
"Aku butuh penjelasan mas! Siapa wanita itu?"
Ucapku dengan nada mulai tinggi.
Segala teror dari Gilang masih terngiang dalam ingatanku. Apa-apaan sekarang ini?. Aku mencoba untuk percaya kepada suami ku sendiri tapi Tuhan mempunyai rencana lain. Aku benar-benar tidak ingin gagal dalam rumah tangga ku kali ini.
Mas Azri menghampiriku, dia mulai mendaratkan bokongnya ditepi tempat tidur kemudian dia membuka lagi dompet miliknya.
"SIAPA DIA MAS? "lihat lah dia diam saja. Aku sudah tidak bisa menahan emosiku. Apa gunanya aku sabagai istri kalau dia masih memiliki orang lain.
"Dia mantan istri ku, lis. Maaf aku lupa masih menaruhnya disini! " jelas mas Azri santai.
"Lupa?" Tanyaku dengan nada sinis.
"Kamu lupa mas. Ada aku disini dan kamu masih saja mengingat masa lalu kamu. Dia mantan yang mana yang keberapa, hah? Ucapku mulai parau. Sungguh mengapa hatiku rasanya teriris. Aku mencoba sekuat mungkin untuk menahan air mata ku. Aku tidak pernah merasa seperti ini. Dulu bahkan saat bersama Gilang aku benar-benar tidak sudi rasanya untuk mengeluarkan air mataku. Tapi ini sakit, benar-benar sakit. Apa ini balasanmu Tuhan karena aku telah menyia-nyiakan AmanahMu sebelum ini? .
"Ayo ikut aku" Mas Azri menarik lenganku.
"Kemana mas. Kamu bahkan belum menjawab pertanyaan ku tadi"
Sekarang apa lagi? Apa dia akan memarahiku, menyiksaku karena aku memergoki dia masih menyimpan foto mantannya itu.
Mas Azri menstarter sepeda motornya. Apa dia akan membawaku ketempat sepi lalu membunuh ku kemudian membuang mayatku dilaut seperti di film-film? . Oh tidak otakku sudah mulai parno.
"Ayo naik"
Aku mengernyitkan dahiku.
"Ayo aku akan menjelaskan semuanya" tutur mas Azri.
"Memang mau kemana. Kan bisa bicara disini"
Dia tidak menjawab, dengan cepat ia menarik tanganku memberi isyarat agar segera duduk dijok sepeda motor belakang mas Azri.
"Kita mau kemana mas?" tanyaku lagi di tengah perjalanan. Aku bahkan sampai lupa kalau aku sedang marah dengan suamiku ini.
"Nanti kamu akan tahu!"
Aku memilih diam, sudah tidak ada tenaga lagi untuk berbicara dengannya.
Sampai mas Azri memberhentikan sepeda motornya pelataran sebuah rumah sederhana. Rumah siapa ini? Hatiku bertanya-tanya.
"Ayaaaaaaah" panggil bocah itu kepada suamiku.
Apa? Ayah? Kejutan apa lagi yang akan kamu berikan untukku mas?. Aku mencoba stay kalem disini. Tidak mungkin kan aku bertengkar dengannya lalu menangis dirumah orang.
Mas Azri menggendong bocah itu kemudian masuk kedalam rumah dan aku membuntutinya. Entah apa yang suamiku katakan pada bocah itu aku asik sendiri dengan fikiranku.
Deg
Tubuhku semakin gemetar aku melihat seorang wanita menggendong bayi. Apa maksudnya ini.
Tiba-tiba tangan kekar mas Azri merangkul pundakku dan membawaku menghampiri wanita itu.
Awalnya aku sempat berfikir, apa mas Azri mau menjadikan aku seorang ibu sambung bagi anaknya. Namun kali ini yang aku lihat ada seorang wanita dengan bayi di gendongannya. Apa mungkin mas mas Azri menjadikan aku madunya.
"Ini istri baru kamu Zri? Cantik ya?" ucap wanita itu seraya meraih sebelah kanan pipiku dan mengelusnya lembut. Aku membalasnya dengan senyum.
"Iya mbak. Ini Alista istriku"
Maz Azri menatapku "Lis. Ini mbak dari Almarhumah istriku dan mereka anak-anakku. Ini Putri dan itu Adit" tunjuk suamiku pada anak yang dipangkuannya dan digendongan wanita itu secara bergantian.
"Lalu ibu mereka?" Rasa penasaran membuat bibirku tidak tahan.
"Sudah meninggal saat melahirkan Adit" Ucapan mas Azri membuat jantungku berdegup kencang. Aku memang pernah mendengar kalau mas Azri pernah menikah dan aku tidak peduli itu. Karena aku berfikir toh aku juga bukan gadis lagi bukan, tapi aku tidak tahu kalau dia sudah punya anak.
Apa yang kamu lakukan mas? . Aku sungguh tidak habis pikir harusnya kamu mengenalkan mereka sebelum aku menikah denganmu.
Bukan hanya itu saja bahkan dia mengatakan kalau dia juga memiliki seorang anak dari istri pertamanya.
Dan lagi-lagi dia mengejutkanku dengan ucapannya kalau dia tidak begitu menantikan kehadiran seorang anak dari rahimku dengan alasan dia sudah mempunyai banyak anak. Tuhan inikah balasan untukku karena tidak bersyukur atas kehadiran Gilang saat itu.