MY DESTINY

MY DESTINY
episode 62



"Kendrick? Lama tidak bertemu, kau kemana saja?" tanya Nayna melihat Kendrick yang datang menemuinya.


"Maaf aku tidak memberimu kabar. Aku terburu-buru saat itu. Bibi Margie, dia meninggal..." jawab Kendrick lemah, Nayna kaget mendengarnya. Secara reflex dia langsung memeluk Kendrick. Dan hal itu membuat Kendrick cukup nyaman. Meski pelukan itu hanya sebuah simpati untuknya.


"Kendrick. Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Nayna sedih, bagaimanapun juga bibi Margie sempat dekat dengannya.


"Saat itu aku tidak bisa berfikir jernih Nayna. Aku begitu syok."


"Aku turut berduka untukmu Ken..."


"Terimakasih," jawabnya.


"Wahh, Daniel lihatlah. Aku mencium aroma perselingkuhan disini." ucap Celine tersenyum sinis memandang Nayna. Daniel hanya menatap dingin kearah Kendrick yang bersikap tenang.


"Jaga bicaramu Celine," sela Nayna tajam.


"Sebagai Seorang sahabat, aku berhak mengingatkan Daniel dari wanita sepertimu." ucap Celine sengaja mengejek.


"Cukup Celine. Hentikan ... " ucap Daniel menatapnya tajam. "Kau tidak perlu mengingatkanku. Aku sendiri tahu siapa yang pantas bersamaku."


Sambungnya lagi. Celine terdiam, seolah menggumamkan segala macam makian untuk Nayna.


"Nayna, ayo pulang." ucap Daniel menarik tangan Nayna agar mengikutinya. Nayna tidak menolak, membiarkan Daniel membawanya sampai masuk kedalam mobil. Nayna sadar posisinya saat ini. Jika dia membantah sedikit saja, maka Daniel akan meledak marah, akibat kecemburuannya tadi.


Mereka terdiam, tidak ada yang membuka suara. Daniel yang sibuk dengan kekesalannya, sedangkan Nayna sibuk dengan pemikirannya.


"Daniel? Kendrick mengatakan bahwa bibinya yang bernama Margie meninggal." ucap Nayna mencoba memperbaiki situasi. Namun bukannya membaik malah menambah buruk suasana hati Daniel.


"Lalu,"


"Aku hanya turut beduka cita atas kematiannya, jadi dengan reflex aku memeluknya. Bagaimana pun juga aku sempat dekat dengan bibi Margie." jelasnya lagi. Mendengar ucapan Nayna yang mengatakan dia memeluk Kendrick membuat Daniel semakin melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan.


"Daniel, pelan kan mobilnya. Aku masih ingin hidup." ucap Nayna dengan nada sedikit tinggi. Tapi Daniel tidak mengindahkan ucapan Nayna. Malah semakin menambah kecepatan yang membuat Nayna semakin panik.


"DANIEL AWAS ..."


Teriak Nayna saat Daniel hampir menabrak pejalan kaki yang hendak menyebrang.


Ciitttt


Daniel menghentikan mobilnya secara mendadak sampai kepala Nayna terbentur dan mengeluarkan darah di pelipisnya.


"Nayna .. Kau baik-baik saja," ucap Daniel panik dengan mencoba melihat luka Nayna.


"CUKUP DANIEL HENTIKAN. APA HARUS SEPERTI INI SAAT KAU MERASA KESAL DAN MARAH, KAU BAHKAN TIDAK BISA MENGUASAI EMOSIMU." bentak Nayna kesal.


"Hanya karena seseorang cemburu, bukan berarti dia tak mempercayaimu. Aku hanya takut kehilangan dirimu Nayna."


"Bukankah Cinta itu sebuah kebebasan, bukan untuk saling mengekang. Cinta itu kepercayaan, bukan cemburu tanpa alasan." seru Nayna kali ini dengan begitu tajam.


"Maafkan aku Nayna, ayo kita kerumah sakit sekarang."


"Tidak .. Aku mau turun disini saja." ucap Nayna membuka kasar pintu mobil dan melangkah keluar. Bahkan Daniel tidak sempat mengejarnya Karena Nayna yang begitu terburu-buru.


Daniel menggebrak kemudinya dan mengusap kasar wajahnya, merasa begitu gusar.


***


"Saina, aku telah menemukan dokter khusus yang memberimu obat untuk memperpanjang umurmu. Tapi konsekuesinya kau harus rutin meminum obat itu setiap hari, dibawah pengawasannya. Bagaimana menurutmu?" ucap Frans lembut.


"Saina menggeleng lemah, tidak Frans. Aku akan tetap menjalani sisa waktuku sesedikit apapun itu."


"Pikirkan lagi Saina, bagaimana dengan keluargamu. Setidaknya kau pikirkan mereka, jangan bertindak egois."


ucap Frans membujuknya. Namun Saina tetap menggeleng.


"Tidak Frans, aku akan menjalani hidupku dengan apa adanya. Tanpa terikat dengan obat yang hanya akan memperpanjang usiaku, namun bukan untuk menyembuhkanku." jawabnya lagi.


Kilat seakan menyala dimata Frans saat mendengar keputusan Saina. "Kau egois Saina, kau hanya memikirkan dirimu sendiri. Bagaimana dengan aku yang mencintaimu, tidakkah kau ingin berjuang untuk bertahan hidup demi diriku."


Saina tidak merasa terintimidasi dengan ucapan Frans. Dia hanya tersenyum kecut.


"Pada akhirnya aku juga akan pergi Frans. Dengan atau tanpanya obat itu. Yang berbeda hanyalah waktunya, untuk apa menunda-nunda kematianku? Bagaimana pun juga hal itu pasti akan terjadi padaku. Lagi pula lebih cepat maka akan semakin baik. Kau tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa cintamu akan tumbuh seiring lamanya waktu yang kau lewatkan bersama orang yang kau cintai. Semakin lama cinta itu akan semakin dalam, sampai tak tertanggungkan." ucap Saina sendu.


Frans tidak menyelanya kali ini, hanya menatapnya nanar. Frans tersentak saat melihat mata Saina yang telah dilapisi selaput bening air mata. "Kau pikir aku ingin melihatmu hancur saat aku pergi? Kau pikir aku ingin melihatmu yang akan terlihat seperti mayat hidup saat kematianku? Kau pikir aku suka menghancurkan hidupmu?. Tidak Frans, aku rasa duniamu masih panjang, tidak sesederhana diriku. Aku yakin kau akan menemukan orang yang akan mencintaimu, yang menemanimu sampai ajalmu tiba."


"Karena itu, aku memintamu agar tidak mencintai ku, jangan menyakiti dirimu sendiri karena aku." ucapnya lirih.


Frans menggeleng kuat sambil menyeka air matanya. "Jika kau tidak ingin memakai obat itu aku akan menuruti keinganmu Saina. Tapi kau juga harus menyetujui keinginanku untuk menikahimu secepatnya. Aku akan menjagamu disisa akhir nafas hidupmu. Aku akan menemanimu sampai didetik-detik terakhir hidupmu Saina.


Dan aku tidak menerima sebuah penolakan." ucap Frans tegas.


Saina mengangguk pelan. Mengusap cairan bening yang mengalir dari sudut mata Frans.


Cinta yang begitu menyakitkan bagi mereka. Mencintai hanya untuk melepaskan adalah hal yang paling menyakitkan bagi Frans. Namun dia tidak bisa berbuat apapun, takdir telah berkata demikian. Mereka harus menerima meski air mata mengalir tanpa bisa dibendung.


"Waktu boleh memisahkan kita kapanpun ia mau namun kenangan tentangmu akan terukir di sisa hidupku


sampai kelak aku menyusulmu ditempat kediaman mu yang indah dan abadi. Meski suatu hari nanti aku tidak bisa memiliki ragamu, tapi cintamu akan selalu bersamaku." ucap Frans lirih.


"Terimakasih karena telah memilih wanita yang menyedihkan sepertiku. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan cintamu disisa hidupku."


"Ssstt, jangan berkata seperti itu Saina, akulah yang beruntung memilikimu meski hanya sesaat. Kau adalah berlian terindah yang kumiliki. Aku selalu berharap agar kau bisa dilahirkan lagi, sehingga kita bisa bersama. Jika itu benar terjadi, maka aku akan menunggumu." ucap Frans mencoba menghibur Saina dan dirinya sendiri.


BERSAMBUNG ....


HAI READERS KALI INI AUTHOR AKAN MENAMPILKAN CAST FRANS DAN SAINA.



GIMANA COCOK GAK?


SEBENARNYA SIH COCOKAN AUTHOR YANG BERSANDING DENGAN FRANS, TAPI BERHUBUNG AUTHOR DAH PUNYA LAKI JADI FRANS BUAT SAINA AJA. SETUJU YA .....P


***


HAI READERS JIKA KALIAN SUKA DUKUNG AUTHOR DENGAN MEMBERI


LIKE,VOTE, DAN KOMENTAR YANG MEMBANGUN YA , TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.