MY DESTINY

MY DESTINY
episode 53



"HAPPY READING"


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA.


***


Meningioma adalah tumor yang terbentuk di meninges, yaitu selaput pelindung otak dan tulang belakang. Tumor ini biasanya terjadi di otak, namun juga bisa tumbuh di tulang belakang. Penyakit itulah yang sedang diderita oleh Saina sejak lama. Namun dia merahasiakannya. Tidak ada satupun yang mengetahui tentang penyakit nya.


"Sudah ku katakan kau harus menemuiku setidaknya sebulan sekali Saina, kenapa setelah penyakitmu kambuh kau baru mau datang kemari." ucap dokter Reyyan kesal. Dokter Reyyan adalah dokter pribadi Saina, sekaligus teman baiknya.


"Sudah jangan banyak bicara, lebih baik kau obati saja aku." jawab Saina santai, namun dokter Reyyan tahu saat ini Saina sedang menahan sakitnya. Karena dia tahu betul sifat Saina yang selalu menutupi lukanya, dengan senyuman ceria diwajahnya.


Dokter Reyyan menghela nafas panjang. "Sampai kapan kau ingin merahasiakan ini Saina? Keluargamu juga berhak tahu tentang penyakitmu." ucap dokter Reyyan sendu.


"Entahlah ... Aku masih belum siap mengatakannya, aku hanya tidak ingin mereka khawatir." ucap Saina menatap lurus, belum siap melihat reaksi orang tuanya. Apalagi ibunya, pasti ibunya sangat terpukul jika sampai mengetahuinya.


Dokter Reyyan menipiskan bibirnya mendengar penuturan Saina. Dia bingung bagaimana cara menjelaskan nya, bahwa kondisi nya saat ini malah semakin memburuk. Sangat jauh sekali kemungkinan bagi Saina untuk sembuh.


"Saina, dengarkan aku baik-baik. Mulai sekarang kau harus memeriksakan kondisimu rutin seminggu sekali untuk melihat perkembangan nya. Jika tidak, maka aku tidak akan menjamin untuk tidak memberi tahukan pada keluargamu, kau mengerti." ucap dokter Reyyan dengan raut wajah seriusnya.


Dokter Reyyan sengaja mengancam Saina agar dia lebih peduli tentang kesehatannya.


"Baiklah-baik, dokter cerewet. Huh ... Dasar tukang mengancam. Jika saja kau tidak tau rahasiaku, aku tidak akan mau menemuimu." ucap Saina ketus. Meski begitu Saina sangat bersyukur ada dokter Reyyan selalu di sampingnya. Bukan hanya sebagai dokter pribadinya, namun juga sekaligus teman baik yang cukup sabar dalam menghadapi tingkahnya.


Dokter Reyyan hanya menggeleng kepala dan tertawa kecil menanggapi ucapannya. Menghadapi Saina dengan sifat keras kepalanya tidaklah mudah, jika tidak dengan sedikit ancaman. Jika saja Saina bukan teman baiknya dari dulu, mungin dia tidak akan seperduli ini pada pasien, Apalagi pasien seperti Saina.


"Dokter Rey, Apa aku bisa sembuh?" ucap Saina sendu, yang membuat dokter Reyyan kaget mendengar nya. Baru kali ini dia merasa bahwa Saina lebih perduli dengan penyakitnya. Selama ini dia tidak pernah menanyakan hal itu.


Dokter Reyyan terdiam. Dia bingung bagaimana harus menjawabnya, sebuah ucapan yang sangat tidak ingin dia ucapkan pada Saina. Tapi kali ini Saina cukup mendesaknya untuk mengatakannya.


Saina tersenyum kecut melihat ekspresi Dokter Reyyan, "Aku sudah tahu jawabannya dokter. Tidak apa-apa. Setidaknya aku bisa memanfaatkan sisa waktuku sebaik mungkin." ucap Saina tersenyum seolah itu bukanlah masalah besar baginya. Dokter Reyyan merasa tenggorokannya tercekat mendengar ucapan Saina.


"Kau harus semangat Saina, kau pasti akan sembuh." seru dokter Reyyan memberi semangat pada Saina untuk menguatkan nya.


Saina menipiskan bibirnya. "Aku tidak ingin berharap dokter. Jika memang takdirku begitu, maka aku akan menerimanya dengan lapang dada." ucap Saina datar. Dokter Reyyan menyadari bahwa ucapan Saina sudah pasti tidak sesuai dengan isi hatinya.


"Kau bisa dengan mudah mengatakan hal itu, tapi hatimu sangat sulit menerimanya bukan? Saina! Kau mungkin merasa hidupmu tidak begitu penting, tapi pikirkan ada banyak orang yang menganggap dirimu sangat penting dan begitu berarti. Setidaknya perjuangkan hidupmu untuk mereka." ucapnya mencoba memberi pengertian serta dukungan pada Saina, meski dia tahu bahwa Saina tidak akan menanggapi ucapannya dengan serius.


Saina berkerut heran melihat dokter Reyyan yang begitu bijak. "Kenapa kau jadi begitu bijak? Memangnya dari mana kau mendapatkan kata-kata itu? Jangan bilang kau merasa kasihan padaku ya?" ucap Saina sedikit menggoda Dokter Reyyan.


"Ck, aku mendapatkan nya dari drama korea yang aku tonton tadi malam. Bagaimana? apa kau suka dengan kata-kata ku. Atau hatimu yang seperti batu itu mulai tersentuh." ucap dokter Reyyan yang sangat pandai bergurau untuk menghibur Saina.


"Tidak,... Hanya saja aku sedikit aneh mendengar nya langsung dari mulutmu." jawabnya sambil tertawa kecil.


***


"Bagaimana Celine? Apa kau suka dengan gaun itu?" tanya Nayna, menunjuk gaun rancangannya dengan punggung terbuka, yang dihiasi gliter premium dan banyak mutiara.


"Tidak. Gaun itu terlihat sangat kampungan!" ucap Celine seolah menatap jijik kearah gaun itu.


"Kalau begitu, cobalah yang ini ..."


Nayna menunjukan lagi gaun terbaiknya yang terlihat glamor dan sangat menawan. Tapi sama seperti tadi, Celine menolak nya mentah-mentah, bahkan malas untuk melihatnya kali ini. Nayna masih sabar menghadapinya. Dan menunjukan lagi rancangan yang lainnya.


"Aku ingin yang seperti ini!" ucapnya menunjuk gaun yang berwarna silver tanpa lengan dan belahan di pahanya. "Tapi kau harus sedikit mengubahnya. Dengan menambah banyak mutiara di gaun ini, dan juga kau harus mengurangi gliter yang terlihat berlebihan ini." tambahnya lagi.


"Tapi Celine, untuk menambah mutiara yang banyak itu membutuhkan waktu yang cukup lama, kami tidak bisa sembarangan menaruhnya, harus mencari tempat yang cocok. dan juga mengurangi gliternya akan sangat sulit. Akan sangat beresiko gaun ini rusak nantinya. Bagaimana jika kau pilih yang lain saja?" ucap Nayna menjelaskan.


"Tapi gaunmu yang lain tidak ada yang sesuai dengan tipeku, yang lain terlihat jelek dan kampungan. Aku tidak menyukai nya."


Nayna mempertimbangkan keinginan Celine. Dia bingung bagaimana caranya memberi pengertian pada Celine, bahwa melakukan itu tidak mudah. Akan memakan banyak waktu, sementara ajang international sebentar lagi. Nayna belum melakukan apapun untuk rancangannya. Nayna menghembuskan nafas gusarnya. "Baiklah ... akan aku usahakan." ucapnya pelan, namun dia sendiri ragu dengan ucapannya.


Celine tersenyum senang mendengar nya. Rencana nya berhasil, jika dia membuat Nayna sibuk dengan gaunnya. Dia yakin hal itu akan membuat Nayna lupa akan hari ulang tahun Daniel besok. Dan juga akan menunda untuk menyelesaikan rancangan saat ajang international nya, yang pastinya membuat Daniel mengalami kerugian karena kehilangan sponsor. Tentu hal itu akan di manfaatkan nya untuk memprovokasi mereka agar hubungannya merenggang.


"Baiklah Nayna, aku harap kau tidak mengecewakan ku. Selamat bekerja." ucapnya segera melenggang pergi dengan perasaan puas.


***


HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA


JANGAN LUPA KASIH


LIKE 👍


KOMENTAR 😀


BINTANG 5


FAVORITE


KOIN


DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN


JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH "