
Anto benar-benar kesal kepada Gilang. Pasalnya sahabatnya itu tiba-tiba memanggil dirinya agar segera menemuinya di perpustakaan mini yang berada di sebelah kamar milik Gilang, dilantai dua rumah itu. Padahal Anto sedang menahan panasnya cuaca ibukota dengan bergerak cantik dikolam renang saat itu juga. Dengan segera ia meraih sehelai handuk untuk membantu sedikit menutupi tubuhnya dan bergegas menuju tempat Gilang berada saat ini, meski ia berjalan dengan berbagai umpatan dalam hatinya.
Walaupun dia sudah menganggap rumah itu seperti rumahnya sendiri tapi ia tetap menjaga sopan santun dengan mengetuk pintu sebelum ia masuk.
"Hei kau kenapa To?. Basah kuyup seperti ayam kecebur got?" Gilang menahan tawanya saat melihat Anto dengan rambut yang masih basah dan menjatuhkan tetes air dari rambut itu. Karena terburu-buru dan takut kalau terjadi hal penting ia berjalan tanpa memperhatikan penampilannya. Rambutnya masih benar-benar basah, dirinya menatap ke tubuh bagian bawah, ia hanya memakai boxer dan telanjang dada, sedangkan handuk yang ia raih tadi menyampir pada kedua bahunya yang bisa saja menghalangi tetesan air dari rambut hitamnya yang masih sangat basah.
"Kau menganggu waktu santaiku bro. Ada apa kau memanggilku kesini? Kau tahu ini sudah bukan jam kerja. Dan lagi dikampung tidak ada kolam renang sebesar dirumahmu ini kawan" Kesalnya kepada sahabatnya itu. Ia memang senang menikmati dinginnya air dari kolam renang karena dikampungnya ia tidak bisa berenang sesuka hati kecuali ia harus mencari wahana waterboom, bahkan dirumah Gilang yang berada dikampung ia tidak membangun kolam renang seperti yang ia miliki disini. So, Anto akan selalu memanfaatkan waktunya saat ia berada disini.
"Aku tahu. Dan kau bisa berenang semalaman jika kau mau tapi kerjakan dulu pekerjaanmu!!" jawab Gilang tak kalah ketusnya.
"Pekerjaan apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Kau lupa? Kau belum melapor padaku soal laki-laki tengik itu yang berada di cafe?" Kesal Gilang karena sibuk ia bahkan lupa untuk menanyakan soal Azri yang ia lihat dicafe bersama seorang wanita dua hari yang lalu tapi Anto juga tidak melapor sebelum bosnya itu bertanya.
Anto mengerutkan keningnya, bingung dan mulai memutar lagi otaknya untuk mencari jawaban yang bosnya inginkan. Siapa? Soal apa?. Seketika ia memetik jari tengah dengan ibu jarinya ketika ia mengingat suatu hal yang ia lupakan.
"Ahh soal itu. Tunggu sebentar" setelah mengatakan itu Anto segera berlari untuk mengambil ponselnya yang berada diatas meja di area kolam renang ia lupa membawanya karena terburu-buru. Dengan berlari hanya dengan waktu lima menit ia segera kembali kelantai dua tempat dimana sahabatnya itu berada.
Sambil mengatur napasnya yang sedikit tersengal ia membuka aplikasi galeri pada ponselnya. Gilang bingung,apa sebenarnya yang dilakukan sahabatnya, bukankah hanya dengan menjawab pertanyaan saja kan sudah selesai lalu untuk apa dia repot-repot mengambil ponselnya yang bahkan berada dilantai dasar rumah itu.
Gilang mengangkat kedua tangannya keatas meja dan menyatukan jemari dari kedua tangannya itu untuk menopah dagunya.
"Jadi apa hubungan laki-laki tengik itu dengan dengan seorang wanita yang bersamanya? " Gilang mengulangi pertanyaan yang beberapa puluh menit yang lalu ia lontarkan kepada Anto karena tak kunjung menerima jawaban dari pria dihadapannya.
"Hei bung. Dia punya nama. Namanya Azri dan..."
"Ah ya whatever. Ayolah kau membuatku menunggu. Kau lupa dua hari yang lalu dan sekarang masih mau membuatku menunggu, hmm?" Gilang memotong ucapan Anto tidak sabar. Yang benar saja si Anto ini dia benar-benar butuh jawaban bukan yang lain.
"Baiklah. Yang pertama Azri dan juga seorang perempuan yang bersama dengannya di cafe waktu itu. Wanita itu namanya Lisa dan mereka hanya rekan kerja. Mereka hanya berbincang masalah bisnis disana"
"Tentu saja aku mengikuti mereka seperti yang kau mahu. Bahkan bertanya kepada orang-orang disekitar sana. Dan lalu..." ucapnya menggantung karena masih mencari sesuatu pada layar ponselnya.
"Lalu...?" Gilang mengerutkan dahinya.
"Kau ingat orang ini. Dan mereka?" Anto menujukkan sebuah foto dari aplikasi ponselnya yang ia dapat dari rekan mata-matanya kemarin. Sebuah foto seorang laki-laki yang keluar dari mobilnya dan berjalan menuju sebuah rumah.
"Dia? Ada apa? Kenapa kamu menunjukkan foto orang itu?" Geram sudah Gilang dibuatnya. Sebenarnya ada apa? Apa yang hendak sahabatnya itu katakan.
Anto menggeser lagi layar pada ponselnya guna menemukan foto selanjutnya. Dan menujukkan lagi kepada Gilang.
"Dan mereka"
Brak
Gilang menggebrak meja dihadapannya matanya melotot, dadanya naik turun, emosinya sudah diubun-ubun saat ini. Belum ia hilang dari rasa penasarannya karena melihat foto seorang lelaki yang Anto tunjukkan, kini Anto menujukkan foto dimana pria itu berada di depan pintu dan dua orang wanita dihadapannya yang sepertinya menyambut laki-laki itu untuk masuk kedalam rumah itu. Pria itu Fais dan didepannya ada Alista dan juga Sarah yang waktu itu menyambutnya.
Sontak Anto terkejut dan menjauhkan ponselnya dari Gilang. Untung saja ia yang memegang ponselnya tadi. Kalau tidak mungkin sudah hancur menjadi barang rongsokan saat ini karena dibanting sahabatnya. Ia tahu, hal ini pasti akan terjadi.
"Untuk apa dia kembali lagi?" Gilang kembali duduk dan menjambak rambutnya kasar seolah frustasi menyelimuti dirinya.
Belum juga Anto memberikan penjelasan secara detail sekarang Gilang sudah tidak karuan dilihatnya. Ia ragu bagaimana mengatakan kalimat selanjutnya jika belum apa-apa dia sudah begini.
"Jelaskan To!bukankah laki-laki itu sudah menyerah dari dulu. Lalu untuk apa dia kembali? " Titahnya. Meski ia tidak suka melihat Gilang yang seperti ini tapi ia tidak punya pilihan selain memberitahukan semua yang ia dapat.
Fais datang ke kediaman Sarah karena suatu alasan dan tanpa sengaja bertemu Alista yang kebetulan memang ada disana, lalu pulang kemudian kembali saat malam bahkan bermalam disana. Tapi Anto tidak mendapat informasi kalau wanita itu sakit semalaman dan Faislah yang menjaganya.
Gilang semakin kesal mendengar informasi dari Anto. Apa mereka kembali menjalin kasih dibelakang suaminya dan pernikahannya dengan Azri hanya untuk mengecoh Gilang agar menyingkir jauh dari wanita itu, begitu yang ada difikiran Gilang saat ini.