MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 34



**PELIKNYA HIDUP**


Hampir setiap orang yang sudah menikah pasti akan mendambakan sesosok bayi mungil dalam kehidupan mereka. Sama hal nya dengan Alista.


Apalagi mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi. Sudah pantas lah kalau dirinya dipanggil mama diusia nya yang menginjak 25 tahun.


Hal ini pula yang menjadi masalahnya saat ini. Ia selalu saja memikirkan, mengapa dirinya belum juga hamil. Ia bahkan tidak menggunakan pil kontrasepsi atau apapun semacamnya yang bisa saja mencegah adanya janin tumbuh di rahimnya.


"Kenapa kamu Lis? Dari tadi diem terus?" tanya Azri kepada sang istri, ia melihat wanita itu seperti melamun sedari ia pulang bekerja, sore tadi. Padahal pagi tadi sebelum ia pergi bekerja wanita itu masih biasa saja, bahkan marah-marah tanpa alasan yang pasti.


Alista menggeleng. Ia bahkan tidak dalam mood untuk berbicara dengan suaminya sekarang.


Ia teringat lagi perkataan jahat suaminya itu yang sempat mengatakan kalau tidak masalah jika Alista tidak mempunyai anak. Oh sungguh teganya si Azri ini. Lihatlah sampai sudah empat bulan usia pernikahan mereka pun. Tuhan masih belum juga memberinya kesempatan yang sangat ia nanti-nantikan. Apa kah saat itu malaikat sudah mencatat ucapan suaminya dan mengirimkan ucapan itu kepada Tuhan, sebagai do'a seorang suami kepada istrinya?? Entahlah. Bukankah ucapan adalah sebuah do'a.


"Ada apa? Berantem lagi sama ibu?" yang Azri tahu. Istri nya itu sering kali adu mulut dengan ibunya. Seperti orang yang menyimpan dendam lama dan bertemu kembali dengan orang itu.


Ia merasa hidup ini tidak adil baginya. Orang tua yang ia kenal sebagai orang tua yang penuh kasih sayang. Seketika berubah menjadi sosok yang entah siapa, seperti ia tidak mengenalnya sama sekali. Sehingga membuat kehidupan asmaranya menjadi sebuah mimpi belaka, dan yang ia inginkan ia segera bangun dari mimpi buruk itu.


"Ada apa? Hm?" Tanya Azri lagi dengan lembut.


Bukan menjawab ia malah semakin masuk kedalam pelukan suaminya.


Dengan sigap pula Azri segera menarik istrinya lebih dalam di dekapannya. Mengusap punggungnya agar beban yang istrinya rasakan sedikit lebih ringan. Meski ia tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada istrinya itu. Tapi ia hanya ingin menjadi orang yang berguna disaat Alista sedang membutuhkan sandaran. Sesekali ia mengecup puncak kepala Alista dengan lembut.


Ia ingin bertanya lagi kepada Alista , ada apa gerangan sampai membuatnya terlihat seperti hancur berkeping-keping. Tapi seperti nya istrinya itu belum ingin bercerita, mungkin dia akan bertanya lagi lain waktu.


Saat ini ia hanya ingin istirahat. Tubuhnya sangat lelah setengah seharian ia bekerja.


Alista merasa kehidupannya saat ini selalu saja mengingatkan dirinya, ketika masih berstatus istri seorang Gilang dulu.