
IBU .....
Mata Alika nampak berkaca-kaca melihat ibunya. Dengan perlahan Alika mendekati ibunya. Meycha masih belum menyadari kehadiran Alika disana. Meycha hanya menatap atap ruangan itu dengan Tatapan kosong dan hampa.
"Ibu," lirih Alika setengan berbisik didekat ibunya. Meycha mengalihkan pandangannya, melihat kesumber suara yang terdengar begitu merdu ditelingannya. Mata Meycha ikut berkaca-kaca menatap penuh penyesalan kepada putri Satu-satunya yang dia milikki.
"A-lika ...," ucapnya terbata. Alika mengangguk pelan dan memeluknya erat. Betapa besar sebuah kerinduan yang ada didalam benaknya, hingga melupakan semua perilaku buruk yang pernah ibunya lakukan dulu. Alika menangis haru dihadapan sang ibu yang terbaring lemah.
"Ma-afkan ibu anakku ... Maafkan ibumu yang jahat ini." lirihnya sembari meneteskan air mata penuh penyesalan. Alika bahkan tidak kuasa menahan air matanya untuk terus mengalir, Setelah sekian lama, akhirnya dia dipertemukan dengan ibunya. Alika menggeleng cepat mengusap air mata ibunya dengan lembut.
"Tidak ibu, ibu tidak perlu meminta maaf. Semuanya sudah berlalu, sekarang Ika ada disini. Ibu jangan menangis."
"Ibu menyesal telah meninggalkanmu nak. Maafkan kebodohan ibu." Meycha menggenggam erat tangan Alika dan sesekali menciumnya.
"Tidak ibu, jangan seperti ini. Sudahlah, Ibu harus banyak Istirahat agar ibu segera sembuh."
Meycha mengangguk pelan. Air matanya sudah mereda. Namun raut penyesalannya masih ada. Seakan sebuah kata maaf saja tidak cukup. Alika mengusap perlahan puncak kepala ibunya sembari menatap penuh kasih sayang dan kerinduan. Sementara Meycha sendiri sudah memejamkan matanya. Kondisinya yang lemah, membuat Meycha mudah sekali lelah.
Alika keluar dari kamar itu. Menutup pintunya secara perlahan agar tidak terdengar oleh ibunya.
"Apa sudah selesai?" tanya Gio yang telah berdiri dibelakang Alika sembari bersidekap. Alika tidak menangggapi ucapannya, hanya menatapnya penuh pertanyaan.
"Apa yang terjadi pada ibuku? Apa hubunganmu dengannya?"
"Sudah kukatakan aku adalah anak tirinya. Ibumu, maksudku ... Ibu kita mengalami penyakit yang cukup serius. Dia selalu memanggil namamu. Melihatnya seperti itu, membuatku merasa iba. Lalu aku mencarimu, untungnya hal itu tidak terlalu sulit bagiku untuk menemukanmu." Gio menghentikan ucapan nya, lalu menatap Alika lekat-lekat. "Meski aku bukan anak kandungnya, namun aku bersyukur bisa mendapat kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya. Aku hanya melakukan sesuatu yang menurutku benar."
Alika nampak murung dan menunduk lesu mendengar penuturan Gio. Ada rasa iri dalam hatinya. Bagaimana bisa Gio yang bukan siapa-siapa, malah mendapat kasih sayang dari ibunya. Sementara dia anak kandungnya sendiri malah ditelantarakan bersama bibinya. Namun meski begitu, Alika sendiri sadar bahwa mau bagaimanapun Meycha tetaplah ibunya. Tidak ada yang namanya mantan seorang ibu didunia ini.
"Dengar Alika. Ayahku memberi wasiat padaku untuk mempertemukan ibu dengan ayah kandungmu. Ada masalah diantara mereka yang belum terselesaikan." ujar Gio kali ini cukup serius, hingga Alika kembali berkerut heran.
"Aku tidak tahu ayahku dimana, apa dia masih hidup atau tidak. Aku tidak pernah tahu kabar tentang ayahku." saut Alika kembali murung.
"Kau memang tidak tahu. Tapi ... Aku rasa kakek yang ada dirumahmu itu tahu sesuatu tentang ayahmu."
Alika mengangkat kembali wajahnya. "Maksudmu kakek Marco? Dari mana kau tahu?"
"Aku punya banyak anak buah untuk menyelidiki sebuah kasus. Namun untuk kasus ayah kandungmu sepertinya kau harus menanyakannya pada kakekmu itu. Karena berdasarkan informasi yang aku ketahui. Kakekmu itu pernah terlibat kerjasama dengannya."
Alika nampak berfikir sejenak. "Baiklah, akan kulakukan." ujarnya mengangguk setuju. Gio tersenyum hangat melihat Alika yang terlihat cantik dan imut.
Gio tidak menyangka memiliki adik tiri secantik Alika. Lugu dan polos. Gio tersenyum penuh arti menatapnya.
~***~
Nayna melangkah masuk kedalam mansion Itu dengan wajah merah sehabis menangis. Perasaannya sedang kalut dilanda masalah yang datang secara bertubi-tubi. Namun masalahnya tidak cukup disitu, saat melihat Daniel yang telah berdiri didepan pintu saat dia masuk. Nayna tersentak kaget. Ditambah ekspresi wajah Daniel yang datar dan dingin.
"Da-niel? Kau sudah pulang? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi." Nayna melewatinya untuk tidak membuat Daniel curiga dengan membaca ekspresi wajahnya.
"Aku sudah mandi." sautnya datar.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan makan untukmu."
"Aku sudah makan."
Nayna mengangkat wajahnya memberanikan diri menatap Daniel. Raut kekecewaan nampak jelas diwajah Daniel. Matanya menatap tajam, seakan menguliti Nayna hidup-hidup.
"Kenapa Nayna? Kenapa kau terlihat begitu gelisah. Apa yang terjadi? Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan!"
Dada Nayna semakin bergemuruh. Apa Daniel sudah mengetahui semuanya? batinnya.
Daniel mendekati Nayna seolah mengintimidasinya. Menatap Nayna dengan tajam, rahangnya mengeras bahkan giginya menggertak. "Jika tidak ada yang ingin kau katakan, maka biarkan aku yang berucap. Apa yang kau lakukan dikantor Kendrick?"
"A-pa?,"
Nayna sejenak merasa lega. Karena Daniel masih belum mengetahuinya. Meski Nayna tahu bahwa seiring berjalannya waktu Daniel pasti mengetahuinya. Namun tidak sekarang, karena menurut Nayna ini bukan saat yang tepat.
"A-ku hanya ..."
"HANYA APA?" bentak Daniel memotong ucapan Nayna yang tergagap.
"Apa kau memberi kabar bahagia bahwa pria baji**an itu tidak jadi dipenjara. Apa kalian merayakannya?"
Nayna hanya menggeleng, entah mengapa lidahnya pun terasa keluh untuk membantah tuduhan Daniel dan membela dirinya. Melihat kebisuan Nayna, Daniel semakin kesal sampai membanting vas bunga yang berukuran besar hingga hancur berkeping-keping. Daniel meninju tembok hingga punggung tangannya berdarah. Perasaannya seakan hancur dan kecewa melihat istrinya menemui pria lain.
"Jika kau menyukai pria itu, maka pergilah bersamanya. Tinggalkan aku dan juga Aksha. Aku tidak akan mencegahmu !" Daniel membalikan badanya dan melangkah pergi, sebelum mendengar penjelasan Nayna.
Nayna jatuh terduduk sembari kembali terisak. Menatap punggung Daniel yang semakin menghilang dari balik pintu. Kepedihan dihatinya semakin menjadi kali ini. Entah Bagaimana caranya mengatasi semua masalah yang datang secara silih berganti. Nayna sampai begitu frustasi menghadapinya. Nayna tidak bisa kehilangan suami dan juga anak yang begitu dicintainya.
Pandangan Nayna mengarah kesebuah pistol yang tergeletak diatas meja. Dengan begitu cerobohnya Daniel sampai meninggalkan benda yang cukup berbahaya itu disembarang tempat. Untungnya Aksha tidak ada disana. Nayna memandanginya cukup lama, Seakan begitu tertarik dengan benda itu.
~***~
***BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH*****