
Flash back
Diana dan Sanno berada di sebuah pemakaman yang ada di kota ini. Mereka berdua terlihat sedang berdiri melihat makam seseorang yang sangat di kenal oleh Sanno.
" Alex, aku selalu berdoa agar dirimu tenang di alam sana. Aku juga meminta maaf padamu, karna dirikulah kamu sampai seperti ini. Maafkan aku, Alex."
Sanno mengeluarkan air matanya karna merasakan kesedihan kehilangan seorang teman yang selalu membantu dan baik padanya. Sanno selalu menyesal karna sudah melibatkan Alex dalam kisahnya ini, kisah yang harus membuat Sanno kehilangan teman terdekatnya dan juga harus merelakannya.
"Sudahlah Sayang, kamu jangan bersedih seperti itu. Kamu juga harus memikirkan tentang Alex, biarkan dia mendapatkan ketenangan disana. Jika kamu menangisinya itu hanya akan membuatnya tidak tenang."
Diana yang berada di samping Sanno dengan tanggap langsung menenangkan Sanno.
"Ini adalah takdir kita, ini adalah jalan hidup yang harus kita lalui. Kamu adalah sang Shannamara bumi yang akan memimpin seluruh manusia untuk menghentikan Haganara, kamu tidak boleh menyesali takdir ini Sanno. Justru Alex saat ini pun juga menjadi seorang pahlawan karna berkat dirinya yang peduli dengan keresahanmu, kekuatan Shannamara ini berada dalam dirimu. Jika saja saat itu kalian tak melihat patung segel itu, maka yang terjadi adalah musuh kitalah yang akan menguasai patung segel itu. Bawahan Haganara pasti akan menemukan batu itu dan membebaskan kekuatan Haganara terlebih dahulu.
Bersyukurlah atas hal ini Sanno."
Sanno memandang kedua manikmata Diana secara mendalam. Perkataan Diana itu membuatnya mengerti sekarang, seharusnya dia mengatakan terimakasih bukan maaf.
"Terimakasih Diana, kamu selalu membuatku tenang dan selalu menentramkan hatiku."
Sanno langsung memeluk Diana dan Diana pun membalasnya dengan pelukan yang erat. Setelah tiga hari tinggal di dalam pack, Sanno sudah bisa beradaptasi dengan keadaan dan kewajibannya sebagai seorang Alpha. Namun didalam hatinya, Sanno masih merasa gelisah dan selalu memikirkan Alex. Dia memutuskan untuk melihat dan mengunjungi makam Alex.
"Terimakasih Alex, semoga kamu bahagia disana."
Diana melepas pelukannya dari Sanno dan tersenyum kearahnya, Sanno pun juga membalas senyum Diana itu.
"Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan Sanno."
Sanno terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, memang ada hal yang direncanakan Sanno saat ini yaitu membawa keluarganya dan keluarga Alex kedalam pack agar mereka terlindungi. Tapi untuk sekarang Sanno memilih untuk melakukan hal lain.
"Diana, ayo! Aku akan menunjukkan sesuatu padamu."
Diana menatap wajah Sanno dengan raut penuh tanya.
"Menunjukkan apa?"
tanpa menjawab, Sanno langsung meraih tangan Diana dan membawanya pergi dari tempatnya saat ini. Walaupun penasaran tapi Diana tetap diam dan menuruti perkataan Sanno.
"Naiklah kepunggungku,Diana."
Sanno langsung berjongkok mempersilahkan pada Diana untuk naik kepunggungnya.
"Kamu serius mau menggendongku."
Diana langsung memposisikan dirinya memeluk Sanno dari belakang dengan kedua tangannya yang mengalung dileher Sanno. Setelah Diana siap dengan posisinya, Sanno langsung berdiri dan menahan tubuh Diana agar tidak terjatuh.
"Aku hanya ingin menggendong kekasihku ini karna saat nanti kita menikah, aku juga akan menggendongmu lagi kan?"
Pernyataan Sanno membuat kedua pipi Diana merona merah, dia tersenyum membayangkan tentang hal itu.
'Sejak kapan fikiranmu sejorok itu, Diana.'
Moa yang ada di dalam tubuh Diana memberikan komentarnya setelah mengetahui isi pikiran dari wujud manusianya itu.
'Eh bukannya kamu juga menginginkannya? Lagipula itu kan hal yang wajar.'
Moa hanya menghela nafas mendengarkan balasan Diana. Tidak mungkin Moa tidak menerima hal itu, tentang hal ini mungkin Diana dan Moa memiliki kesamaan.
"Pegangan yang kuat Diana, aku akan berlari agar cepat sampai di pack."
Dalam sekejap Sanno langsung melesat secepat kilat masuk kedalam hutan. Kecepatan berlari Sanno bahkan lebih cepat daripada Diana walaupun Diana memiliki kekuatan Ratu Ralleana.
Diana Po
Aku dan Sanno sampai di tempat yang dekat dengan pack saat ini. Entah apa yang ingin ditunjukkan Sanno padaku, dia masih belum berbicara tentang hal itu.
"Diana, sekarang kita berada di jarak 200 meter dari pintu gerbang packfullmoon."
Aku hanya mengangguk menunggu apa yang akan dikatakan Sanno selanjutnya.
Sanno berjongkok lalu meletakkan kedua tangannya ke tanah lalu keluar api merah dan biru dari kedua telapak tangannya yang masuk kedalam tanah. Betapa aku terkejut ketika melihat yang terjadi selanjutnya.
Awalnya muncul sebuah simbol yang sama dengan simbol yang dimiliki Shannamara jawanaka, lalu tiba-tiba sebuah gerbang pintu yang muncul dari dalam tanah menjulang keluar hingga terlihat dengan jelas.
Pintu gerbang yang tingginya sekitar lima meter dan memiliki ukiran-ukiran aneh di pintu itu.
" Diana, ini adalah sebuah gerbang yang dibuat oleh Shannamara dahulu ketika masih memimpin pack ini. Gerbang ini disebut sebagai gerbang tujuh alam yang artinya, jika seseorang memasuki gerbang ini maka orang itu harus melewati tujuh alam yang memiliki penghuni mengerikan disetiap alamnya. Semakin dalam orang itu masuk di gerbang ini maka semakin mengerikan juga penunggu yang akan dihadapinya dan juga di setiap alam memiliki luas yang sangat luarbiasa. Alam pertama menuju alam kedua bisa ditempuh paling cepat sekitar sepuluh tahun berlari dan seterusnya setiap alam juga akan terus meningkat. Tapi gerbang ini hanya berlaku pada seseorang yang berniat buruk terhadap pack kita. Orang berniat buruk itu akan dialihkan ke gerbang ini dan orang itu bisa keluar jika saja hatinya benar-benar bertobat dan menghilangkan niat buruknya."
Aku mengangguk mengerti dengan penjelasan Sanno. Betapa menakutkan gerbang itu, dalam pikirku
'Apakah ada orang yang bisa selamat melewati gerbang itu.'
"Diana, aku menunjukkan ini padamu karna ada hal yang akan kuberikan padamu."
Sanno berjalan mendekatiku dan berdiri tepat dihadapanku, dia meraih kedua tanganku dan membuka telapak tanganku agar menghadap ke atas.
"Akan kuberikan padamu sebuah mantra yang akan kusimpan ditelapak tanganmu, dengan itu kamu juga bisa membuka gerbang ini."
Dengan ragu-ragu aku bertanya padanya.
"Tapi untuk apa kamu memberikannya padaku Sanno, apa yang akan kulakukan."
"Begini, Diana.
Saat peperangan nanti akan ada sesuatu hal yang akan membuatmu memilih, antara membunuh musuhmu atau menyelamatkan musuhmu."
Apa? Jelas tidak mungkin hal itu akan terjadi.
"Bagaimana mungkin aku akan menyelamatkan musuhku, Sanno bukankah itu adalah hal yang ceroboh."
Sanno hanya tersenyum menanggapiku, dia menggenggam erat kedua tanganku dan tetap melanjutkan ritualnya memberikan mantra pembuka gerbang ini padaku. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menurutinya walaupun rasanya masih ragu-ragu.
"Diana, kamu akan melakukannya pada saat hari itu tiba. Akan ada seorang musuh yang akan kamu selamatkan dan aku sendiri juga tidak tau siapa orang itu."
Aku berpikir apakah mungkin seseorang itu adalah Farel, tapi tidak mungkin karna Farel adalah manusia normal yang tidak memiliki kekuatan.
Lalu, siapakah orang itu?
"Sudahlah Diana kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, Biarkan waktu yang menjawabnya."
Aku menangguk mengerti, jika memang hal itu akan terjadi maka yang harus kulakukan hanyalah memilih hal yang seharusnya kulakukan. Sekarang ini aku tidak ingin terlalu memikirkan tentang hal itu karna yang kuinginkan saat ini adalah menghabiskan waktuku bersama Alphaku. Aku sangat merindukannya selama tiga bulan terakhir ini. Dan siapa sangka bahwa sang Alpha itu adalah Sanno, seseorang yang pernah mencintaiku dan aku akan menunggu hari itu.
Back to Diana's war
"Mungkin inilah yang kamu maksudkan, Sanno. Aku akan menyelamatkannya walaupun dia adalah musuhku, walaupun dia yang menyebabkan sahabatku Inna kehilangan matenya. Aku tidak tau apakah yang kulakukan ini akan berdampak apa?
Daissy,
Kamu bukanlah orang yang jahat dan aku tau hal itu, maka dengan ini aku akan membuatmu menjernihkan pikiran yang kacau dan menghilangkan sifat iblismu itu. Aku sebenarnya terkejut saat mengetahui dirimu ada di pihak Haganara.
Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?"
Dengan kedua telapak tangannya yang menempel ke tanah, Diana memunculkan pintu gerbang tujuh alam milik Shannamara. Mantra yang diberikan Sanno padanya dengan mudah tercatat di pikiran Diana.
"Sekarang aku akan memasukkanmu ke dalam gerbang ini Daissy. Bebas atau tidaknya dirimu akan tergantung dari bagaimana kamu merubah hatimu karna aku percaya bahwa pikiran jahatmu itu terwujud karna tidak ada waktu bagimu untuk berpikir secara jernih."
Diana mengangkat tubuh Daissy dan membawanya masuk kedalam gerbang itu. Diana memandang kearah wajah Daissy untuk sesaat, merasa bingung dengan apa yang telah dilakukannya. Hatinya selalu mendorongnya untuk menyelamatkan Daissy.
Dia bukanlah seorang saudara ataupun sahabatnya, dia bukan seseorang yang dekat dengannya. Tapi kenapa perasaannya itu tak bisa dikendalikan.
"Aku akan merahasiakan hal ini dari Inna karna jika tau dia pasti akan membenciku. Maafkan aku Inna, tapi tentu ada alasan dan jawaban dibalik semua ini. Aku berharap kamu tabah atas kepergian matemu."
Diana mengelap kedua matanya yang mengeluarkan cairan bening mengalir di pipinya. Pintu gerbang tujuh alam itu kembali ditutup oleh Diana dan dikembalikan lagi kedalam tanah dengan kekuatan miliknya.
Untuk beberapa saat Diana terdiam menatap ke arah packnya itu. Dia melihat lubang-lubang teleportasi yang bermunculan tepat di dalam pack Fullmoon.
Jutaan manusia keluar dari lubang teleportasi itu, mereka adalah orang-orang yang berhasil diselamatkan oleh oleh tujuh jendral Alpha.
"Jadi, semuanya sudah kembali ya. Hm sepertinya aku harus cepat kembali ke tempat Inna berada dan membawanya pulang."
Ketika hendak melangkah meninggalkan tempatnya, tiba-tiba suara teriakan terdengar dari arah belakang memanggil namanya.
"Luna Diana!"
Suara besar dan berat itu berasal dari seorang Alpha yang termasuk kedalam tujuh jendral itu, dia adalah Alpha Jacob.
"Tunggu Luna,
Anda mau pergi kemana."
Jacob berdiri dihadapan Diana dengan raut bertanya itu.
"Maaf Alpha Jacob, aku harus kembali dan menyusul Inna. Aku harus membawanya pulang."
Karna tergesa-gesa Diana langsung berjalan meninggalkan Jacob begitu saja.
"Tunggu, Luna sebaiknya berada di dalam pack saja. Biarkan aku yang membawa Inna pulang Luna, anda akan lebih aman jika didalam pack."
Jacob pun tidak tinggal diam ikut berlari menyusul Diana yang berlari normal tanpa kekuatannya.
"Maaf Alpha, Inna adalah sahabatku jadi biar aku saja yang mengurusnya. Anda kembali saja ke pack dan tolong ambil alih kepemimpinan sebelum Sanno kembali."
Dengan lengan yang besar dan kekar Jacob menahan Diana dengan cara menarik lengannya.
"Luna, kalau begitu ijinkan saya untuk ikut. Alpha meminta padaku untuk menjaga anda jadi tidak mungkin saya membiarkan Luna pergi sendirian."
Diana berhenti berlari dan diam mendengar perkataan Jacob tanpa menoleh ke arahnya.
"Alpha, aku bisa menjaga diriku jadi anda tidak perlu khawatir. Sekarang anda sebaiknya kembali saja ke pack."
Diana melanjutkan langkahnya untuk pergi menyusul Inna. Sebelum pergi Diana melepaskan aura yang bisa menekan dan meruntuhkan keberanian orang yang ada disekitarnya yang tak lain adalah Jacob. Jacob merasakan aura itu dan langsung terdiam tak berani mengeluarkan perkataan apapun. Jacob hanya terpaku menatap Diana yang mulai menjauh darinya dan tiba-tiba melesat hilang dari pandangannya.
'Maafkan aku karna menggunakan auraku ini untuk menekan anda. Aku hanya ingin sendirian saat ini, pikiranku kacau dan aku tidak tau caranya untuk berbohong pada Inna tentang hal ini.'
Moa hanya diam dan tak mengatakan apapun sejak tadi. Dia membiarkan Diana menentramkan hatinya dan tak akan mengganggunya.
_____________
_____________
_____________