
Kecelakaan tragis itu membuat Nayna mengalami pendarahan hebat. Untungnya ambulance segera datang untuk mengevakuasi para korban. Nayna langsung dimasukan keruangan operasi, bayinya harus segera dikeluarkan jika tidak maka akan sangat berbahaya bagi keduanya.
Sementara Lucia hanya mengalami beberapa luka ditubuhnya. Namun tidak cukup serius. Sedangkan sang supir mengalami luka parah karena benturan keras.
Daniel tidak hentinya mondar mandir diluar ruangan operasi, kondisi Nayna yang cukup parah membuat Daniel tidak diperbolehkan masuk untuk menemaninya. Segala macam kecemasan dan kepanikan berkecamuk didalam dirinya menanti kelahiran bayinya dan keselamatan istrinya.
Keheningan penantiannya berlangsung begitu lama sampai membuatnya menggeram frustasi dan sesekali meninju tembok rumah sakit. Daniel menghela nafasnya tanpa henti, seakan menunggui istrinya melahirkan membuatnya ketakutan yang teramat sangat. Hingga hampir meledak karena tidak bisa menahan emosinya.
Jika saja Nayna tidak mengalami kecelakaan, mungkin saat ini Daniel jauh lebih tenang. Karena pertama kali baginya mendampingi istrinya melahirkan. ("Seharusnya aku ada didekatnya saat ini. Seharusnya aku memberinya semangat.") batinya menjerit setengah mati.
Daniel segera mengangkat wajahnya saat melihat dokter yang menangani Nayna keluar dari ruangannya dengan raut wajah menunduk lesu. Seakan takut terkena ledakan Daniel saat akan memberitakan kabar buruk padanya. Daniel sendiri seakan tidak sabar mendengar penjasan dari sang dokter. Ditambah lagi Daniel tidak mendengar suara tangisan bayi, membuat jantungnya seakan ingin meloncat dari tempatnya.
"Bagaimana keadaan istri dan anak saya dokter?" tanya Daniel dengan nada menuntut, serta raut wajah yang nampak kusut.
"Istri anda baik-baik saja, tidak lama lagi dia akan sadar. Tapi ..." dokter itu menggantungkan ucapan nya,
"Tapi apa?"
"Bayi anda tidak bisa kami selamatkan. Dikarenakan detak jantungnya melemah dan terhambat saat melakukan persalinan." jawabnya dengan wajah prihatin. "Kami sudah berusaha semampu kami, namun tuhan berkendak lain, maafkan kami." tambahnya lagi.
Daniel terdiam, matanya menatap kosong. Bayinya, anak pertamanya. Telah pergi dalam sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatnya menjadi nelangsa setengah mati,
hatinya seperti tak di tempatnya,
dan tubuhnya serasa kosong hilang isi. Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Dan yang membuatnya semakin kalut. Bagaimana caranya untuk memberitahukan kabar buruk ini pada istrinya.
Daniel masuk keruangan Nayna yang telah dipindahkan. Menatap sang istri dengan begitu pilu. Daniel menggenggam erat tangan istrinya dan sesekali mengecupnya lembut. Kecupan yang Daniel berikan seakan berpengaruh pada Nayna, hingga membuatnya sadar dan membuka matanya. Nayna mengedarkan pandangannya menatap wajah suaminya dengan berkerut. Wajah Daniel yang nampak kusut dan kacau membuat perasaannya berdebar tak karuan.
"Apa yang terjadi? Dimana bayiku?" tanya Nayna dengan suara seraknya. Perasaan Nayna sangat tidak enak, bahkan sebelum Daniel menjawab pertanyaannya.
Daniel sendiri diam saja, bingung Bagaimana cara merangkai kata agar Nayna tidak syok mendengarnya.
"Daniel katakan dimana bayiku." kali ini Nayna setengah berteriak dengan menarik-narik tangan Daniel.
"Nayna, bayi kita ... Dia !"
"Dia kenapa Daniel, cepat katakan." ucap Nayna menatapnya tajam dengan nada menuntut.
"Dia sudah tiada." jawabnya menunduk lesu. Menatap istrinya dengan begitu sendu. Raut kesedihan diwajahnya terpancar jelas.
Nayna menggeleng kuat dan tertawa sumbang.
"Katakan bahwa yang kau ucapkan tadi bohong. KATAKAN BAHWA KAU HANYA BERCANDA DANIEL, IYA KAN !!" Teriak Nayna histeris dan menangis pilu. Daniel segera meraup Nayna dan mendekapnya erat. Mencoba menenangkan istrinya.
"Ini tidak mungkin terjadi Daniel, anakku ... Dia tidak mungkin meninggalkanku." ucap Nayna disela isakkannya.
"Nayna, kita harus bersabar. Mungkin tuhan berkehendak lain. Kita harus kuat. Bukan hanya kau yang merasa kehilangan tapi seluruh keluarga kita."
"Tidak Daniel, dimana anakku? Aku ingin melihatnya sendiri."
Nayna segera bangkit namun Daniel menahannya keras.
"Tidak Nayna jangan kesana. Kondisimu sendiri masih terlalu lemah." ucap Daniel sembari menahan Nayna.
Nayna tetap kekeh ingin pergi melihat anaknya, tidak perduli dengan permohonan Daniel. Daniel tidak punya pilihan lain. Melihat istrinya histeris seperti ini, membuatnya tidak tega. Lalu Daniel menggendong Nayna untuk membawanya melihat sang bayi.
Mereka telah sampai diruangan anaknya. Nayna mendekat perlahan kearah putranya yang membiru, hatinya terasa begitu hancur seakan teriris-iris. Tim medis disana ikut menemani Nayna karena takut dengan kondisi Nayna yang akan drop.
Nayna meraup anaknya dan menggendongnya dalam dekapan hangat tubuhnya.
Sumber kebahagiaan yang akan menerangi kehidupannya ...
Kini telah pergi***
Nayna tidak kuasa menahan tangisan pilu menatap anaknya yang kini berada didalam dekapannya.
"Ibu tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kehilangan adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi... ibu tau itu.
Tapi yang membuat ibu tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kehilanganmu benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri ibu.
Pada airmata yang jatuh kali ini,
pada kebahagiaan yang telah kau ukir, pada kenangan manis selama kau ada, ibu bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
ibu sangat ingin melihatmu tumbuh, mendengar tangisanmu dan memelukmu. Ibu mohon kembalilah pada ibu anakku. Ibu akan berusaha menjadi ibu yang baik untukmu.
Bangunlah belahan jiwaku ....
Daniel tidak mampu lagi menahan air matanya kali ini yang mengucur deras. Melihat istrinya yang menangis pilu membuatnya begitu hancur.
Nayna mencium lembut tangan anaknya dengan penuh kasih sayang. Lucia dan Marco yang baru datang ikut menyaksikan suasana penuh duka itu. Lucia menangis tertahan merasa bersalah pada dirinya sendiri. Jika saja dia tidak mengajak Nayna pergi. Jika saja dia mendengar kan ucapan Daniel, mungkin semua ini tidak akan terjadi.
"Bangunlah malaikat kecilku ... Kau adalah anugerah terindah yang ibu miliki. Kehadiranmu membuat ibu merasa menjadi wanita yang sempurna ..."
Ucapan yang seakan menjadi mantra hebat. Membuat Nayna mengehentikan ucapannya karena merasakan sesuatu yang ia genggam bergerak lembut. Seiring dengan tubuh sikecil yang terasa menggeliat didalam gendongannya. Semua orang disana pun terperangah melihat keajaiban itu.
Dan dalam waktu sekejap, ruangan itu berubah ramai oleh pecahnya suara tangisan bayi yang nyaring dan melengking.
Daniel tidak kuasa menahan kebahagiaan atas keajaiban itu. Para tim medis pun ikut menangis haru menyaksikannya. Sedangkan Nayna, perasaan kebahagiaan yang ia rasakan begitu menggebu-gebu sampai menghujani anaknya dengan puluhan ciuman bertubi-tubi. Seakan kesakitan nya setelah melahirkan telah terbayarkan dengan suara tangisan sang buah hati. Nayna menangis haru dengan tubuh bergetar, Daniel memeluk istri dan anaknya itu dengan penuh kasih sayang. Kebahagiaan yang sempat tertunda dan impian mereka kini menjadi nyata.
Lucia dan Marco pun tidak kuasa menahan air mata kebahagiaan mereka. Lucia tidak hentinya mengucapkan syukur atas keajaiban itu.
***
***BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH****