MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 29



**Terimakasih untuk yang masih setia mampir dan memberi ♥️ untuk novel ini. Ditunggu like dan komentarnya ya biar tambah semangat. Maaf kalau rada gajelas alur ceritanya.


-happy reading.



Gilang terduduk lesu setelah membanting barang yang ada di atas meja dan membuat buku-buku di perpustakaan mininya jatuh berserakan diatas lantai hingga ruangan itu terlihat tak berbentuk. Sebagai bukti bahwa dirinya merasa kecewa, kecewa kepada dirinya sendiri maupun kepada Alista.


Napasnya masih naik turun. Tangannya ia sanggah dengan paha kakinya yang sedikit terlipat. Dijambaknya dengan kasar rambut coklat miliknya, entah tatapan apa yang saat ini ia perlihatkan kepada sahabatnya itu. Ia mulai mengangkat wajah sedihnya menatap Anto.


"Apa kurangnya aku To?? apa aku kurang tampan, hah!?" ia mulai menunjukan senyum sinisnya "Atau aku ini kurang kaya To?. Kamu sahabatku kan? Jawab To. Apa aku ini kurang uang? Aku bisa memberikan apa saja yang Alista inginkan, apapun itu. Tapi kenapa? Kenapa bahkan dia tidak melirikku sama sekali malah dia memilih laki-laki miskin yang bahkan sudah meninggalkan dirinya?" Racaunya semakin kacau. Ia berpikir bukan hanya Azri saja yang memang suami Alista yang menjadi penghalangnya untuk meminta Alista kembali lagi kepadanya kini bertambah lagi masa lalu wanita itu yang muncul kembali.


Anto hanya menatap sedih sahabatnya yang berkali-kali bersikap seperti ini. Oh tidak. Kali ini Gilang terlihat lebih frustrasi dibanding dengan saat dirinya bercerai dengan Alista waktu itu. Bahkan ia terlihat berlapang dada saat Ayah dari wanita itu ikut andil dalam masalah perceraian mereka walaupun tidak lama setelah itu ia kembali mencari keberadaan wanita itu lagi.


'Apa salah? aku hanya menjalankan tugasku untuk memberinya informasi yang sebenarnya' batin Anto. Anto bahkan sampai lupa kalau dirinya belum memakai sehelai bajupun setelah berenang, ia terus memantau Gilang, ia takut sahabatnya akan bertindak nekad, sampai ia melupakan dirinya sendiri. Dan kini boxer dan rambut yang awalnya basah hingga meneteskan air sudah kering dengan sendirinya.


Untung saja mami Rahma sedang ada urusan diluar kota kalau ia melihat anak semata wayangnya seperti ini ia akan bersedih. Apalagi yang Rahma hanya memiliki Gilang saja saat ini. Ayahnya (kakek Gilang) telah lama meninggal sedang suaminya atau ayah Gilang meninggal saat Gilang masih bersekolah dasar.


Anto berjongkok mendekati Gilang yang masih dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Tenang saja aku akan menyelidiki lagi ada hubungan apa antara Alista dengan Fais. Sekarang istirahatlah! " ucapnya sembari menepuk bahu Gilang, berusaha menenangkan sahabatnya itu. Gilang hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali tanpa menjawab sepatah katapun, ia tahu Anto akan menjalankan tugasnya dengan baik.


Pikiran Gilang terus saja berputar. Ia menyesal, sungguh menyesal mengapa ia tidak mengajak wanita itu berkencan saja dahulu agar ia lebih tahu bagaimana Alista sebenarnya. Meskipun diam-diam Gilang mencari detail segala hal yang berkaitan dengan Alista namun sayang, itu tidak berlaku untuk hati wanita itu. Gilang teringat lagi perkataan sang bunda


"Mami akan dukung apapun yang kamu mahu. Yang kamu mimpikan termasuk gadis itu. Tapi tidak seperti ini caranya. Tidak dengan berbuat semaumu sendiri. Jadikan dia yang halal untukmu dan buktikan kalau kamu sangat menyayanginya" teguran Rahma saat beliau tahu sikap Gilang terhadap Alista kala itu. Dan kejadian itu jugalah yang memantapkan Rahma untuk mengajak serta Gilang untuk tinggal dan melanjutkan sekolah SMA serta Kuliahnya di Jakarta sebelum akhirnya ia meminangkan gadis itu untuk Gilang. Juga kejadian itu pula yang membuat Gilang mengklaim Fais bahwa ia adalah musuh dan saingan pertamanya.


*flashback


Bel pertanda pulang berbunyi beberapa menit yang lalu. Para murid SMP GARUDA bergegas meninggalkan kelas. Ada yang langsung pulang, ada juga yang mengikuti ekstrakulikuler sekolah bahkan ada juga yang masih sibuk bergosip diteras kelas seperti yang dilakukan Alista dan kedua sahabatnya yaitu Nadia dan Cecilia. Mereka masih asik duduk diteras sekolah dengan posisi menghadap lapangan.


Tiba-tiba sebuah bola voly mengglinding pelan menyentuk sepatu Alista. Ia segera mengambil bola itu dengan kedua tangannya dan tersenyum saat melihat seseorang dari kejauhan berlari kearahnya, yang ia tahu bahwa laki-laki itu berniat untuk mengambil bola yang ada ditangannya.


Deg


"Ya ampun seksi banget" batinnya. Ia melihat keringat berkucuran diwajah laki-laki itu.


"Iyah, nggak kenapa-napa" jawabnya sedikit terpesona dengan wajah tampan nan seksi dihadapannya. "Nih" sodornya memberikan bola voly itu.


"Makasih" ucap bocah laki-laki itu sambil mengelus rambut Alista dan sedikit mengacaknya. Alista hanya mengangguk dan menatap kosong dibalik punggung yang berlari meninggalkannya.


"Ya elah kedip bu, kedip ntar kesambet. Segitunya amat lihatnya. Hayuk pulang" goda Nadia sambil sedikit menyikut tubuh Alista guna menyadarkan lamunannya. Alista hanya menunjukkan deretan giginya dan tersenyum geli.


"Bocah rese itu lagi" batin Nadia ketika melihat dua bocah laki-laki, saat ia memutar tubuhnya dan akan mengandeng Cecil dan segera berlalu.


"Hayuk" setelah tersadar ia membalik tubuhnya menghadap pintu gerbang saat hendak melangkah dan menyusul sahabatnya yang sudah berjalan mendahuluinya.


Byuur


"Aarrghh" teriaknya saat menyadari ada yang menyiram rambutnya dengan air. Jelas membuat Nadia dan Cecil yang belum jauh darinya menoleh mencari asal teriakan itu.


"GILANG" teriak keduanya bersamaan kemudian berlari menghampiri Alista.


Ya, saat itu Gilang dan Anto sedang berjalan dari arah kantin menuju kelas untuk mengambil tas mereka dan melihat bocah laki-laki yaitu Fais mengusap rambut Alista. Cemburu jelas, kesal pasti. Kebetulan ia memegang sebotol air mineral sekalian saja ia siramkan kepada gadis itu guna menghilangkan jejak tangan Fais pada rambut Alista pikir Gilang.


" Ya ampun Lis. Are you ok?" Tanya Cecil setelah membawa Alista ke area parkir sepeda mereka. Lalu memberikan sapu tangannya kepada sahabatnya untuk mengelap air yang membasahi wajahnya. Alista hanya diam dan memberengut.


"Kayaknya dugaan aku bener deh Lis. Gilang itu suka sama kamu." celetuk Nadia


"Suka dari hongkong apa?" Jawab Alista ketus.


"Dia pasti lihat kamu diusap rambutnya sama si Fais makanya dia marah, terus nyiram kamu deh pake air" Nadia memang sempat melihat Gilang dari arah kantin tadi.


"Suka tuh ditembak bukan disiram air begini" batin Alista. Sebenarnya ia tidak percaya Gilang menyukainya karena sikap jahilnya itu memang sudah biasa ia berikan kepada Alista.


"Jangan ngaco kamu. Jelas-jelas dia tuh iseng begitu. Mana ada suka-sukaan" balasnya ketus


Dari kejauhan Gilang hanya memperhatikan ketiga gadis itu dengan wajah sendu. Karena merasa bersalah.