MY DESTINY

MY DESTINY
episode 61



"HAPPY READING"


***


"Ibu. Ini wanita yang sangat ingin ku kenalkan padamu. Namanya Sassy." ucap Hans memperkenalkan Sassy pada ibunya. Melihat Sassy yang masih sangat muda, membuat Mery sedikit terperangah. Wajah Sassy yang imut dan manis membuat Mery tersenyum senang. Tapi bukan karena fisiknya saja yang membuat Mery senang, melainkan sebentar lagi dia akan memiliki menantu.


Kedatangan mereka disambut ramah oleh ibunya Hans.


Mary langsung memeluk hangat Sassy. "Ayo duduklah nak," ucap Mary menuntun tangan Sassy untuk duduk di kursi. Hans segera pergi dari sana, membiarkan ibunya berbincang dengan Sassy, sementara ia menemui ayahnya.


"Ceritakan padaku tentangmu nak."


Sassy bingung bagaimana ingin memulainya, dan ada sedikit keraguan dalam dirinya. Akankah kedua orang tua Hans bisa menerimanya?, pikirnya.


"Em, aku tidak punya keluarga. Ayah dan ibuku sudah meninggal sejak lama. Saat ini aku tinggal sendirian, dan bekerja sebagai asisten temanku yang berprofesi sebagai perancang." ucapnya sedikit gugup, namun dia tidak menyesali kejujurannya itu. Sassy tidak bisa mengartikan kebisuan dari ibunya Hans itu saat mendengar ucapannya.


Lalu Sassy semakin kaget karena Mary tiba-tiba memeluknya. Dia pikir Mary akan memakinya atau apa. Tapi ternyata dia salah.


"Anak yang malang ..., sekarang kau tidak sendiri lagi, ada kami bersamamu. Anggap saja aku sebagai ibumu." ucap Mary menatap prihatin, lalu tersenyum hangat padanya. Sassy terdiam kaku sampai tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan nya. ("Benarkah ini ! Benarkah dengan apa yang ku dengar barusan.?") batin Sassy menatap nanar Mary. Lalu mengalir tetesan air mata dari sudut matanya. Setelah sekian lama dia tidak pernah memanggil sebutan ibu, bahkan saat ini dia begitu kaku untuk mengucapkan nya.


"Terimakasih bibi, terimakasih banyak."


"Sudah kukatakan anggap aku ibumu nak, jadi kau juga harus memanggilku dengan sebutan ibu." ucap Mary menyela ucapan Sassy.


"Baiklah ibu .. Terimakasih." ucap Sassy terharu sampai membalas pelukan Mary.


"Maafkan ibunak, karena begitu senang melihat calon menantuku, sampai lupa membuatkan makanan untukmu, ibu kedapur dulu sebentar ya."


"Kalau begitu biar kubantu." ucap Sassy memawarkan diri. Mary tersenyum senang mendengar nya.


Untungnya Sassy sangat berbakat dalam hal memasak, sehingga tidak membuatnya kesulitan dalam membuat menu masakan, apalagi yang menurutnya cukup sederhana. Kehidupan nya yang mandiri seolah memberi keuntungan tersendiri baginya. Berbeda dengan Mary sendiri yang tidak pandai dalam memasak, tapi tetap kekeh ingin melakukannya.


"Sudah siap." seru Sassy bersorak gembira.


"Ibu akan memanggil Hans dan ayahnya untuk ikut mencicipi masakan kita, eh. Lebih tepatnya masakanmu." ucap Mary terkekeh geli.


Mereka semua sudah berada dimeja makan. Hans dan ayahnya mengunyah pelan makanan itu, karena bagi mereka itu adalah hal yang mengerikan setiap kali mencoba masakan ibunya. Tapi kali ini berbeda. Rasanya terasa begitu lezat di lidah mereka.


"Wah.. Ibu, aku sangat terharu, akhirnya masakanmu sangat lezat kali ini." ucap Hans memuji ibunya. Sassy hanya terkekeh mendengarnya. Begitu juga dengan ayahnya Hans yang tidak berhenti memuji istrinya. Tapi Mary justru tertawa geli mendengarnya. Membuat Hans dan ayahnya saling menatap heran. Sassy hanya mengangkat bahu seolah tidak tahu apapun.


"Itu bukan masakanku. Tapi Sassy yang memasaknya." ucap Mary menunjuk Sassy.


"Benarkah?" ucap Hans memastikan.


("Kalau begitu, ayah harus membantuku. Untuk mendapatkannya secepatnya.") balas Hans dengan berbisik pelan.


Ayahnya hanya mengacungkan jempol pertanda setuju dengan rencana Hans. Lalu mereka tersenyum memikirkan rencana yang akan segera mereka buat.


***


Memang mempertahankan sebuah hubungan akan penuh perjuangan serta ujian. Setiap permasalahan yang muncul harus bisa diatasi bersama. Dan dengan rasa percaya, setiap masalah yang ada akan lebih mudah untuk diselesaikan baik-baik.


Nayna yang berjalan menuju ruangan Daniel, tidak sengaja memergoki Celine yang bertingkah aneh disana. Nayna menyipitkan matanya mencari tahu Apa sebenarnya yang dilakukan wanita itu.


"Apa yang kau lakukan disini Celine?" tanya Nayna curiga.


Celine terjingkat kaget, namun langsung mengubah ekspresinya seolah tidak terjadi apapun. "Memangnya kenapa jika aku ingin kesini ! Bahkan Daniel saja tidak pernah melarang, Baru jadi tunangan nya saja kau sudah bertingkah sok berkuasa." ucap Celine ketus.


Nayna mengubah ekspresinya menjadi datar. "Kau merasa tidak bisa mencapai cinta tanpa menjadi perusak hubungan orang lain, betapa menyedihkannya hal itu. Sudahilah sebelum terlambat." ucap Nayna dingin, namun terdengar memperingatkan.


"Cih, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan menang." ucap Celine mengangkat wajahnya, dan langsung berjalan keluar. Meninggalkan Nayna seorang diri disana.


Nayna mendesah letih.


"Nayna? Apa kau sudah lama menungguku?" ucap Daniel yang baru saja masuk keruangannya.


"E,, tidak juga. Aku hanya ingin menyerahkan ini padamu." ucapnya menyerahkan sebuah map pada Daniel.


Nayna masih memikirkan apa yang dilakukan Celine tadi, sampai dia tidak begitu mendengar ucapan Daniel. ("Apa sebenarnya yang di rencanakan wanita itu?") batinya.


"Nayna, kau baik-baik saja?" tanya Daniel melihat Nayna yang sibuk dengan pikirannya.


"E .. Aku baik-baik saja. Daniel apa kau tahu bahwa tadi Celine datang kemari?" tanya Nayna penasaran.


"Aku rasa tidak. Tapi meskipun dia ada disini itu sudah biasa Nayna. Sejak dulu dia biasa keluar masuk tempat ini." ucap Daniel santai. Entah mengapa Nayna tidak menyukai hal itu.


"Kalau begitu aku pergi dulu." ucap Nayna melangkah keluar dengan perasaan kesal.


***BERSAMBUNG ..


***


HALO READERS JIKA KALIAN SUKA JANGAN LUPA KASIH LIKE, JEJAK, DAN VOTE SEBANYAKNYA. DAN JANGAN LUPA KRISAN NYA YANG MEMBANGUN BIAR AUTHOR SEMANGAT NULISNYA. TERIMAKASIH***.