MY DESTINY

MY DESTINY
episode 73 SEBUAH TRAGEDI



Nayna memandang lembut wajah suaminya. Daniel terperangah seakan tak percaya. Lidahnya seakan keluh untuk berkomentar.


Lucia sendiri tersenyum haru dan memeluk Nayna dengan begitu erat. "Selamat nak, selamat atas kehamilanmu."


"Terimakasih ibu."


"Nayna ... Terimakasih," ucap Daniel lembut, sembari menatap perut Nayna yang masih nampak datar.


Kehamilan Nayna membuat seluruh keluarga Mereka bahagia. Setelah sekian lama, akhirnya mereka akan segera memiliki penerus dan pewaris harta Mereka. Marco sendiri tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Marco mendekati Nayna. Untuk pertama kali Nayna mendapatkan senyuman dari ayah mertuanya itu.


"Selamat!


aku kira hanya itu kata yang cukup tepat, untuk menyatakan engkau sekarang sudah menjadi wanita yang hebat, Engkau akan menjadi seorang ibu! sangat menakjubkan." ucap Marco dengan mengangkat wajahnya, menatap bangga pada menantunya itu.


"Terimakasih ayah," ucap Nayna berkaca-kaca. Nayna sangat tersentuh dengan ucapan yang keluar dari mulut ayah mertuanya itu.


Seorang ibu adalah wanita yang paling sempurna, yang para bidadari-bidadari cantik didunia ini pun akan iri melihatnya, Dan para wanita-wanita di bumi ini yang mengaku-ngaku sebagai penjelmaan dewi, belum tentu mau menjelma sebagai seorang ibu.


Daniel sendiri tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya dengan kata-kata. Daniel memeluk Nayna dan menghujaninya dengan ciuman yang bertubi-tubi. Meluapkan kebahagiaan nya yang seakan tak tertampung lagi. Mencurahkan segala rasa cintanya tanpa henti pada wanita yang telah membuat hidupnya jadi berarti.


Terimakasih karena telah memberikan padaku kado terindah yang tiada bandingannya. Terimakasih sudah menjadikanku bukan hanya seorang suami untukmu. Tapi, juga seorang ayah untuk calon buah hati kita. Tak ada kata yang bisa kuucapkan selain terimakasih. Padamu calon ibu untuk anakku." ucap Daniel dengan begitu tulus dan lembut. Daniel memamerkan kemesraan mereka tanpa memperdulikan keadaan disekeliling mereka. Nayna, kau harus menjaga kesehatanmu. Kesehatan ibu hamil sangat berpengaruh pada kesehatan janin. Ketika kesehatan ibu memburuk, kondisi janin juga dapat mengalami hal yang sama. Janin bahkan bisa tertular penyakit dari ibunya. Oleh sebab itu, menjaga kesehatan selama kehamilan sangat penting untuk dilakukan." ucap Lucia lembut.


"Baiklah ibu, aku akan menjaganya dengan baik." jawabnya tersenyum tulus.


..****..


Pagi ini Nayna duduk berselonjor diruang tamu, sembari membaca majalah tentang busana. Siapa tahu dia memiliki banyak ide setelah melihat itu. Pikirnya.


Meski Kehamilannya kerap kali menimbulkan masalah. Seperti: kram, bolak-balik buang air kecil, sakit punggung. Dan yang paling menjengkelkan mual dipagi hari. Meski itu bukan masalah yang cukup serius, namun Daniel memaksa Nayna untuk memeriksakan kesehatannya setiap saat. Ditambah lagi emosi Nayna yang tidak stabil. Semenjak kehamilannya Nayna sering kali merasa muram dan mudah sedih. Maka dari itu Nayna sering mengajak Alika bermain untuk mengalihkan perhatiannya. Keceriaan dan kepolosan Alika mampu membuatnya bersemangat kembali. Bagimanapun juga Nayna sadar bahwa ibu hamil harus selalu bahagia, agar janinnya juga bahagia dan bertumbuh kembang dengan baik.


Daniel sendiri tidak mengijinkan Nayna untuk bekerja lagi selama hamil. Daniel tidak ingin Nayna kelelahan dan akan berakibat buruk pada calon anaknya nanti.


****


Sembilan bulan berjalan begitu cepat. Kandungan Nayna telah sampai pada minggu-minggu kelahirannya. Namun semakin besar kandungannya, semakin hilang masalah yang selama ini dia rasakan. Nayna tidak lagi mengalami morning sick dan sebagainya. Hanya saja sakit punggungnya masih sering terasa, namun tidak separah dulu diwaktu awal kehamilan.


Selama berhari-hari dirumah, Nayna semakin bosan dan merasa jenuh. Daniel sendiri semakin sibuk dengan pekerjaannya.


"Nayna,"


Nayna mengangkat wajahnya saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Apa kau bosan. Bagaimana kalau kita pergi berbelanja, bukankah banyak perlengkapan bayi yang masih kurang."


Nayna tidak tahan untuk mengulas senyumannya. Nayna mengangguk setuju dengan tawaran Lucia. Selama ini Nayna tidak pernah diijinkan Daniel untuk kemana-mana sendirian. Namun jika bersama ibunya, Nayna yakin itu tidak akan membuat Daniel marah.


"Aku setuju bu, Ayo." jawab Nayna bersemangat.


Dengan tergesa-gesa seakan takut Lucia berubah pikiran. Nayna mengambil tasnya, dan segera berangkat menuju pusat perbelanjaan. Sepanjang perjalanan Nayna tidak hentinya mengembangkan senyuman. Akhirnya setelah sekian lama dia terkurung dirumah, kini dia bisa keluar menghirup udara segar.


Mereka telah sampai dipusat perbelanjaan.


Nayna memilih banyak perlengkapan bayi dengan begitu antusias sampai tidak memperhatikan kesekelilingnya. Beberapa pasang mata sedang memperhatikan setiap gerak geriknya. Sampai pada akhirnya Lucia mengajak Nayna pulang karena sudah mulai curiga dengan beberapa pria yang memakai kaca mata hitam seolah sedang mengintai mereka.


"Nayna, ibu rasa sudah cukup. Ayo kita pulang sekarang." ucap Lucia menarik pelan tangan Nayna dengan perasaan was-was.


Nayna sendiri bingung dengan sikap mertuanya itu. Padahal mereka baru saja sampai dan memilih beberapa pakaian. Dengan perasaan campur aduk Nayna terpaksa mengikuti keinginan mertuanya untuk segera pulang.


Didalam perjalanan pulang Lucia bahkan tidak bisa menghilangkan kecemasannya. Ditambah lagi sebuah mobil hitam dibelakang mereka yang dengan sengaja mengikuti mobil mereka.


Namun Lucia tidak ingin Nayna merasa takut sehingga akan mempengaruhi janinnya. "Tidak apa Nayna. Kau tidak perlu khawatir."


Lucia bernafas lega ternyata mobil yang sejak tadi mengikuti mereka telah berputar haluan. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama saat menyadari wajah panik dari supir pribadinya.


"Nyonya sepertinya remnya blong," ucap supir itu dengan wajah ketakutannya.


"Ya tuhan Bagaimana ini !!"


Seakan tidak cukup disitu, Nayna mulai merasakan keram diperutnya secara terus menerus, Lucia semakin panik melihat Nayna yang mengalami kontraksi.


"Nayna tahan sebentar."


"Ibu, perutku sakitttt !!" rintih Nayna memegangi perutnya yang besar.


Lucia berada dalam situasi yang rumit saat itu, kepanikan yang melandanya membuatnya bingung harus melakukan apa. Untungnya hal itu segera teralihkan saat mendengar ponselnya berdering, dan tercantum nama Daniel disana. Lucia segera mengangkatnya dengan bergetar.


"Daniel ... ,"


"Ibu, kalian dimana?" tanya Daniel seakan memiliki insting bahwa ibu dan istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Daniel, rem mobil yang membawa kami telah dirusak. Supir tidak bisa menghentikan mobil ini, sedangkan Nayna mengalami kontraksi, sepertinya Nayna akan segera melahirkan."


Daniel menggeram frustasi mendengar itu. Betapa kalutnya situasi Daniel saat ini.


"Ibu dengarkan aku, berikan ponsel ibu pada supir kita sekarang."


Lucia segera mengikuti perintah Daniel untuk memberikan ponselnya. Nampak supir itu tengah mendengarkan intruksi dari Daniel. Supir itu nampak lebih tenang kali ini. Namun tidak pada Nayna yang masih kesakitan.


"Nayna bertahanlah ...."


Lucia memekik kaget saat sang supir membanting stirnya dan mobil yang membawa mereka akan menabrak pohon besar.


BRAAAAKKKKKKK ....


****


***BERSAMBUNG .......


TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.


***


HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA


JANGAN LUPA KASIH


LIKE 👍


KOMENTAR 😀


BINTANG 5


FAVORITE


KOIN


DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN


JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH***