
"Hans, aku bersedia menikah denganmu,"
Hans mendongakkan wajahnya menatap Sassy yang menunduk malu mengatakan hal itu dengan sangat pelan. Meski begitu, dia masih bisa dengan jelas mendengarnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Hans seakan tak percaya. Menatap Sassy dengan penuh perasaan.
Sassy menarik nafas dan menghembuskannya, "Kau tidak salah dengar Hans. Aku bilang bahwa aku bersedia menikah denganmu." ujarnya lagi. Kali ini dengan bersungguh-sungguh, dan penuh keyakinan.
Hans tidak bisa berkata apa-apa, dia sangat bahagia sampai tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Lalu tanpa aba-aba, Hans meraup tubuh Sassy dan masuk kedalam gendongannya tanpa memperdulikan pekikan Sassy yang kaget dengan sikapnya itu. Hans begitu bahagia sampai memutar tubuh Sassy dari gendongannya. Mereka berdua tertawa bahagia mencurahkan rasa cinta yang tak akan pernah ada habisnya.
"Terimakasih Sassy, aku mencintaimu." ucap Hans sembari mengecup dahi Sassy dengan lembut dan penuh perasaan.
"Aku juga mencintai mu Hans." jawabnya tersenyum malu.
"Aku tidak sabar memberi kabar baik ini pada ibu. Dia pasti akan sangat bahagia."
Sassy mengangguk cepat sebagai tanggapan. Hans tidak kuasa menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir Sassy yang sudah seperti candu baginya.
Lalu kegitan mereka terhenti saat melihat pintu apartemen Hans yang terbuka.
Ibu ...
"Apa benar yang aku dengar barusan?"
"Ibu? Sejak kapan kau berada disana? Apa ibu mendengar semuanya?" tanya Hans salah tingkah.
"Ya," jawab Mary singkat.
Mary langsung memeluk Sassy yang terbengong ditempatnya. Mencoba mencairkan suasana yang terlihat canggung sebelumnya.
"Ibu sangat bahagia mendengar kabar ini. Selamat nak, kau akan menjadi bagian dari kelurga kami." ucap Mary memegang pipi Sassy dan menghadiahkan nya kecupan lembut di dahi Sassy. Sassy memejamkan sejenak matanya, merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu yang sudah sangat lama sekali tidak dia dapatkan. Dan kini kasih sayang itu akan hadir, diberikan oleh seorang ibu yang melahirkan pria yang sangat dicintainya.
Perasaan Sassy menghangat. Dalam sejenak, dia merasa begitu haru sampai tidak bisa menahan air matanya yang jatuh begitu saja. Begitu indahnya perasaan disayangi. Begitu indahnya memiliki keluarga yang utuh.
"Sssttt ... Nak kenapa kau menangis. Ini adalah saat bahagiamu. Kau seharusnya tersenyum bahagia." ucap Mary menghapus pelan air mata Sassy dengan ibu jarinya.
"Aku menangis karena terlalu bahagia bu. Terimakasih, Karena telah menerimaku menjadi bagian dari keluarga kalian. Terimakasih, untuk cinta dan kasih sayang yang telah kau berikan. Dan terimakasih, karena telah memilihku untuk menjadi menantumu " ucap Sassy sembari memeluk erat Mary.
"Tidak perlu seperti itu nak. Takdirlah yang mempersatukan kalian. Disini ibulah yang beruntung, karena Hans tidak sembarangan dalam memilih pasangannya. Bagaimana bisa gadis baik sepertimu mencintai putraku yang seperti itu." ucapnya sembari melirik Hans seakan mengejeknya.
Hans sendiri mencebik kesal melihat ibunya yang menjelek-jelekan dia dihadapan Sassy. Namun setelah itu dia tersenyum melihat kedua wanita yang sangat berarti baginya saling mencurahkan cintanya satu sama lain. Cinta antara ibu dan anak, yang tidak memiliki hubungan darah, namun saling menyayangi.
"Sudah cukup drama nya. Hans, ibu akan mengajak Sassy pergi kebutik memilih gaun pengantin. Ibu tidak ingin menunda-nunda, karena takut nanti Sassy akan berubah pikiran." candanya membuat Sassy tertawa lepas. Hans hanya menggeleng kepala melihat kelakukan ibunya itu.
"Baiklah ibu, terserah kau saja." jawabnya menaikan bahu, seakan tidak perduli.
Tanpa menunggu lama Mary menggandeng tangan Sassy untuk meninggalkan Hans sendirian di apartemennya.
Hans menatap kepergian dua wanita itu dengan senyuman mengembang. Sampai akhirnya mereka tidak terlihat lagi dari balik pintu.
***
"Sesuai dugaan ibu, kau terlihat cantik memakai gaun apapun."
ucap Mary menatap Sassy kagum.
"Ah ibu, kau membuatku malu. Tapi aku tidak ingin yang berlebihan seperti ini. Aku ingin yang terlihat simple dan biasa saja. Karena percuma gaun sebagus apapun jika aku tidak nyaman menggunakannya."
"Kau benar sayang!! bagaimana dengan gaun yang ini." ucap Mary menunjukan gaun model A-line. Desainnya yang mewah dengan motif floral akan membuat Sassy tampak seksi tapi tetap elegan dan mewah. Warna gaun yang putih semi silver ini sangat kalem dan sangat pas dipadukan dengan embroidery floral yang warnanya tegas.
Sassy memutar tubuhnya memakai gaun yang indah itu yang melekat pas ditubuhnya.
"Bagaimana Sassy?"
"Baiklah bu aku setuju." jawab Sassy menatap kagum akan keindahan gaun itu.
****
Aku mencintai mu Nayna. Sudahkah aku mengatakannya hari ini?" tanya Daniel sembari memeluk hangat wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu.
"Aku sudah mendengarnya lebih dari puluhan kali Daniel." saut Nayna dengan menetralkan deru nafasnya karena percintaan yang baru saja mereka lakukan. Yang menyisahkan tubuh lembab berkeringat. Daniel melakukannya berkali-kali, seakan tidak pernah cukup untuk menuntaskan hasratnya. "Tapi aku tidak pernah bosan mendengarnya." tambahnya lagi dengan memberikan senyuman menggoda yang membuat Daniel tidak akan tahan jika melihatnya.
"Aku juga tidak akan pernah lelah mengatakannya padamu istriku." ucap Daniel dengan nada sensual, sembari menyelusuri punggung tubuh Nayna yang masih berbalutkan selimut. Daniel bahkan tidak bisa menyembunyikan senyuman kebahagiaan yang terus mengembang diwajahnya.
Segala hal telah mereka lalui. Namun siapa sangka bahwa kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini hanyalah sebuah permulaan dari beratnya ujian kedepannya. Namun mereka tidak akan bisa menduganya karena terlalu larut dalam dunia mereka sendiri saat ini. Menghabiskan waktu bersama seakan tidak ingin terpisah.
Nayna kembali merona saat melihat Daniel yang kembali berhasrat padanya. Dalam sekejap suasananya kembali menjadi syahdu.
"Daniel, jika kita melakukan nya terus, maka aku akan kesulitan berjalan besok." ucap Nayna sedikit kesal.
"Kau tidak perlu berjalan karena aku akan menggendongmu." jawabnya santai.
"Kau ingin membuatku malu dihadapan ayah dan ibu? Apa kata mereka nanti!"
"Nayna, mereka juga pernah merasakan ini. Jadi aku rasa mereka akan mengerti."
Nayna mendelik sebal dan memukul punggung Daniel menggunakan bantal.
Kini kamar itu penuh dengan canda dan tawa. Malam yang semakin larut membuat tempat itu menjadi semakin panas bagi kedua insan yang tiada hentinya melakukan penyatuan. Cinta yang ada diantara mereka seakan meluap-luap dalam desahan kenikmaatan yang tiada tara.
***
BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH***