MY DESTINY

MY DESTINY
Destiny 39



Inna Pov


Gelap..


Sepi....


Dimana aku ini,


Kenapa aku tak bisa melihat apapun disini, kenapa aku tak bisa mendengar apapun disini. Kenapa tiba-tiba aku ada disini?


Mungkinkah seseorang membawaku kemari, atau mungkin tempat ini adalah markas Haganara. Tapi tidak mungkin ini markas Haganara, karna aku tak merasakan aura yang jahat sedikitpun.


Aku harus segera pergi dari sini, tapi bagaimana?


Tak mungkin aku melangkah pergi dari tempat ini, aku bahkan tidak bisa memastikan apakah disekitarku adalah tempat yang aman.


"Apa ada seseorang disini?! Jika ada tolonglah, aku ingin pergi dari tempat ini."


Tak satu kata pun tersaut menanggapi ku, aku benar-benar merasa sendirian saat ini.


Ah, benar juga.


Kan ada Ayra yang berada dalam tubuhku, dialah satu-satunya yang selalu menemaniku dan selalu ada untukku.


'Ayra, apa kamu bisa mendengarkanku? Ayra! '


Untuk beberapa saat kemudian aku merasa aneh pada Ayra.


Kenapa Ayra tak menyahuti ku? padahal, aku merasakan kehadirannya dan kurasa dia juga mendengarkanku.


'Ayra bicaralah, sebenarnya dimana aku ini. Aku ingin keluar dari sini dan pergi menyelamatkan Devan, Ayra! Ayra!'


Apa yang terjadi padanya?


apa dia sedang marah padaku, tapi kesalahan apa yang kuperbuat padanya bahkan aku sendiri tidak tau.


'Ayra sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk marah kita harus cepat-cepat pergi dan mencari Devan.'


Sial!


Kenapa Ayra masih diam, sebenarnya apa yang ada difikirannya.


'Baiklah, jika kamu tidak mau membantuku. Aku bisa cari jalan keluar sendiri. '


Jika Ayra tidak mau membantu maka aku akan mencari jalan keluarnya sendiri. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, dia benar-benar membuat kesal. Kenapa disaat keadaan genting seperti ini masih sempat-sempatnya dia marah padaku.


Aku perlahan melangkah pergi dari tempatku saat ini. Walaupun kesulitan untuk melihat, aku mencoba untuk meraih benda apapun yang bisa menuntunku keluar dari sini. Ternyata tempat ini cukup luas, dan yang dapat kuraih untuk menuntunku seperti tembok batu layaknya seperti didalam goa.


"Ah, ada cahaya di ujung jalan itu pasti jalan keluarnya. "


Beberapa saat aku berjalan, aku menemukan setitik cahaya yang ada di ujung hadapanku. Aku perlahan berjalan ke arah cahaya yang makin mendekat makin membesar. Memang benar ternyata itu adalah pintu keluar dari tempat ini, dan hal yang baru kusadari adalah aku berada di dalam gua yang besar dan tak ada sedikitpun cahaya yang bisa masuk ke dalam gua ini. Pantas saja semua gelap.


Sekarang kemana aku harus pergi, aku merasa begitu asing dengan tempat ini. Goa ini terletak di tengah-tengah hutan yang sepertinya belum pernah ku datangi sebelumnya.


"Lebih baik aku telusuri hutan ini. "


Aku berjalan menyusuri hutan ini agar bisa keluar dari sini. Tujuanku saat ini adalah mencari Devan dan segera membawanya kedalam pack. Ini sungguh membuang waktuku karna berada di tempat ini. Butuh waktu untuk keluar dari hutan ini, karna aku baru pertama kali aku ada disini.


angin menerpaku membuat rambutku berterbangan kesana kemari. Langkah demi langkah menyusuri hutan mencari jalan keluar. Namun, semakin jauh masuk kehutan ini aku merasa tempat ini benar-benar menyejukkan.


Menakjubkan


Aku belum pernah melihat tempat yang seperti ini layaknya seperti negri dongeng yang sangat indah dan menyejukkan. Sangat tenang sekali disini.


"Inna! Tolong! "


Deg,


Suara itu! Devan!


Ayra Pov


Aku hanya bisa duduk bersimpuh dihadapan mateku yang sudah tak bernyawa ini. Seluruh tubuhnya dingin seperti es.


"Devan."


Tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis meratapi betapa menyedihkan hidupku nanti. Aku akan menjalani hariku tanpa seorang mate disisiku.


Hal ini pun juga berlaku pada Inna. Dialah orang yang paling terpukul dengan kepergian Devan, karna Devan adalah cintanya sejak saat Inna masih menjadi manusia. Ternyata mimpi itu bukan hanya sekedar mimpi biasa. Aku dan Inna benar-benar tak percaya dengan hal ini, kenapa?


Kenapa harus Devan?


Aku belum lama berjumpa dengannya, aku belum lama melampiaskan cinta dan kasih sayangku padanya.


Tuhan,


Ini begitu terlalu cepat untukku kehilangan seseorang yang kucintai, yang Inna cinta.


Rasanya baru kemarin kebahagian itu menyelimuti keluarga kecil ini, dan sekarang kebahagiaan itu sudah direnggut dariku.


"Devan, maafkan aku karena aku tak bisa menyelamatkanmu. "


Sekarang apa yang harus aku lakukan, tak tau berapa lama aku berada disini.


menunggu Inna yang belum juga tersadar dari tidurnya.


Bukan tidur karena rasa kantuk, tapi Inna tertidur karena tak kuat menahan sesak dan sakit hati dengan semua yang terjadi.


"Inna! Cepatlah sadar. "


Aku tidak bisa melakukan apapun jika Inna belum juga sadar. Entah kenapa tiba-tiba saja kakiku tidak bisa digerakkan, rasanya nyeri dan sakit.


"Inna."


Normal pov


"Inna."


Seseorang datang dari arah belakang Ayra memanggilnya dan menepuk pelan bahu Inna yang sekarang ini adalah Ayra.


"Luna."


Mendengar suara itu, Diana mengerti bahwa yang ada dihadapannya saat ini adalah Ayra. Diana hanya diam mengangguk, sejenak dia beralih melihat ke arah Devan.


"Ayra, aku sangat ingin tau kenapa semua ini bisa terjadi. Tapi untuk saat ini, lebih baik kita kembali ke pack agar lebih aman dan untuk jasad Devan, Alpha Jacob dan yang lain akan mengurusnya. "


Diana menatap kedua mata Ayra, menunjukkan rasa dukanya atas kematian Devan.


"Tapi Luna, saat ini aku tak bisa berjalan. Entah kenapa kakiku terasa sakit sekali, dan saat ini Inna pun juga belum sadar dari tidurnya. Dia terlalu bersedih dan tak bisa menahan rasa sakit dihatinya. "


'Maafkan aku Inna, Ayra. Aku menutupi hal ini dari kalian.'


Diana menghampiri dan memeluk tubuh Inna yang sekarang diambil alih oleh Ayra. Memeluknya untuk beberapa saat lalu kemudian melepas pelukannya.


"Jangan khawatir Ayra, aku akan membawamu dalam wujud Moa. Ayo! kita harus cepat. "


Ayra terdiam seperti memikirkan sesuatu, dia melihat ke arah Devan.


'Ayra, apa kamu bisa mendengarkanku? Ayra! '


Ayra seketika tersentak mendengar suara Inna yang memanggil namanya.


"Luna, sepertinya Inna sudah sadar kembali barusan aku mendengarnya berbicara lewat mindlink ku. "


Diana mengangguk mengerti, merasa lega karena akhirnya Inna sudah sadar dari pingsannya.


"Kalau begitu, katakan padanya untuk segera kembali ke tubuhnya kita tidak bisa berada di sini terlalu lama."


Ayra mengangguk membenarkan Diana.


Dia mencoba berbicara pada Inna lewat mindlinknya saat ini.


'Inna, akhirnya kamu sadar juga. Inna kita harus pergi dari.... '


'Ayra bicaralah, sebenarnya dimana aku ini. Aku ingin keluar dari sini dan pergi menyelamatkan Devan, Ayra! Ayra!'


Belum sempat Ayra melanjutkan kalimatnya, Inna tiba-tiba mengatakan sesuatu padanya. Ayra merasa aneh karena Inna berbicara seakan Ayra tak menjawab perkataannya.


'Inna, aku mendengarkanmu! ada apa? '


Raut wajah Ayra yang kebingungan membuat Diana penasaran dan ingin tau apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Ada apa, Ayra? Kenapa kamu terlihat bingung seperti itu? "


Ayra beralih pada Diana,


"Luna, aku berbicara pada Inna tapi Inna seakan tak mendengar mindlink ku. Kurasa, Inna saat ini sedang bermimpi. "


Diana dan Ayra sama- sama terdiam terlarut dalam fikiran nya masing-masing.


'Ayra sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk marah kita harus cepat-cepat pergi dan mencari Devan. Baiklah, jika kamu tidak mau membantuku. Aku bisa cari jalan keluar sendiri. '


Memang benar kalau begitu jika saat ini Inna sedang bermimpi. Kesedihan yang sangat mendalam membuatnya masuk kedalam mimpi itu.


"Kalau begitu kita tetap tidak bisa menunggu kesadaran Inna, Ayra. Seperti yang kukatakan sebelumnya, naiklah di punggung Moa karena hanya itu satu-satunya cara agar cepat sampai di pack. "


Ayra hanya mengangguk pasrah,


tidak ada pilihan lain Ayra pun akhirnya menuruti perintah Lunanya. Diana langsung berdiri dan berganti shift dengan Moa.


Tanpa harus menunggu lama pun, sedikit-demi sedikit Ayra berusaha meraih punggung Moa yang dengan tanggap merendahkan tubuhnya. Ayra tertatih-tatih karena kedua kakinya yang kesakitan, namun akhirnya Ayra tetap berhasil menaiki tubuh Moa.


"Terima kasih, Luna. "


Moa menggeram rendah menanggapi Ayra. Dia langsung melompat dan berlari meninggalkan tempat itu menuju pack Fullmoon.


"Devan tunggulah sebentar lagi, kami akan mengurusmu.


Inna, cepatlah sadar. "


Back to Inna


"Terima kasih Inna, kamu sudah menolongku keluar dari lubang itu. "


Aku menemukan Devan berada di dalam sebuah lubang seperti sebuah sumur tapi tidak terlalu dalam. Mungkin kedalamannya sekitar 4 meter dari permukaan tanah. Walaupun hal itu membuatku binggung, kenapa tiba-tiba Devan berada di lubang itu?


"Sebenarnya apa yang terjadi Devan, kenapa tiba-tiba kamu berada di lubang itu. Lalu, apa yang kamu lakukan disini?


Kita harus berhati-hati karna pasukan Haganara mulai melakukan penyerangan.


Aku benar-benar menghawatirkanmu, Devan. "


Tanpa menjawab Devan memelukku dengan erat menenggelamkan dirinya untuk beberapa saat dan yang kulakukan hanyalah diam membiarkan Devan memelukku.


"Maaf karena telah membuatmu khawatir, Inna. "


Dengan wajah bersalahnya, Devan meminta maaf padaku. Sungguh wajah Devan saat ini membuatku terpesona dan gemas. Dialah satu-satunya pria yang kusayangi dan selamanya akan begitu.


" Tapi sekarang, lebih baik kamu ikuti aku Inna. Aku tau jalan keluar dari hutan ini. "


Tanpa menunggu jawaban dariku, Devan langsung menarik lenganku kali ini dia sangat terburu-buru.


"Pelan-pelan saja, Sayang. "


Aku mencoba untuk menghentikan Devan yang terburu-buru itu. Aku menarik lenganku perlahan, mengisyaratkan padanya untuk berhenti dan mendengarkan perkataanku.


"Devan."


Perlahan langkah Devan terhenti,


Dia menoleh kearahku menatap kedua mataku dan tersenyum.


"Inna kita harus cepat, waktuku sangat terbatas disini. Aku harus segera membawamu keluar dari sini. "


Apa maksud ucapannya itu! Entah kenapa setelah mendengar perkataan Devan rasanya hatiku menjadi gelisah dan ada yang mengganjal difikiranku.


Kenapa kata-kata itu seolah mengatakan bahwa dia akan meninggalkanku sangat jauh.


"Ayo Inna. "


Aku kembali berjalan mengikuti langkah Devan yang menunjukkan jalan keluar dari hutan ini. Perkataan Devan masih membuatku bingung tapi aku mengurungkan niatku untuk menanyakan hal itu.


"Sayang, saat ini entah kenapa rasa rinduku begitu besar padamu. Pada Vero dan juga Ayra, kalian benar-benar istimewa di dalam hatiku. Inna kamu selalu melindungiku disaat ada bahaya, tapi untuk sekarang setidaknya beri aku kesempatan untuk melindungimu. "


Masih berjalan dan tanpa menoleh kearahku, Devan mengatakan hal itu yang terdengar sangat tulus membuatku terharu.


"Setidaknya sekali ini saja aku ingin menjadi seorang laki-laki yang melindungi orang-orang yang kusayangi, menjadi sosok pemimpin yang bertanggung jawab, Inna. "


Aku tersenyum mendengar ucapan Devan.


Ya Devan,


Aku sangat percaya bahwa dirimu adalah sosok yang kuat dan bertanggung jawab. Tidak ada selain dirimu yang membuatku merasa kagum dan bahagia setiap saat.


Tak terasa ternyata perjalanan ini pun telah berakhir di ujung hutan. Aku dan Devan ternyata sudah berada di pinggir jalan raya setelah keluar dari hutan ini, ya walaupun aku merasa aneh karna saat aku berjalan sendiri sebelumnya, aku merasa hutan ini begitu luas bagai tak berujung. Tapi sekarang, tiba-tiba saja Devan menunjukkan jalan keluar dengan mudahnya.


"Inna."