
Nayna begitu syok sampai tidak kuasa menahan air matanya. Bagaimana bisa sahabatnya itu menyembunyikan penyakitnya dengan begitu rapi. Selama ini Saina selalu bersikap ceria seperti tidak memiliki masalah hidup sedikitpun. Tapi Nayna baru sadar ternyata dengan cara itulah Saina menutupi kelemahannya.
"Sahabat macam apa aku ini !!" lirih Nayna. Daniel membawa Nayna kedalam pelukannya dan mengecup pelan puncak kepalanya.
Frans mondar mandir dan sesekali mengusap wajahnya kasar. Kecemasan akan takut kehilangan Saina seakan menjadi teror baginya. Sesungguhnya dia sangat belum siap untuk hal itu. Sedangkan Alex hanya termenung dengan tatapan kosong, seakan memiliki raga yang tak bertuan.
"Apa putriku akan baik-baik saja?" ucap Lucia pelan dengan nada yang begitu pahit.
"Dia akan baik-baik saja nyonya, kita berdoa saja." ucap Sassy merangkul pundak Lucia dan mengusapnya pelan. "Dia wanita kuat. Aku yakin dia pasti bisa melewati semua ini." tambahnya lagi. Namun sayangnya hal itu tidak mengubah apapun, setelah dokter yang menangani Saina keluar.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Frans tidak sabar. Namun dia juga belum siap mendengar kabar buruk.
"Kondisi pasien sangat lemah. Saat ini pasien berada dalam tahap resusitasi." ucap dokter itu dengan penuh simpati. Bagaimana pun juga dia tidak boleh sembarangan dalam menyampaikan kabar buruk. Dibutuhkan keahlian khusus untuk menyampaikan berita buruk tersebut kepada keluarga pasien.
Lucia semakin menangis pilu seakan tubuhnya ambruk dihantam batu besar. Nayna juga tidak bisa menyembunyikan kesedihanya.
"Boleh kami melihatnya dok?" tanya Alex dengan bibir bergetar.
"Boleh. Tapi kalian harus masuk secara bergantian." jawab dokter itu.
Frans memberi anggukan pelan, seakan memberi sebuah isyarat agar Alex dan Lucia masuk menemui Saina duluan.
Frans menunggu diluar dengan perasaan gundah. Tidak sabar menunggu gilirannya. Segala macam pikiran buruk seakan menghantuinya. Lalu lamunannya terbuyarkan saat menyadari pintu kamar telah terbuka, menampilkan sosok Alex yang keluar dengan tersenyum sendu. Sedangkan Lucia masih dengan isakkannya. Frans sendiri bingung melihatnya. Frans segera masuk keruangan Saina dengan langkah cepat, begitu tidak sabar melihat kondisinya.
Frans masuk dan menatap Saina sendu. Saina menggerakan tangannya, memberi isyarat pada Frans agar lebih dekat.
Saina tersenyum lembut saat Frans memeluknya dan menumpahkan segala kesedihannya. Frans menangis menumpahkan segala air matanya yang sempat ia tahan.
Apa akan ada kehidupan setelah kematian?"
"Tidak. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau akan sembuh Saina, kau tidak akan mati."
"Katakan bahwa kau mencintai ku Frans." lirih Saina lemah.
"Aku sangat mencintaimu Saina, aku akan mengatakannya setiap hari bahkan setiap jam. Tapi kumohon kau tidak boleh pergi, Saina kumohon bertahanlah." ucap Frans dengan suara seraknya.
Air mata menggenang dimata Saina saat mendengar perkataan Frans. Bercampur dengan nafasnya yang semakin melemah. Kondisi Saina terlalu parah. Dia tidak akan bertahan ...
"Jangan menangis Saina ..., kau pasti akan sembuh. Bertahanlah untukku."
lirih Frans dengan tatapan penuh permohonan.
"Aku tidak bisa Frans," Saina bergumam dengan susah payah. "Aku sudah terlalu lemah." ucap Saina mengangkat tangannya menyelusuri bentuk wajah Frans.
"Aku pasti akan merindukanmu ..."
gumam Saina tersenyum pedih. Frans mengecup tangan Saina lembut.
"Dan sekarang tersenyum lah untukku. Aku tidak mau kau bersedih seperti ini ..."
Frans memaksakan dirinya untuk tersenyum meskipun matanya tampak berkaca-kaca. Saina mengangkat tangan kanannya untuk menghapus air mata Frans, namun tangan itu langsung terhempas kembali ketika sudah separuh terangkat.
"Saina?"
Tidak ada jawaban.
"Saina?" ulang Frans sekali lagi meski tanpa harapan.
Masih tidak ada jawaban.
Hal ini berarti satu: semuanya berakhir sudah.
Semua orang menangis pilu, terutamanya kedua orang tua Saina. Sementara Frans sendiri hanya menatap kosong, seakan semua air matanya telah terkuras habis. Frans begitu terpuruk menghadapi tentang kenyataan kematian Saina. Dunianya seakan runtuh menimpa kepalanya secara bertubi-tubi.
Pecah sudah, Nayna kini tidak mampu lagi menahan tangisannya. Sahabat yang selama ini menemaninya, tertawa dan menjalani hari bersama bahkan banyak berkorban untuknya. Kini hanya meninggal kan sebuah kenangan. Kenangan yang begitu indah, tak akan pernah dia lupakan.
***
Celine menunjukan alat tes kehamilan pada Daniel yang menunjukan dua garis biru. Namun Daniel sendiri hanya menatap alat itu sekilas lalu membuang wajahnya.
"Daniel? Apa maksudnya ini?" tanya Nayna bingung.
Baru saja dia berduka karena kematian sahabatnya. Kini bertambah lagi masalah baru yang cukup mengguncang perasaannya.
"Kau tidak dengar? Aku hamil dan ini anak Daniel." ucap Celine meninggikan suaranya. Nayna menggeleng tidak percaya.
"CUKUP CELINE. AKU SUDAH MUAK DENGANMU." bentak Daniel yang mulai naik pitam.
"Apa kau pikir aku sebodoh itu sehingga dengan mudahnya untuk kau tipu." tambahnya lagi, dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu Daniel? Aku-tidak menipumu ..." ucap Celine terbata.
"HANS ...."
Pekik Daniel membuat Hans langsung mengerti apa yang harus dia lakukan. Hans menunjukan bukti dari petugas yang membantu Saina. Ternyata petugas itu adalah salah satu kaki tangan Hans. Celine membesarkan matanya melihat semua yang dilakukannya itu terekam oleh kamera pengawas yang sempat diyakininya kamera itu sudah dimatikan.
PLAKK
Nayna mendaratkan tamparan keras diwajah Celine. Nayna sangat geram dengan sikap Celine yang sudah sangat melampaui batas.
"Aku masih berbaik hati karena tidak menjebloskanmu kedalam penjara. Sekarang kau pergi sejauhnya dari hadapanku. Jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Atau aku akan menyebarkan vidio ini, dan tentu hal itu akan sangat mudah menghancurkan reputasimu." ucap Daniel dengan nada yang menusuk. Celine bahkan kehabisan kata-kata, dia sangat malu dengan apa yang telah dilakukannya.
"Daniel maafkan aku. Aku menyesal, aku sangat mencintaimu Daniel. Aku terlalu dibutakan oleh cintaku sehingga membuatku menjadi seperti ini. Kumohon jangan seperti ini Daniel." ucap Celine berlutut dihadapan Daniel dengan raut wajah penuh permohonan.
"Aku bahkan tidak tahu lagi dimana Celine yang kukenal dulu. Sekarang kau sudah jauh berubah. Kau sangat mengerikan seperti monster. Enyah dari hadapanku Sekarang." ucap Daniel dingin. Dan menyuruh Hans untuk menyeretnya keluar.
Daniel bahkan tidak menggubris teriakan Celine yang memohon padanya. Karena baginya Celine yang dulu telah tiada.
Daniel mendesah letih.
"Maafkan aku yang sempat meragukanmu." ucap Nayna pelan dengan raut wajah bersalah.
"Tidak apa, Aku mengerti !" jawabnya tersenyum tulus.
***BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH*******