
"Nayna. Maaf aku tidak memberitahumu terlebih dulu tentang masalah ini. Aku hanya tidak ingin Celine melakukan tindakan yang lebih jauh." ucap Daniel lembut. Dengan tatapan sendu.
Nayna tidak menjawab, hanya tersenyum hangat sebagai tanggapan nya.
"Jadi ... Apa sekarang kau mau menikah denganku?" ucap Daniel dengan nada menggoda, namun terlihat kesungguhan dari wajahnya.
"Kamu akan selalu memberiku kekuatan, sebelum atau setelah menikah. Karena itulah aku memilihmu untuk hidup hingga tua bersamamu. Maukah kau menjadi pendamping hidupku sampai usai waktu?" tambahnya lagi.
Nayna tersenyum malu mendengar nya. Daniel mengangkat wajah Nayna dan memberikan kecupan singkat disana. Daniel menempelkan keningnya pada kening Nayna dan berbisik parau.
"Aku anggap ini sebagai jawaban 'iya' darimu. Lagi pula aku tidak menerima sebuah penolakan."
Nayna mengangguk cepat dan tersenyum haru. Seakan ucapan Daniel bagaikan sebuah mimpi baginya.
"Beberapa waktu telah kita lewati. Banyak yang sudah dilalui bersama. Tidak mudah memang. Tapi, aku selalu heran. Segala kesulitan bagiku seperti tak apa asal itu tentang kamu. Boleh saja, bila mendapatkan kesulitan yang besar jika itu bersamamu. Tapi, bukankah segala hal di dunia ini selalu diterima dengan konsekuensi? Tidak ada kesulitan yang berdiri sendiri. Kesulitan selalu seiring dengan kebahagiaan."
"Aku bersedia untuk menjadi yang terakhir bagimu? Dan aku bersedia untuk melangkah menghadapi dunia ini bersamamu Daniel." ucap Nayna lembut dengan mengangkat wajahnya. Kali ini dia memberaniakan diri untuk menatap Daniel.
"Terimakasih Nayna. Aku sangat bahagia memiliki mu. Aku berjanji dengan segenap jiwa dan ragaku, aku akan menjagamu dan anak-anak kita kelak."
"Aku juga berterimakasih karena kau telah memilihku. Entah mengapa aku juga merasa tidak kalah beruntung." ucap Nayna dengan wajah menggoda.
Daniel mencubit gemas pipi Nayna dan kembali membawa Nayna kedalam pelukannya. Seakan mereka tidak sabar untuk menanti hari esok yang membuat mereka akan segera hidup bersama dan membangun rumah tangga bersama-sama.
Nayna menipiskan bibirnya saat mengingat satu hal.
Alika.
("Bagaimana dengan anak itu? Apa dia bisa menerima Daniel sebagai pamannya? Apa alika tidak keberatan dengan kehadiran Daniel. Bagaimana pun juga, dia membutuhkan pendapat Alika mengenai ini.") batinnya. Namun Nayna mencoba untuk membuang semua fikiran buruk. Nayna yakin Alika pasti akan menerima Daniel, lagi pula Daniel meninggalkan kesan baik baginya.
***
"Apaaa .... Yang benar mbak?" ucap Sassy tidak bisa menahan keterkejutannya.
Nayna mengangguk cepat dengan senyuman malu-malunya.
"Wah selamat ya ... Aku ikut bahagia untukmu mbak." ucap Sassy memeluk erat Nayna.
"Terimakasih Sassy. Tapi ... Bagaimana dengan Alika, apa dia menyetujui nya?" tanya Nayna sedikit ragu.
"Alika itu anak yang baik mbak. Pasti dia juga setuju. Mbak hanya perlu memberitahunya secara perlahan." ucap Sassy lembut.
"Baiklah, aku juga berfikir seperti itu." jawabnya.
Baru saja mereka tengah membicarakan Alika. Sosok Alika muncul dari balik pintu, bersamaan dengan Bibi Eli dibelakangnya.
"Alika. Kau sudah pulang?"
Tanya Nayna segera bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Alika.
"Iya bibi ..." jawabnya sembari menampilkan senyuman manis dibibirnya.
"Ayo ... Bibi bantu mengganti pakaianmu."
"Bibi ... Ika sudah besar. Bibi tidak perlu melakukan hal itu." jawabnya sembari mengerucutkan bibirnya.
Nayna semakin gemas melihatnya. "Benarkah? Baiklah kalau begitu. Bibi hanya akan memastikan apa Ika benar sudah besar atau masih seperti gadis kecil yang lucu." ucap Nayna menarik pelan tangan Alika untuk menuju kamarnya.
Sedangkan bibi Eli dan Sassy hanya menggeleng melihat kelakukan mereka. Sassy segera pergi dari rumah Nayna saat melihat pesan dari Hans, bahwa dia ada dirumahnya.
"Haiiissss .... Sedang apa orang ini dirumahku?" gumam Sassy dengan wajah kesal. Tapi meski begitu Sassy tidak bisa memungkiri, ada rasa senang juga dihatinya dengan kehadiran Hans.
****
Nayna melangkah pelan mendekati Alika saat merasa itu adalah momen yang pas untuk membicarakan pernikahannya.
"Em ... Alika," panggil Nayna dengan suara lembutnya. Alike langsung menoleh kearah bibinya itu.
"Iya bibi?" sautnya menampilkan wajah yang begitu polos.
"Alika, apa Ika tidak keberatan jika bibi menikah dengan paman Daniel?" ucapnya dengan sedikit ragu.
Alika menatapnya datar dengan sedikit kerutan dikeningnya. Seakan bingung pada bibinya ini, kenapa harus meminta persetujuannya.
"Apa bibi mencintai paman Daniel?" tanya Alika
menuntut. Nayna mengangguk pelan dengan menipiskan bibirnya. Takut jika Alika belum bisa menerima kehadiran Daniel diantara mereka. Bagaimana pun juga, Nayna sangat memikirkan kenyamanan keponakannya yang satu ini.
"Jika Ika tidak setuju. Apa bibi marah pada Ika?" tanya Alika lagi. Kali ini dengan wajah lugunya yang tak berdosa.
Nayna menghela nafas dan tersenyum hangat padanya serta menggeleng lemah. "Tentu tidak, sayang ... Bibi akan menundanya dan menunggu sampai Ika setuju." jawabnya sembari mengelus lembut rambut Alika dengan penuh kasih sayang yang tulus.
Meski sedikit kecewa, namun Nayna tetap menghargai pendapat keponakannya itu. Diumur Alika yang baru 10 tahun, wajar jika dia tidak nyaman dengan kehadiran orang asing. Meski selama ini Daniel dan Hans yang bertemu dengan Alika sesekali. Ternyata hal itu belum cukup untuk membuat Alika nyaman.
Namun semua pemikiran itu terbuyarkan saat Nayna melihat wajah Alika yang tersenyum ceria. Nayna menatapnya bingung.
"Bibi ... Alika sangat menyayangi bibi. Mana mungkin Ika tega membuat bibi bersedih. Apapun yang membuat bibi bahagia, maka Ika juga ikut bahagia bersama bibi. Lagi pula ... Paman Daniel itu baik, Ika yakin paman pasti akan membuat bibi bahagia." ucapnya begitu lancar seperti membaca sebuah teks. Bahkan ekspresi wajahnya tidak terlihat seperti anak kecil yang polos. Pemikirannya sangatlah jauh diatas umurnya yang semestinya. Nayna sampai ternganga mendengar ucapannya. Seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja keponakan kecilnya ini katakan. Nayna sampai terdiam mencerna dan mengulang-ulang setiap kata yang keluar dari mulut Alika.
"Bibi ... Ika setuju bibi menikah dengan paman Daniel." ucapnya lagi.
"BIBI ...."
Pekik Alika menyadarkan Nayna dari lamunannya. Nayna tidak tahan untuk memeluk gadis kecil ini dan tersenyum haru. Perasaannya kini menjadi lega, Nayna menatap Alika dengan pandangan kasih sayang seorang ibu pada anak nya.
"Terimakasih sayang ... Bibi sangat menyayangimu." ucap Nayna tidak hentinya mengecup puncak kepala Alika dan memeluknya erat.
****
***BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH**********