MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 32



TELEPON NADIA


"Kamu yakin mas nggak mau bawa Putri dan Adit untuk tinggal bareng kita?" wanita itu mengutarakan isi otaknya yang tidak bisa ia tahan sejak masih di kediaman Aina yaitu ipar Azri dari Almarhumah istrinya yang kedua.


Kini mereka sudah berada didalam kamar, setelah seharian menemani dan merawat putri yang demamnya tak kunjung turun hingga sore tadi.


Azri menggeleng pelan kepalanya sebagai jawaban. Dirinya diam. Telihat lesu dan air mukanya berubah hitam saat istrinya melontarkan tertanyaan itu. Sebenarnya kenapa dia tidak mahu membawa serta kedua anak itu kesini? Batin Alista bertanya-tanya.


Alista duduk di tepi ranjang dan masih memandang lekat suaminya.


"Beneran mas?. Mereka itu masih kecil dan pasti butuh kehadiran dan kasih sayang sosok orang tua yang utuh apala... "


"Lis. Aku nggak mau bahas ini lagi. Harus berapa kali kamu tanya itu. Jawabannya sekali nggak ya tetep nggak."


Nada bicaranya sedikit meninggi dan tanpa melirik lawan bicaranya sama sakali lalu segera merangkak menuju ranjang tepat sebelah kiri Alista.


"Ya kali aja kamu berubah pikiran mas. Aku kan cuma nanya"


"Udah malam Lis. Tidur" final Azri segera menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya hingga bagian dada.


Sedangkan wanita itu masing menatap bingung terhadap Azri. Banyak pertanyaan berlalu lalang dibenaknya. Setelah beberapa menit ia segera berbaring dan membelakangi Azri. Mencoba untuk terlelap namun tidak bisa. Terlalu banyak jawaban yang ia inginkan dari laki-laki disampingnya itu. Bagi Alista, Azri benar-benar seorang pria misterius yang ia sendiri susah untuk menebak jalan pikirannya.


Sejauh ini dia belum benar-benar tahu siapa sosok orang yang telah menjadi suaminya itu. Apalagi mereka tidak melakukan pengenalan lebih dalam sebelum akhirnya mereka menikah atau bisa disebut pacaran. Hanya kencan beberapa kali saja mana bisa ia menebak bagaimana perangai laki-laki itu. Bahkan Azri sudah memiliki 3 orang anak saja dia tidak tahu sama sekali. Apakah keluarganya tahu akan hal itu? Sungguh jahat mereka karena tidak memberi tahukan situasi yang sebenarnya batin Alista. Semakin sakit bila ia mengingat semua yang selama ini terjadi dalam hidupnya.


Semakin tidak karuan Alista dibuatnya. Mengapa susah sekali untuk berunding dengan Azri disetiap moment saat mereka berselisih pendapat. Bukan kah ini akan membuat Putri dan juga Adit akan sangat membenci dirinya. Mereka akan berpikir kalau Alista adalah seorang ibu tiri jahat yang hanya menginginkan ayah mereka saja tanpa mahu menyayangi anak-anaknya, padahal cerita sebenarnya tidak begitu. Belum Apa-apa saja Putri sudah menunjukkan tantrumnya kepada Alista. Bahkan ia enggan menganggap ataupun memanggilnya ibu, apalagi kalau mereka besar nanti. Seiring pertumbuhan mereka yang tanpa kehadiran sosok satu orang tua sekalipun.


Pikiran Alista seolah tenggelam semakin dalam hingga kantuk menyerangnya dan tertidur dengan posisi masih membelakangi Azri.



Flashback


Alista mendorong dada Fais guna melepas ciuman mereka yang sudah beberapa puluh menit berlalu. Ia akan menganggap ini sabagai ciuman pelepas rindu yang sudah ia rasakan dan juga yang akan ia rasakan sebab ia sudah bertekad untuk tidak pernah lagi menemui laki-laki yang duduk dihadapannya.


"Maaf" Alista berusaha memecah rasa canggung diantara mereka.


"Aku mau setelah ini, jangan pernah lagi kamu nemuin aku Is!"


Fais bingung, bukankah barusan mereka berciuman. Dan Alista sangat menikmatinya. Dahinya berkerut.


"Maksud kamu apa? Ara please jangan siksa aku dengan hukuman sejahat itu"


"Marah masih bisa diobati. Tapi disini" Alista menunjukkan dadanya dengan kelima jarinya.


"Disini rasa kecewa aku udah nggak bisa lagi diobati Is. Seperti yang aku bilang kemarin. Aku-bukan-jodoh kamu. Dan kebahagiaan kamu hanya bersama orang lain. Dan pastinya bukan aku. Aku mohon kamu ngerti. Kamu nggak bisa kaya gini. Aku itu istri orang. Kamu salah kalau menganggap aku akan menerima kamu lagi seperti dulu setelah kamu melepaskan aku begitu saja. Nggak peduli dengan situasi kamu yang berbeda sekalipun. Tetep. Nggak bisa Fais. Jadi stop berharap lebih dari aku"


Gelengan Alista semakin kuat seiring air matanya luruh membasahi pipi. Untuk apa dia kini menangis batinnya. Fais tetap mengeluarkan kata-kata yang dia anggap bisa meluluhkan hati Alista meski hasilnya akan tetap sama tapi ia tidak peduli.


Off


Alista masih mengingat moment itu saat ia terakhir kali bertemu dengan mantan kekasihnya.


"APA??" Alista menjauhkan ponsel dari daun telinganya mendengar teriakan dari ujung sana yang bisa saja akan merusak gendang telingannya saat ini.


"Si kampret Fais nemui kamu lagi Lis? Gila apa dia? Udah lupa apa gimana dia nyerah gitu aja saat itu, saat kamu bener-bener butuh dia biar lepas dari Gilang. Terus rencana kamu selanjutnya apa Lis?"


"Rencana yang mana?"


"Ya ngadepin si kunyuk itu. Emang apa lagi"


"Aku nggak mau lagi ketemu dia Nad. Udah cukup. Aku cuma mau jalanin apa yang harus aku jalanin saat ini. Itu aja. Aku udah capek dioper sana oper sini tanpa mereka mau tau gimana perasaan aku dan apa mau aku"


"Bagus deh. Bagus. Tandanya kamu punya pendirian"


Ya saat ini Alista sedang melepas rindu dengan menelepon Nadia, sahabatnya dari mereka sekolah dasar. Ia masih betah saja berada di Ibukota hingga saat ini.


"Kapan pulang Nad? Nggak kangen apa sama aku?"


"Ya elah baru juga berapa bulan nggak ketemu, dulu kemana aja lu. Kuliah di Jogja sampe bertahun-tahun aja nggak kangen sama gue."


"Tck... udah mendarah daging lu gue nya yah?"


"Maklum Lis. Udah bertahun-tahun disini jadi serasa rumah sendiri."


"Jangan bilang kalau kamu kepincut sama bujang Jakarta... wah parah kamu Nad. Pantes aja betah nggak balik-balik"


"hehe udah dulu yahh. Kapan-kapan nelpon lagi dah. Bye"


Sambungan telepon pun putus begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Alista. Wanita itu berdecah kesal. Bahkan salam pun sudah ia lupakan saking lamanya berbaur dengan orang-orang di Ibukota.


Nadia memang teman terbaik bagi Alista. Dari sekolah dasar sampai mereka SMA, sayang nya nasib Nadia tidak seberuntung Alista yang bisa meneruskan sekolahnya hingga universitas sehingga dia merantau ke Ibukota sejak kelulusannya saat itu. Bahkan saat Alista kabur waktu ia bercerai dengan Gilang, Nadia lah yang membantunya masuk bekerja dipabrik tempat ia bekerja.