MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 13



*GILANG



Beberapa hari yang lalu aku pergi ke Ibukota untuk memantau perkembangan bisnis dari salah satu peninggalan Almarhum Eyang disana.



Walaupun aku tidak menyukai orang itu tapi bagaimana lagi aku satu-satunya pewaris yang harus melanjutkan bisnis tersebut. Sebab mama juga sama seperti aku, dia seorang anak tunggal.



Seperti biasa bila aku pergi keluar kota aku selalu temani oleh sahabat ku Anto, tentu saja bukan cuma-cuma, aku akan membayarnya.



Jangan menganggap dia terlalu materialistis terhadap teman, tapi realita yang menuntut. Ah, anggap saja dia asisten pribadi ku. Apalagi aku mengendarai mobil sendiri, akan sangat lelah bila tidak ada yang bisa diajak bergantian menyetir. Bayangkan saja pejalanan Cilacap-Jakarta dan juga sebaliknya.



Tak jarang juga dia memberi aku kritik dan saran dalam rencana bisnis yang aku lakoni. Setelah aku menyelesaikan pekerjaan ku, kami kembali ke Cilacap. Aku merasa sangat-sangat lelah karena banyak hal yang aku urus disana, kami berganti tugas, kali ini Anto yang mengendarai mobil.



Rasanya ingin segera berbaring diatas kasur, aku menyelesaikan pekerjaan dengan segera karena aku tak suka berlama-lama diluar kota. Apalagi beberapa hari ini rasanya aku sangat merindukan Alista, sejak Anto mengatakan padaku bahwa ia menikah lagi pikiranku sungguh kacau. Ingin aku menghampiri Alista dan memeluknya erat tanpa ku lepas kembali.



Saat kami melewati warung sate kesukaan wanita yang aku sayangi itu, aku meminta Anto untuk membeli satu porsi untukku.



Iapun menghentikan mobil dan segera berlalu membelinya. Tak terasa rasa kantuk menyerang ku. Aku memejamkan mataku sejenak.



Tok tok tok



"Lang, Gilang"



Cklek



Betapa terkejutnya aku, Anto tiba-tiba membangunkanku yang sudah terlelap.



"Alista ada didalam"




"Hah?? Apa?"



"Kamu tuh, aku udah chat kamu tadi biar kesana ehh malah tidur. Bur..."


Belum sempat Anto meneruskan kalimatnya aku segera mendorong tubuhnya menjauh agar tak menghalangi jalanku. Aku sudah tidak peduli seperti apa penampilanku saat ini, di otakku hanya ada Alista.



Alista, wanita itu. Wanita yang selama ini aku cintai, yang saat ini sangat aku rindukan.



Dengan langkah panjang aku menghentakkan kakiku. Aku tata hati dan pandanganku saat ini, aku tidak peduli dengan hal lain sampai-sampai aku mengabaikan sapaan dari pemilik warung sate tersebut.



Aku segera mengedarkan pandanganku untuk mencari sosok yang aku rindui itu. Aku menemukannya. Aku melihat dia tersenyum cantik, bukan bukan dia bahkan tertawa bahagia. Namun senyum di bibirku luntur dalam sekejam kala aku menyadari dia tertawa kepada seorang pria dihadapannya. Darahku mendidih sampai puncak kepalaku. Kesal rasanya, cemburu pasti.



Kenapa sayang kamu memberikan tawa bahagia itu untuk orang lain. Bahkan kelembutan yang pernah kamu berikan kepadaku hilang sirna bagai ditelan waktu kala itu. Untuk tersenyum kepadaku saja engkau enggan.



Dengan lantang aku memanggil namanya. Tawa bahagianya seketika berhenti. Iya bagus, begitu. Jangan tersenyum untuk orang lain.



Ku langkahkan lagi kakiku ini agar semakin dekat. Ini aku sayang. Kenapa sayang kau sudah mendengar suaraku bukan, kau pasti mengenalinya tapi mengapa memandangku saja engkau tak mahu. Apa salahku.



Aku semakin geram bukan hanya tak mau mendandangku dia bahkan beranjak pergi dengan pria itu. Apa setakut itu kamu kepadaku Alista. Aku tak mampu berkata apapun aku hanya merindukanmu, aku ingin menyentuh mu, mendekapmu erat.