MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 30



LIPSTIK BERWARNA ORANGE


Alista tengah merias dirinya saat ini. Sebenarnya dia tidak suka berdandan, maksudnya berdandan yang berlebihan seperti wanita pada umumnya. Bukan sebab dia tidak mengerti namun terlalu malas untuk dirinya pelajari. Ia hanya memakai beberapa alat make up yang dia biasa menggunakannya.


Seperti yang saat ini ia lakukan. Setelah ia mengoleskan pelembab pada wajahnya,ia mulai merogoh tas makeup yang ada dipangkuannya dan mengambil sebuah bedak yang mereknya tidak terlalu terkenal, meski begitu tapi ia tetap bangga karena dapat membelinya sendiri tanpa harus menguras kantong. Yah maklum saja ia bahkan hanya bisa menunggu suaminya itu yang memberikan dirinya uang. Kemudian ia mengambil sebuah eyeliner dan memakainya dengan tipis dan rapih. Tak lupa juga ia melukiskan sebuah pensil untuk memperindah bentuk alisnya. Kini jemarinya mulai meraih salah satu lipstik yang ada dalam tas kecil itu dan saat ia melirik untuk memastikan lipstik apa yang akan ia pakai.


Deg


Seketika bibirnya tersenyum miris saat melihat benda yang ada ditangannya saat ini. Sebuah lipstik berwarna orange yang sangat ia sukai, tapi apa ada yang salah dengan benda itu?. Jelas saja. Dirinya jadi ingat lipstik itu salah satu benda yang ia bawa dari rumah Gilang. Bisa-bisanya benda itu terbawa olehnya, padahal Alista merasa sudah mengecek ulang barang-barang yang akan ia bawa pulang saat ia benar-benar akan meninggalkan rumah berlantai dua milik Gilang saat itu.


Alista memutar kembali memori ingatanya.


*flashback


Siang itu Alista sedang menikmati acara televisi ditemani oleh bi Ijah. Bi Ijah ini wanita separuh baya yang diutus oleh Gilang untuk menemani dan mengawasi istrinya. Agar wanita itu tidak merasa kesepian saat ditinggal oleh Gilang dalam perjalanan bisnisnya dan melapor apapun yang dilakukan wanitanya itu, ia takut kalau Alista melakukan hal yang tidak diinginkan kan ataupun lari dari rumah. Sebab ia sangat tahu kalau wanita itu sangat enggan berada di rumahnya bahkan sejak pertama wanita itu menginjakkan kakinya disana.


Gilang yang baru saja memasukan mobilnya kedalam garasi dengan tidak sabar melangkahkan kakinya panjang untuk segera bertemu dengan istrinya yang sudah beberapa hari tidak bertemu. Rindu yang ia rasakan apalagi wanita itu tidak pernah mahu menerima telepon darinya, ia hanya bisa bertanya kepada bi Ijah apa yang wanita itu lakukan.


"Sayang" ucapnya lembut setelah berada disamping Alista kemudian mengecup sayang pelipis istri nya. Wanita itu hanya meliriknya tanpa bersuara lalu fokus lagi pada acara televisi yang sedang ia tonton sedari tadi. Bi Ijah yang awalnya berada disamping wanita itu segera berlalu setelah melihat keberadaan tuannya.


"Aku bawa oleh-oleh buat kamu. Kamu pasti suka" tuturnya sembari menaruh sebuah paperbag diatas meja.


Alista menatap paperbag itu lama "Bawa apa lagi dia kali ini?". Gumamnya dalam hati, sebelum akhirnya ia membukanya karena instruksi dari Gilang "Buka aja".


Benda pertama yang Alista raih saat merogoh paperbag itu adalah sebuah lipstik, lipstik warna kesukaanya. Gilang paling tahu apa saja yang menjadi benda favorit istrinya. Alista meletakkan lipstiknya diatas meja sebelum melanjutkan kembali aksinya melihat benda apa selanjutnya yang suaminya itu bawakan. Ia hanya melihat sekilas isi dari paperbag itu kemudian.


Brak


Alista berdiri dan segera menumpahkan semua isi paperbag itu dengan membantingnya kesembarang arah. Gilang yang saat itu mulai memejamkan matanya seketika terkejut mendengar suara benda berjatuhan. Dan saat matanya terbuka dan melihat apa yang terjadi manik coklatnya langsung membulat, jemarinya mengepal. Alat makeup bermerk yang ia sengaja belikan untuk menyenangkan istrinya kini sudah jatuh berserakan dan tak berwujud lagi. Rahangnya jelas sudah mulai mengeras. Pandangannya beralih pada Alista yang sudah kembali duduk dengan menatap televisi tanpa bersuara sedikitpun.


Gilang meredam emosinya dengan menghela napasnya sepanjang mungkin. Ia memejamkan matanya sekejap guna menata hati dan ucapannya nanti. Ia segera meraih tangan istrinya dengan lembut.


"Kenapa sayang kok dibuang? Kamu nggak suka dengan hadiahnya, hem?" tanya Gilang berusaha selembut mungkin agar istrinya tidak mengeluarkan kata-kata yang ia sendiri tidak suka. Alista hanya diam.


"Nggak apa-apa kalau kamu nggak suka nanti aku belikan lagi dengan merk yang lain, ya? ." ucapnya lagi dengan lembut. Alista pun masih diam.


"Apa-apaan dia. Kenapa dia nggak marah sama sekali" batinya.


Alista heran kenapa Gilang tidak marah. Dan itu malah membuat ia semakin merasa bersalah. Kejam memang. Sebenarnya ia tidak ingin melakukan itu. Tapi ia hanya ingin membuat Gilang marah dan semakin tidak tahan dengan sikapnya dan kemudian Gilang akan menceraikannya. Namun ekspektasi nya salah besar. Gilang bahkan memperlakukannya dengan lembut. Lebih lembut dari pertama dirinya masuk rumah itu. Dan itu juga membuatnya semakin frustasi dan hilang akal. Bagaimana dan apa lagi yang harus ia lakukan agar laki-laki itu mahu melepaskannya.


Off


"Sudah siap Lis?" Suara Azri menghentikan lamunan Alista.


"Ah iya mas. Ayuk" jawabnya kemudian merapihkan alat-alat makeup yang tadi ia gunakan dan menutup kembali tas kecil miliknya.