
"Bibi cantik" celetuk Sasa manja.
"Iya sayang, kenapa?"
Saat ini Alista masih menemani Sasa mengganti seragamnya dengan pakaian kasual. Alista memilihkan kaos berlengan pendek berwarna pink dan celana jeans sepanjang lutut agar tidak panas, mengingat hari ini memang matahari sangat terik.
"Sasa nggak mau pakai yang ini yang ini aja" tunjuk gadis kecil itu pada sebuah mini dress tanpa lengan bermotif bunga dengan warna merah.
Wanita itu menyatukan alisnya, heran.
"Emangnya Sasa mau kemana, hmmm?"
"Biar sama kaya bibi cantik"
Alista semakin bingung dengan bocah kecil ini. Agar sama dengannya?. Kini manik hitam milik wanita itu beralih pada pakaian yang ia kenakan, saat ini dia memakai kaos berwarna navi. Oh bukan itu yang Sasa maksud.Alista seketika tersenyum saat ia menyadari saat ini Alista mengenakan rok sepanjang betis berwarna merah, sama dengan mini dress yang Sasa pilih tadi.
"Ya udah, sini ganti bajunya!. Habis ini makan ya!" pinta Alista lembut. Sasa hanya mengangguk dengan rona bahagia diwajahnya.
Mereka segera menuju meja dapur yang ternyata disana sudah ada Sarah.
"Hei" ketus Sarah dengan nada tinggi. Ia terkejut melihat pakaian yang kedua perempuan itu kenakan yang hampir senada.
"Sasa tuh mbak. Ada-ada aja dia. Biar sama kayak bibi cantik, iya kan sayang?" tanya Alista pada Sasa yang hanya ia balas dengan anggukkan.
Sasa melotot tajam kearah keduanya.
"Sini Sasa makan dulu" pinta Sarah sambil menepuk pahanya sendiri seolah meminta Sarah untuk duduk dipangkuannya.
"Makan sama bibi cantik aja ya ma!"
Sarah semakin geram. Beginilah mereka kalau Alista sudah berada dirumahnya seolah dia tidak terlihat oleh anaknya sendiri.
"Ok sini, bibi suapin apa mau makan sendiri? Sini duduk disebelah bibi, Sayang!" pinta sang empunya kepada gadis kecil itu agar duduk di kursi sebelah Alista. Dengan senang hati Sasa segera duduk dengan dibantu Alista sebab kursi itu lebih tinggi daripada gadis kecil itu.
"Makan sendiri aja bi. Kan Sasa udah gede" jawab gadis kecil itu.
"Sebenernya kamu tuh anaknya bibi apa anak mama sih Sa?" tanya Sarah pada putri kecilnya. Ia sampai terheran-heran apa yang diberikan Alista kepadanya sehingga membuat ia begitu lengket dengan wanita itu, bahkan sampai melupakan keberadaannya sebagai seorang ibu.
"Anak bibi, iya kan bi?" sahut Sasa asal. Yang membuat Sarah semakin geram pada putri kecilnya itu.
Alista kembali memperlihatkan senyum mengejeknya kepada kakaknya. Ia menyetuh salah satu lengan Sarah yang sudah berkacak pinggang.
"Udah mbak lagian aku jarang kan kesini? Mbak bisa istirahat biar aku yang jagain Sasa" ucap Alista menenangkan Sarah sambil mengelus lembut rambut Sasa yang sedang asik menyantap sendiri makanannya.
"Kamu bikin anak sendiri deh lis, jangan ngambil anak orang" ucap Sarah jenaka. Sambil berlalu meninggalkan mereka menuju ruang tengah.
Alista tiba-tiba sakit mendengar penuturan kakak perempuannya itu. Menurut sarah ia hanya melontarkan kata-kata jenaka tapi tidak bagi Alista. Dia teringat lagi ucapan Azri yang tidak terlalu mengharapkan anak dari rahim Alista. Meskipun pria itu sudah berkata tidak masalah kalau dia ingin memiliki anak tapi tetap saja Alista takut. Akankah dia menerima kalau suatu saat dia mengandung. Apa laki-laki itu akan menerimanya. Ia juga takut anak-anaknya akan bernasib sama dengan anak-anak Azri dari istrinya yang sudah meninggal yang Azri tinggalkan.
Alista tersenyum pasi mengingat semua itu.
"Ayo. Sudah makannya? Kok nggak habis?" tanya Alista pada gadis itu. Dia melihat masih ada sedikit nasi dan lauk dipiring Sasa.
"Udah bi. Kata bu guru agama berhenti makan sebelum kenyang." Alista hanya tersenyum mendengar kata-kata Sasa. Dia tahu itu hanya alasan, sebenarnya gadis kecil itu tidak terlalu suka dengan ayam goreng tetapi Sarah selalu memaksa anaknya itu agar tidak memilih dalam hal makanan mengingat usianya yang masih butuh banyak nutrisi untuk pertumbuhannya.
"Ya udah Sasa kedepan dulu ya! Bibi mau cuci piringnya dulu" pinta Alista kemudian beranjak menuju washtafel untuk mencuci piring Sasa tadi. Sedang Sasa segera berlari menuju ruang tengah.
Disela-sela ia mencuci piring tiba-tiba dia tersenyum hambar mengingat saat masa-masa dia masih bersekolah SD dulu.
*Flashback
Rumah orang tua Gilang memang jauh dari tempat tinggal Alista bahkan berbeda kecamatan. Namun karena kesibukan kedua orang tua Gilang, dia dititipkan kepada Eyangnya dari Ayah Gilang yang kebetulan kediamannya berada satu desa dengan tempat tinggal Alista.
Karena mereka memang seumuran jadi otomatis Gilang akan satu sekolah dengan Alista. Bahkan sampai mereka lulus masih sama satu SMP.
Suatu pagi saat mereka kelas empat SD.
"Selamat pagi anak-anak!" seru seorang guru. Yang dijawab serempak oleh semua murid.
"Baiklah hari ini kita koreksi acak tugas PR kalian ya" para guru memang menerapkan sistem koreksi acak agar para murid lebih aktif lagi.
Apa itu koreksi acak yaitu mengumpulkan semua tugas siswa menjadi satu kemudian membaginya lagi secara acak atau tidak sesuai dengan pemiliknya. Kemudian guru akan menuliskan jawaban yang benar dipapan tulis untuk mencocokkan jawaban dari buku yang para siswa terima diatas meja masing-masing.
Saat itu anak-anak semakin ricuh dan berteriak memanggil nama dari sang pemilik buku memberi tahukan bahwa buku mereka ada pada siapa.
"Sigit buku mu disini" teriak rangga pada Sigit, juga murid-murid yang lainpun sama seperti itu.
Namun lama Alista menunggu tidak ada yang memanggil namanya. Dia takut buku tugasnya akan berada ditangan orang yang salah. Dia sangat paham betul kalau salah satu siswa disana ada yang sangat jahil. Sering membuat anak-anak lain menangis atau bahkan seperti situasi seperti ini dia akan menjahili si pemilik buku tugas tersebut agar nilainya jauh dari yang diharapkan.
Contohnya pada lembar jawaban sudah diberi jawaban A dan saat dilihatnya dipapan tulis sang Guru menulis A. Dia akan mengganti jawaban dihadapannya menjadi B atau yang lainnya, begitu seterusnya sampai membuat sipemilik buku akan mendapatkan nilai rendah. Jahil bukan? Ya itulah Gilang. Anak yang populer dari masih bersekolah dasar karena kejahilannya.
Alista segera menggeser kursinya mundur, ia segera berdiri dan berjalan menuju meja satu kemeja yang lainnya. Ia balik cover buku tugas di meja teman-temannya itu guna melihat nama miliknya yang tertera disana. Namun hasilnya nihil dia tidak menemukan buku miliknya. Sampai tiba satu meja, Alista tahu bahwa buku miliknya ada pada orang tersebut karena bocah itu tidak mengijinkan Alista membalik cover buku diatas mejanya dan memang hanya meja itu yang belum ia datangi.
Bagi anak-anak lain akan takut jika dijahili oleh Gilang tapi berbeda dengan gadis kecil yang satu ini. Dia malah melotot kearah Gilang. Gilang yang semula senyum jahil kini malah terkejut. Baru kali ini ada anak yang tidak takut kepadanya bahkan berani melototi Gilang, dan seorang gadis lagi. Saat Gilang lengah Alista segera menarik paksa buku miliknya itu. Lalu
PLETAK
Alista memukul kepala Gilang dengan bukunya itu kemudian berlalu menuju mejanya. Sedang Gilang masih terdiam heran, baru kali ini dia menemukan seseorang yang tidak takut kepadanya ataupun menangis seperti bocah-bocah lain yang sering dia jahili. Karena keberaniannya itu dia bertekad akan menjahili Alista sampai gadis kecil itu menangis.
Flashback off