
Marco menatap benci pada seorang pria yang berdiri dihadapannya saat ini.
"Kenapa kau membawa orang ini kesini Alika?" tanya Marco tajam.
"Kakek, aku ..."
"Aku ingin membawa Alika bersamaku. Dia putriku," ujar Nikhil memotong pembicaraan Alika.
Marco berdecih mendengar ucapannya. "Sejak kapan kau mulai menganggap nya sebagai putrimu. Kemana saja kau selama ini?"
Alika merasakan ketegangan yang luar biasa ditempat itu. Sementara Lucia hanya memperhatikan wajah Alika sembari menggendong Aksha.
"Aku tahu aku sudah banyak berdosa padanya," Nikhil menatap Alika saat berbicara. "Maka dari itu aku ingin menebusnya." tambahnya lagi.
"Bagaimana dengan dirimu sendiri Alika ... Apa kau ingin ikut dengan ayahmu?" Lucia menatap lembut wajah Alika saat berucap. Alika mengangguk pelan sebacdgai persetujuan. Marco tidak aisa menahan amarahnya, melihat hal itu.
"Bagaimana bisa, kau memilih bersama seorang pria yang pernah menelantarkanmu, Alika? Apa kau lupa bahwa dia adalah ayah yang tidak bertanggung jawab." seru Marco dengan amarahnya.
"Tapi dia Ayahku kek. Bagaimanapum dia, seburuk apapun dia tetap ayahku. Darahnya mengalir didalam tubuhku." Alika berucap selembut mungkin dihadapan Marco. Sementara Nikhil hanya menunduk lesu, merasa malu pada dirinya sendiri. Lalu pandangan Alika beralih pada Nikhil. "Biar bagaimanapun dia tetaplah Ayahku, tetap lah pahlawanku. Kalau bukan aku lalu siapa lagi yang menyebutnya pahlawan? Siapa lagi yang memanggilnya ayah?
Seburuk apapun ayah, dia tetaplah Ayahku, orang tuaku, dan aku akan tetap cinta padanya.
Dan aku yakin Ayah pun demikian terhadap aku."
Nikhil mengangkat wajahnya mendengar penuturan tulus Alika yang menyentuh hati siapa saja. Nikhil memeluk dan mengecup dahi putrinya dengan penuh kasih sayang. Marco sendiri hanya terdiam, sembari mempertimbangkan keputusannya.
"Marco ... Biarlah Alika menentukan pilihannya. Biarkan dia memilih kebahagiaan bersama ayahnya." ujar Lucia lembut.
"Kemarilah nak .." ujar Marco merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat agar Alika memeluknya. "Kakek sangat memyayangimu. Kakek hanya tidak ingin kau mengalami hal yang sama lagi suatu hari nanti. Tapi kakek juga tidak berhak menghalangimu. Jika kau memilih bersama ayahmu, maka pergilah. Tapi kau juga harus sesering mungkin datang kemari menemui kami." Alika tersenyum senang mendengar keputusan Marco.
"Terimakasih kakek ..." Alika semakin mengeratkan pelukannya.
"Dan kau ... Jika kau melakukan hal buruk pada Alika, maka aku akan menghancurkan semua yang kau miliki tanpa sisa. Aku akan membuatmu menderita bahkan sampai ajalmu tiba. Ingat itu !!"
Nikhil tidak merasa terintimidasi dengan hal itu. Justru dia tersenyum senang, karena begitu banyak yang menyayangi putrinya.
~***~
Berita tentang kematian Kendrick tersebar luas. Membuat para pemujanya begitu histeris dan mengutuk siapapun dalang dibalik pembunuhannya. Sementara itu Nayna lah yang menjadi Satu-satunya tersangka. Namun sesuai janji Daniel, Nayna dinyatakan tidak bersalah karena telah banyak menyerahkan bukti-bukti kejahatan Kendrick. Serta Daniel juga memanipulasi tentang kedekatan Nayna dan Kendrick selama ini.
Nayna terbebas dari hukumannya. Namun tidak dengan rasa bersalahnya. Bagaimana pun juga Nayna telah menghilangkan nyawa seseorang. Dan hal itu membuatnya cukup depresi, untungnya Daniel selalu rutin membawa Nayna pergi ke psikeater untuk memperbaiki psikologis nya.
"Bibi, Bagaimana keadaanmu?" tanya Alika mendekatinya.
"Bibi sudah lebih baik sayang. Maaf bibi tidak ada disaat kau bersedih Karena kepergian ibumu." ujar Nayna murung.
"Tidak apa bibi, Ika bisa mengerti. Lagi pula Ika sudah berjanji pada diri Ika sendiri agar tidak menangisi kepergian ibu. Ika tidak mau ibu juga sedih disana."
Nayna tersenyum sendu mendengarnya. Nayna memeluknya penuh dengan kasih sayang yang selama ini selalu dia berikan.
Sementara Alika sudah membicarakan tentang ayahnya yang akan membawanya. Nayna tidak keberatan selagi itu kemauan Alika sendiri.
"Bibi ... Terimakasih telah merawat Alika dengan tulus dan kasih sayang bibi, Sampai Alika tumbuh sebesar ini." Alika berucap lembut sembari memegang tangan Nayna. "Ika tidak tahu Bagaimana caranya untuk membalas semua kebaikan bibi. Ika hanya berdoa semoga bibi selalu diberikan kebahagiaan dan umur yang panjang. Ika sangat menyayangi bibi." kali ini Alika meneteskan air matanya seakan mengucapkan salam perpisahan.
"Berjanjilah pada bibi, jika terjadi sesuatu nanti, kau harus memberitahu bibi." Alika mengangguk setuju. Biar Bagaimana pun Nayna tetaplah khawatir jika Alika berada satu atap dengan wanita yang saat ini bersama Nikhil. Nayna takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
"Alika, ada yang mencarimu." ujar Lucia mendekatinya diiringi seorang pria dibelakangnya.
"Gio?"
"Gio, aku merindukanmu." ujar Alika masih memeluknya erat. Meski mereka saudara tiri. Namun hal itu terasa asing bagi Nayna yang melihatnya. Mengerti akan situasi itu. Membuat Gio melepaskan tangan Alika yang memeluknya secara perlahan tentunya.
"Hai bibi, Bagaimana kabarmu!" sapa Gio ramah. Namun lidahnya seakan kaku mengucapkan kata bibi pada Nayna yang umurnya bahkan tidak beda jauh darinya. Tapi karena Alika memanggilnya bibi, jadi Gio juga harus seperti itu.
"Bibi baik, terimakasih sudah bertanya." saut Nayna dengan suaranya yang lembut. Gio hanya tersenyum hangat menanggapinya.
"Bibi, saya ingin bicara dengan Alika sebentar." Nayna mengangguk mengerti.
Gio menarik pelan tangan Alika untuk membawanya bersamanya.
Mereka berjalan sampai ketaman yang ada diluar mansion itu.
"Apa yang ingin kakak bicarakan?"
"Apa kau yakin ingin tinggal bersama ayahmu?"
Alika mengangguk mantap menanggapinya. "Memangnya kenapa?"
Gio menghela nafasnya. "Alika ... Aku rasa itu berbahaya bagimu. Wanita yang bernama Desy itu pasti tidak akan tinggal diam. Aku takut dia akan menyakitimu."
Alika malah tersenyum menanggapinya. "Jangan khawatir, aku bisa menjaga diriku. Lagi pula aku sudah besar. Aku bukan Alika yang kecil lagi."
Gio tidak menjawab. Hanya menatapnya dalam seakan menyiratkan sesuatu. Alika mencium pipi Gio sebagai tanda sayangnya sebagai seorang adik. Namun hal itu malah membuat Gio membeku merasakan sesuatu yang aneh. Padahal selama ini dia bahkan melakukan yang lebih dari itu pada pacarnya saat ini.
"Aku akan selalu menemui mu kak. Aku harap kau tidak keberatan dengan kehadiranku nanti." ujarnya membuyarkan lamunan Gio.
Gio hanya mengangguk pelan dan tersenyum samar. "Aku justru bahagia dengan kehadiran mu Alika." sautnya lembut. "Jaga dirimu baik-baik disana. Jika terjadi sesuatu maka segeralah beritahu aku." tambahnya lagi.
"Baiklah kakak. Kau orang yang kesekian yang mengatakan hal itu." ujar Alika sembari terkekeh. Gio mengacak rambut Alika merasa gemas dengannya.
Tanpa mereka sadari, Nayna sudah memperhatikan mereka sejak tadi. Dari jendela kamarnya. Nayna merasakan adanya sesuatu yang aneh dari gelagat Gio yang nampak menyayangi Alika. Bukan sebagai adik, tapi yang lain ...
***BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH***