MY DESTINY

MY DESTINY
episode 82 KERINDUAN ALIKA



Nayna berjalan dengan langkah cepat memasuki kantor Kendrick. Bahkan Nayna tidak memperdulikan tatapan para karyawan Kendrick yang berbisik-bisik menghujatnya. Pandangan Nayna hanya lurus kedepan dengan raut wajah dinginnya. Suara langkah kakinya terdengar jelas, membuat seisi kantor itu memperhatikannya.


Langkah Nayna sudah hampir sampai keruangan Kendrick.


"Saya ingin bertemu Kendrick." ucap Nayna berbicara pada sekretaris Kendrick yang berada didepan ruangannya. Agak aneh bagi sekretarisnya itu, sebab Kendrick biasanya yang membawa Nayna kesana. Tidak pernah sekalipun Nayna yang datang sendiri menemuinya.


"Maaf nyonya. Tuan Kendrick sedang ada tamu penting didalam ruangannya." ujar sekretaris itu.


"Baiklah aku akan menunggu sebentar." jawab Nayna menuju keruang tunggu. Namun langkahnya terhenti saat mendengar gelak tawa dari dalam ruangan Kendrick. Nayna mengernyitkan dahinya. Dengan rasa penasaran, Nayna mendekatkan telinganya dan membuka sedikit pintu ruangan itu. Nampak Kendrick yang sedang duduk santai sembari memegang gelas wine, ditemani oleh Thomy yang duduk dihadapannya.


"Wah .. Kendrick, kau sangat hebat. Bagaimana bisa kau merencanakan hal segila ini. Bagaimana jika wanitamu itu kabur." ujar Thomy dengan sinis.


"Dia tidak akan bisa kabur. Ada sesuatu pada diriku yang membuatnya terjerat hingga tidak bisa berbuat apa-apa." saut Kendrick menaikkan sudut bibirnya, seakan membanggakan kepintarannya dalam merencanakan hal itu.


Nayna masih setia mendengar setiap pembicaraan mereka disana dengan raut wajah datarnya. Seakan tersadar bahwa saat ini Kendrick telah mempermainkan rumah tangganya habis-habisan.


"Lalu Bagaimana dengan tuntutan itu? Aku dengar pengacaramu tidak sanggup melawan pengacara Daniel."


"Kasus itu telah dicabut. Nayna menuruti keinginanku untuk hal itu. Sekarang aku bebas !"


Thomy nampak terkekeh mendengar itu. "Lalu apa kau akan melepaskannya setelah ini. Bukankah kau sudah berjanji padanya?" Thomy menyipitkan matanya memperhatikan gelagat Kendrick yang mengubah ekspresi nya mendengar pertanyaan Thomy yang satu ini.


"Sampai matipun aku tidak akan pernah melepaskannya. Nayna hanya milikku. Tidak ada yang bisa mendapatkannya selain aku. Dan untuk video itu ... Aku akan tetap menyebarkannya. Daniel harus melihat video itu dan menceraikan Nayna. Itulah tujuanku." ujarnya datar.


Nayna tersentak kaget mendengarnya. menggeleng tidak percaya bahwa Kendrick akan berbuat sejauh itu. Nayna memundurkan tubuhnya dan menutup mulutnya karena begitu syok.


Tadinya Nayna pikir bahwa masalah ini akan segera berakhir. Namun ternyata dia salah. Kendrick telah merencanakan ini semua dengan matang. Dengan tujuan yang tidak lain, yaitu menghancurkan rumah tangganya. Air mata Nayna mengalir deras membasahi wajahnya. Dengan langkah cepat dia segera pergi dari kantor itu. Mencari jalan keluar lain untuk menyelamatkan rumah tangganya yang berada diujung tanduk.


Nayna memutar otaknya untuk berfikir Bagaimana cara mengakhiri masalah itu tanpa diketahui oleh Daniel. Nayna tidak hentinya terisak memikirkan suami dan anaknya yang bisa kapan saja meninggalkannya. Daniel adalah dunianya, sementara Aksha adalah nafasnya. Nayna tidak akan bisa hidup tanpa salah satu dari mereka, apalagi keduanya.


Nayna mengusap air matanya dan memilih untuk pulang kerumah. Dengan langkah gontai. Wajahnya nampak kusut dan dipenuhi oleh banyaknya pikirkan buruk. Batinnya seakan menjerit menangisi takdirnya yang seakan memberi ujian tiada henti.


***~


"Dimana aku?" lirih Alika mulai mengumpulkan kesadarannya.


"Kau berada di panthouseku adik kecil." saut pria yang sedang duduk sembari menyeruput kopi dengan santai.


Alika menajamkan penglihatannya, mencoba mengingat kembali pria yang berada dihadapannya ini.


("Bukankah pria ini yang tadi menculiknya?") batinnya. Alika membesarkan matanya ingin kembali berteriak, namun dengan sigap pria menutup mulut Alika dengan tangannya.


"Ssstttt ... Kenapa kau suka sekali berteriak. Suaramu itu membuatku kepalaku serasa ingin pecah !!"


Alika mencoba melepaskan tangan yang cukup besar untuk menutup mulutnya yang kecil itu. Namun usahannya gagal. Alika menggigit dengan sekuat tenaga hingga pria itu meringis kesakitan, dan menimbulkan bekas gigitan ditangannya.


"Aissshhhh ... Kau ini kasar sekali ! Aku hanya menyuruhmu diam !"


"Siapa kau? Kenapa kau menculikku?" tanya Alika sengaja melotot menatapnya.


"Aku tidak menculikmu. Aku hanya membawamu kesini karena aku punya urusan penting denganmu. Berhubung kau tidak bisa diajak baik-baik, jadi aku terpaksa memaksamu." sautnya sembari mengangkat bahunya dengan santai.


Alika mengepalkan tangannya merasa sangat geram. Lalu melemparkan semua benda yang ada disekitarnya pada pria itu.


"Cepat bebaskan aku, aku tidak mau berada disini ! Aku masih terlalu kecil, untuk kau jual." pekik Alika histeris. Pria itu yang tadinya ingin marah karena melempar barang berharganya. Berubah menjadi tergelak tawa. Pria itu tertawa lepas mendengar penuturan Alika yang menurutnya konyol.


"Kau ini pasti kebiasaan membaca novel dewasa ya ! Jangan terlalu sering membaca hal Seperti itu. Nanti kau akan tua sebelum waktunya. Dan kemungkinan lain, kau tidak akan bisa tumbuh besar lagi." ujarnya sembari terkekeh geli. Sementara Alika semakin marah, hingga menggertakkan giginya. Dan kembali melemparkan benda yang nampak berat, jika terkena kepalanya bisa dipastikan kepala pria itu pecah.


"Hey cukup." ujar pria itu menahan tangan Alika agar berhenti melempar benda berharga disana. "Baiklah akan aku jelaskan padamu maksud dan tujuanku. Tapi sebelum itu, aku akan memperkenalkan diriku dulu."


"CUKUP ..."


Alika menghentikan ucapan pria yang bernama Gio itu dengan mengedepankan tangannya. Seakan itu tidak penting untuk didengar.


"Bisa langsung saja ke inti."


"Heheh ... Baik baik. Aku membawamu kesini untuk bertemu dengan ibuku yang juga ibumu. Maksudku ibu tiriku adalah ibu kandungmu. Yah, seperti itulah."


Alika melongo seperti orang linglung mendengar ucapannya yang kurang jelas menurutnya.


"Bisa kau jelaskan dengan benar ! Maksudmu ibumu tirimu adalah ibuku kandungku, memangnya ibu tirimu siapa?" Alika berucap jengkel kearahnya.


"Meycha. Apa kau tidak tahu dengan ibumu sendiri?" ucapnya tersungut-sungut.


Alika membeku ditempatnya mengingat nama itu. Meski dia ingat dengan nama itu, namun Alika masih sangat kecil waktu ditinggal pergi ibunya. Alika bahkan tidak tahu dimana keberadaan ibunya waktu itu.


"Ibumu saat ini sedang sakit. Lebih tepatnya sakit parah. Aku rasa umurnya tidak akan ..."


"Dimana dia sekarang !!"


Lagi lagi Alika menghentikan ucapan Gio, dengan berdiri dihadapannya. Raut wajahnya seakan menuntut. Matanya menatap nanar pria yang berada dihadapannya ini.


"Ikut aku," ujarnya datar. Alika mengikuti langkah kaki Gio yang lebar dengan sedikit berlari. Sembari membayangkan bagaimana wajah ibunya sekarang, setelah hampir sepuluh tahun tidak bertemu.


Mereka telah sampai diruangan khusus dimana Meycha dirawat. Gio memberi isyarat pada Alika agar masuk kedalam menemui ibunya. Alika menatapnya sekilas lalu masuk secara perlahan. Tubuhnya seakan bergetar, entah merasa gugup atau terlalu senang.


Alika membuka pintu itu dan masuk denga satu tarikan nafas yang panjang. Matanya nampak berkaca-kaca, tubuhnya membeku, serta tatapannya penuh dengan kerinduan melihat ibunya yang terbaring lemah diatas tempat tidur dengan tangannya yang dipasang selang infus.


IBU .......


~


***BERSAMBUNG .......


TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.


***


HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA


JANGAN LUPA KASIH


LIKE 👍


KOMENTAR 😀


BINTANG 5


FAVORITE


KOIN


DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN


JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH*****