
Oh tidak, betapa dilemanya Alista saat itu. Ingin rasanya ia berdiri dan berteriak kepada sang Ayah yang dengan senang hati menerima lamaran dari mereka. Jika saja tidak ada Sarah yang duduk disampingnya dan menggenggam tangan Alista erat guna menahan niat Alista untuk angkat bicara disela-sela pembahasan kedua orang tua itu, ia pasti sudah menjadi bahan tontonan orang banyak saat itu juga.
Alista memang keras kepala, ia tidak takut bahkan untuk beradu argumen dengan ayahnya sekalipun. Ia harus menahan desir darahnya yang beradu hingga puncak ubun-ubunnya hingga keluarga besar Gilang meninggalkan kediaman mereka.
"Apa maksudnya ini Ayah?" tanyanya dengan penuh emosi.
"Mereka melamarmu dan kamu harus menikah dengan Gilang dua minggu lagi".
"Apa?? yang benar saja Yah, Ayah tahu kan aku sudah punya Fais. Kalau Ayah lupa." Bantah Alista seraya mengingatkan Ayahnya bahwa dia sudah memiliki kekasih. Padahal tidak jarang Fais mengantar Alista pulang ketika libur semester tiba dan bertemu dengan kedua orang tua gadis itu.
Dia tidak menyangka sama sekali bahkan dalam mimpi sekalipun. Hanya dengan alasan kalau Eyang dari Gilang adalah teman dekat Almarhum Eyangnya Alista, Arya dengan mudahnya menerima lamaran itu. Sungguh pintar memang si Gilang itu dalam memanfaatkan kesempatan, bahkan membiarkan Eyangnya sendiri yang mewakili dirinya untuk meminang Alista.
"Ayah tega. Ayah tega anak kesayangan Ayah menikah dengan orang yang sama sekali nggak Lilis sayangi" keluhnya dengan suara semakin tinggi. Arya hanya diam.
"Nggak. Nggak bisa begini mbak. Pokoknya aku harus ketemu Fais" Ucap Alista mulai parau setelah Arya meninggalkan ruangan itu. Namun ia tidak ingin menangis,ia yakin pasti ada jalan keluar dari semua ini. Dengan segenap harapan yang tersisa ia meminta Sarah untuk mengantar dirinya untuk bertemu Fais, sang kekasih.
Dan benar saja ke esokannya Alista pergi menemui Fais yang memang masih berada di Jogjakarta dengan di temani oleh Sarah dan juga Danu.
Sepanjang perjalanan Alista hanya berdoa agar diberikan jalan keluar meski dia harus menjadi anak durhaka sekalipun menentang keputusan kedua orang tuanya. Hingga sesampainya di kost-an milik Fais dengan gusar ia mengetuk pintu dihadapannya.
Ia segera berlari masuk kedalam pelukan laki-laki itu tanpa ragu. Selain menahan rasa rindu ia juga ingin meluapkan segala keluh kesahnya selama dia jauh dari sang pujaan hati. Tentu saja Fais terkejut mendapati kekasihnya tiba-tiba se agresif itu. Seolah tak ingin lepas dari dekapannya. Apa lagi mendengar perkataan konyol gadis pujaannya
"Fais ayo kita kawin lari" Fais semakin bingung dibuatnya. Apa gerangan yang terjadi pada kekasih tercintanya. Ia usap lembut punggung Alista sampai ia tenang dan sesekali mengecup puncak kepala Alista penuh cinta.
"Ada apa ini mbak?" tanya Fais kepada Sarah yang membututi Alista dan menyaksikan adegan mereka sedari tadi. Namun Sarah membisu seolah itu bukan urusan dirinya.
Fais membawa Alista nya duduk agar ia menceritakan ada apa gerangan hingga membuat dirinya seperti ini. Alista pun tanpa ragu menjelaskan semuanya. Dan benar dia sangat terkejut, seketika otaknya berhenti berfikir, darahnya berhenti mengalir seolah ia tertimpa benda berat didada dan kepalanya.
Apa yang harus dirinya lakukan. Ia genggam erat kedua telapak tangan kekasihnya itu.
"Ara.... denger aku. Pernikahan itu bukan hal untuk main-main. Aku nggak mungkin menikahi kamu dengan kondisi aku yang sekarang ini. Kamu tahu kan aku hanya seorang anak yatim piatu yang bersekolah saja harus mengandalkan bea siswa. Apalagi aku baru saja lulus dan belum mendapatkan pekerjaan. Bagaimana aku bisa menikahi kamu. Sedangkan tanggung jawab seorang suami itu besar. Bukan hanya kebutuhanku seorang yang aku tanggung tapi kamu juga. Apa kata orang tua kamu kalau aku yang hanya orang kecil ini dibandingkan dengan seorang Gilang. Aku hanya seekor semut yang tak terlihat" jelas Fais panjang lebar setelah kepalanya mampu berfikir kembali. Sungguh dalam hatinya berat harus melepaskan gadis pujaan hatinya itu.
Alista menggeleng pasrah seolah tak percaya dengan penuturan Fais. Kenapa? Kenapa harapan satu-satunya pun tidak mampu mengeluarkan dirinya dari belenggu dilema yang ia rasakan saat ini. Alista sangat benci posisi ini.
"No...." Alista merasa seperti mimpi. Ia raih wajah kekasihnya itu,di kecupnya bibir Fais. Ia lumat penuh cinta. Mungkin ini menjadi ciuman terakhir mereka sebagai sepasang kekasih. Fais pun tanpa ragu membalas kecupan demi kecupan yang Alista berikan. Ia dekap erat tubuh mungil itu. Ia hirup segala aroma yang ada pada tubuh kekasihnya. Yang nantinya akan sangat dia rindukan setelah hari ini.
"Jadi. Kamu merelakanku? Kamu melepasku? Aku kecewa padamu sayang. Jangan pernah menyesali keputusanmu ini" dengan berat Alista bisikan kalimat itu didaun telinga kekasihnya disela-sela pelukan mereka. Fais hanya diam.
Berat memang, namun harus bagaimana lagi. Dia tidak memiliki suatu hal yang bisa ia banggakan jika ia dengan berani menantang keputusan Arya. Ia hanya bagaikan butiran debu yang tidak mungkin bisa hinggap ataupun masuk kedalam dunia Alista.
... flashback off