
Sudah satu minggu lebih berlalu ....
"Daniel?" panggil Nayna pelan. Dengan cukup cerius.
"Ya." jawabnya tanpa menoleh kearah Nayna.
"Apa kau benar mencintaiku?"
"Tentu saja Nayna. Memangnya kenapa?" ucap Daniel bertanya balik.
"Kenapa kita tidak menikah saja !!"
Daniel terkesikap mendengarnya. Entah apa yang mengganggu pikiran nya selama ini, sampai tidak berfikir akan hal itu. Lagi pula mereka sudah bertunangan, tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menundanya.
"Apa kau tidak ingin menikah denganku?" ucap Nayna polos. Melihat wajah Daniel yang seakan sedang mempertimbangkan sesuatu.
"Bukan begitu Nayna. Hanya saja ... Ini bukan waktu yang tepat, aku akan menikahimu secepatnya jika masalahku sudah selesai." ucap Daniel bersungguh-sungguh.
"Memangnya masalah apa yang sedang kau hadapi Daniel?"
"Jangan khawatir. Ini bukan masalah serius, aku berjanji akan menikahimu secepatnya."
Nayna hanya menipiskan bibirnya, seakan sedikit kecewa dengan ucapan Daniel. Nayna merasa Daniel sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi meski begitu, dia juga tidak bisa bersikap egois dengan memikirkan dirinya sendiri. ("Mungkin Daniel sedang memiliki masalah yang rumit. Tapi dia tidak ingin aku khawatir.") batin Nayna mencoba mengerti keadaan Daniel.
****
"Kau cantik sekali anakku." ucap Alex menatap kagum putrinya yang memakai gaun pengantin. Gaun putih off shoulder yang sangat kaya detail bordir dan lace, serta dilengkapi veil super panjang dan lebar. Dan tidak lupa pula hiasan mutiara dibagian torsonya.
Saina tersipu malu mendengarnya. Karena masih terasa asing dengan pujian seperti itu dari ayahnya.
"Ayah ... Jangan membuat ku malu."
"Apa kau gugup?" tanya Alex. Seakan mengerti perasaan anaknya saat ini.
Saina mengangguk cepat dan menipiskan bibirnya.
"Itu wajar, semua orang mengalaminya. Tapi tenanglah semuanya akan berjalan baik-baik saja. Ayah hanya ingin mengatakan sejak saat kau nanti telah resmi menjadi istrinya. Berusahalah untuk membiasakan diri agar selalu bersikap terbuka dan senantiasa selalu menceritakan tentang apa saja kesulitan yang dihadapi olehmu ataupun dia. Tanamkanlah kepercayaan yang kokoh antara satu sama lain. Kau harus tau nak, kapan saatnya kau mendengar, dan kapan saatnya didengar, biasakan untuk memberi waktu kepada suamimu untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Janganlah terlalu cepat mengambil keputusan. Dengan membina kepercayaan sejak dini, akan membuat mudah ketika suatu saat nanti kalian di hadapkan oleh suatu masalah. Karena bukan sesuatu yang tidak mungkin jika kalian akan menemukan berbagai masalah dalam menjalani kehidupan berumah tangga. Namun dengan adanya saling percaya masalah apapun yang akan terjadi nanti, pasti akan terselesaikan dengan mudah."
Saina tertegun mendengarnya. Perasaannya sangat tersentuh mendengar hal itu. Namun ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya sejak tadi.
***Bagaimana jika dia tidak bisa menjadi istri yang baik ....
Bagaimana jika dia tidak bisa memenuhi kebahagiaan suaminya karena tidak bisa memberikan keturunan pada suaminya ...
Dan bagaimana jika dia pergi terlalu cepat*** ...
Segala sesuatu yang buruk terasa terngiang dikepalanya seolah itu adalah sebuah teror untuknya.
Saina melihat wajah ayahnya yang menatapnya sendu. Lalu mengangguk lemah. Tetap memaksakan sebuah senyuman dibibirnya.
"Ayo,"
Saina melingkarkan tangannya ke tangan Alex dengan erat dan berjalan perlahan. Setidaknya dia masih bisa bersyukur momen seperti ini masih bisa dia rasakan.
Pintu Aula itu telah terbuka. Perhatian para tamu tertuju kearah pintu itu. Semua orang menatap kagum pada Saina yang terlihat begitu cantik dan anggun. Tidak seperti biasanya.
Mereka berjalan perlahan dan berhenti saat telah berada di hadapan Frans. "Kuserahkan putriku padamu." kata Alex menyerahkan tangan Saina ke Frans yang telah mengulurkan tangan untuknya. Ada perasaan tak rela di hati Alex. Karena baru saja dia merasa hubungannya Dengan Saina membaik. Namun dengan begitu cepat dia mengambil Saina darinya.
Alex segera berjalan kearah istrinya. Lucia yang mengerti perasaan suaminya itu, hanya mengusap lembut dadanya.
Alex menahan air matanya agar tidak tumpah, bagaimana pun juga dia tidak ingin Saina ikut bersedih.
Nayna menatap kagum pada kedua pasangan itu. ("Bahkan hubungan Saina dan Frans jauh lebih mudah darinya. Mereka baru saja bertemu lalu memutuskan menikah.") batinya.
Hal itu tidak luput dari perhatian Kendrick yang juga ikut menghadiri pernikahan sahabatnya itu. Kendrick memperhatikan Nayna sejak tadi. Bahkan sejak Nayna memasuki gedung Aula itu. Meski Kendrick sangat ingin mendekatinya, tapi dia berusaha menahannya. Kendrick tidak ingin membuat Nayna menjauh darinya lagi. Biarlah dia melihat Nayna meski hanya dari kejauhan.
Setelah pengucapan janji dan sumpah pernikahan. Mereka saling memasangkan cincin sebagai tanda sumpah dan janji yang baru saja mereka ikrarkan.
Semua orang menatap haru, dan kagum pada pasangan itu. Tapi tatapan itu segera berubah menjadi khawatir saat Saina mulai merasakan pusing yang teramat sangat. Kepalanya seakan berputar-putar. Namun dia mencoba untuk tidak memperdulikannya dan melanjutkan untuk memasang cincin dijari Frans.
Saina semakin merasakan sakit dikepalanya bertambah berkali-kali lipat, seiring dengan keluarnya cairan kental berwarna merah dari hidungnya. Saat cincin itu sudah terpasang, Saina ambruk kedalam pelukan Frans yang dengan sigap menangkapnya.
SAINA .....
Semua orang syok histeris, terutamanya Alex dan Lucia. Mereka semua panik melihat Frans yang setengah berlari membawa Saina kedalam gendonganya untuk menuju kerumah sakit.
******Apa yang terjadi padanya?
Apa dia sakit?
Oh Tuhan semua dia baik-baik saja**** ..
Suasana disana berubah menjadi riuh karena kepanikan.
Nayna, ,Daniel, Sassy dan Hans juga mengikuti Mereka dari belakang untuk menyusul Saina.
"Mbak, apa yang terjadi pada Saina?" tanya Sassy sangat khawatir.
"Aku juga tidak tahu Sassy, kita akan segera mengetahuinya nanti." jawab Nayna tidak kalah khawatir.
"Tenangkan diri kalian, kita akan segera sampai." saut Hans yang sedang mengendarai mobilnya.
Daniel membawa Nayna kedalam pelukan nya, memberikan rasa nyaman yang akan membuatnya sedikit tenang. Meski Daniel sendiri bingung dengan yang terjadi sebenarnya.
Frans berlari dan berteriak memanggil petugas medis untuk segera menangani Saina. Wajahnya merah karena kecemasan yang luar biasa melandanya.
Saina telah dibawa keruangan ICU, Frans menarik kasar rambutnya karena begitu frustasi.
Alex berjalan dengan langkah lebar menuju kearah Frans dengan wajah merah padam.
Bugh...
Alex melayangkan sebuah tinju kewajah Frans yang membuat Frans mengeluarkan darah segar dari bibirnya.
Alex menarik kerah kemeja yang dikenakan Frans. "Katakan apa yang terjadi pada putriku. CEPAT KATAKAN ...!!" bentaknya.
Frans diam saja seakan dialah yang bersalah atas kejadian itu.
"Alex tenangkan dirimu, biarkan Frans memberi penjelasannya." ucap Lusia menarik tangan suaminya agar melepaskan Frans.
Frans menceritakan tentang riwayat penyakit Saina pada Alex dan Lucia. Meski ia tidak mengeluarkan air mata tapi dari suaranya, Frans seperti orang yang sedang menangis.
Lucia menangis pilu mendengar penjelasan Frans mengenai putrinya. Sedangkan Alex, hanya terdiam mematung seperti mayat hidup. Penyesalan didalam diri Alex semakin menjadi sampai dia tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Alex tidak henti-hentinya meninju dinding rumah sakit sampai tanganya mengeluarkan darah.
****BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH******* "