
Waktu terus berjalan. 4 tahun sudah Elvina lewati. Susah senang sudah ia alami.
Mengenai hubungan nya dengan Risky pun masih tetap berjalan. Meskipun belum ada ikatan yang pasti.
Tapi Risky sudah berjanji. Dan Elvina ingin membuktikan apakah Risky menepati janjinya atau tidak?.
Selama 4 tahun itu, hubungan mereka pun tidak berjalan mulus seperti yang kalian bayangkan. Sering terjadi percekcokan diatara keduanya.
Tapi beruntungnya mereka bisa mengatasi, tanpa harus mengakhiri hubungannya.
Sudah beberapa hari, ia dan Risky jarang bertukar kabar. Risky sibuk dengan bisnisnya, Elvina sibuk dengan pemotretannya.
Mereka sibuk dengan urusan masing masing. Tapi Elvina memaklumi.
Namun rasa rindu yang sedang Elvina rasakan saat ini begitu mendalam. Ia sangat sangat rindu kekasihnya.
Berjauhan, berbeda negara pula.
Sampai saat ini Risky belum ada tanda tanda akan menghubunginya. Pesan yang Elvina kirimkan pun tak ada yang dibalas.
Sesibuk itukah?.
Entah lah Elvina tak tahu apa yang sedang Risky lakukan disana. Elvina mencoba terus berfikir positif, bahwa kekasihnya itu tidak akan macam macam.
Tapi mereka jarang bertukar kabar. Bagaimana kalau Risky itu sebenarnya se-.
Elvina langsung menggelengkan kepalanya. Mana mungkin Risky berpaling. Tapi bisa saja bukan?.
Sudahlah, memikirkan itu membuat kepalanya pusing.
Elvina saat ini sedang duduk di bangku dekat dengan menara Eiffel. Ia sedang menikmati malam disana. Lampu lampu yang gemerlap menambah kesan keindahan.
Orang bilang Paris itu adalah kota romantis. Apakah benar?.
Elvina sedikit berharap, ia bisa menghabiskan waktu bersama Risky disini. Duduk bersama, bersenda gurau menikmati indahnya menara Eiffel.
Tapi semua hanya khayalannya saja. Risky entah sedang apa.
Duduk sendiri dimalam hari seperti ini. Elvina merasa sangat kesepian.
Melihat ke sekeliling, banyak sekali pasangan pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Elvina tersenyum getir.
Sudah lama Elvina duduk disini. Ia sudah bangkit untuk bersiap pulang. Takutnya Rayhan, mama dan papanya mencarinya.
Karen tadi ia hanya pamit pergi sebentar.
Baru saja berdiri.
Hap!.
Elvina menengang, ia merasakan seseorang memeluk nya erat dari belakang.
Ia tak tau siapa? .Jangan jangan orang jahat.
Elvina langsung menyentakan tangan yang melingkar dipinggangnya. Dan langsung berbalik,bersiap akan menampar orang yang dengan lancang nya memeluknya.
Tangan Elvina yang bersiap untuk menampar hanya menggantung diudara. Ia terkejut ternyata orang yang memeluknya adalah,"I-iky" ucapnya dengan bergetar.
Orang yang ia rindukan sekarang sudah ada didepan mata. Tapi bagaimana bisa?.
Sepertinya Elvina berhalusinasi. Mana mungkin Risky disini.
"Saking rindunya, gue sampe berhalusinasi Risky ada didepan gue" monolog Elvina dengan terkekeh.
"Sadar Elvina sadar" Elvina memukul kepalanya sendiri.
Orang tersebut langsung memeluk Elvina lagi.
Elvina pun menghentikan aksi memukul kepalanya sendiri.
"Ini benaran aku Na, aku Risky" ucap nya.
"I-ini beneran Iky?" Elvina masih belum percaya.
Risky mengangguk didalam dekapan Elvina.
Mereka berdua cukup lama berpelukan didepan indahnya menara Eiffel. Mereka benar benar menyalurkan rasa rindunya.
Risky melepaskan pelukan nya.
"Kok nangis si" canda Risky pada Elvina sembari terkekeh. Ia menghapus jejak air mata kekasihnya tersebut.
"Kamu jahat ,jahat banget" Elvina memukul dada bidang Risky.
Risky langsung menahan tangan Elvina dan menggenggam nya erat.
"Kamu jahat. Ngga pernah ngabarin aku. Pesan nya aku ngga pernah dibales. Sibuk ngapain ha"Elvina benar benar mengeluarkan apa yang sedang ia pikirkan.
"Dengerin aku, aku itu sibuk ngurus bisnis Na, aku ngga macem macem kok. Aku kan janji pengen cepet sukses. Biar bisa cepet cepet sama kamu".
"Tapi ya ngga gitu juga Risky".
"Iya aku minta maaf. Sekarang aku kan udah didepan kamu. Aku berdiri disini untuk menepati janji aku sama kamu. Saat ini aku udah sukses Na. Aku udah berhasil wujudin apa yang aku impikan. Dan sekarang tinggal satu yang belum terwujud" Risky menjeda kalimatnya.
"Apa?" tanya Elvina.
"Impian aku adalah aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Aku ingin hidup bersama kamu sampai tua. Bahkan sampai maut memisahkan kita. Aku cinta sama kamu Na, dari dulu, hari ini dan selamanya. Maafin aku kalau aku sibuk. Aku sibuk demi masa depan kita Na. Aku ngga mau nanti kita tinggal bersama. Tapi kita hidup susah. Aku bekerja keras untuk kita dan anak anak kita kelak. Aku tau mungkin aku bukan cowo romantis. Ya beginilah aku. Risky yang bucin banget sama Elvina" Ucap Risky dengan terkekeh.
Elvina sudah berkaca kaca.
"Aku udah janji kan, kalau aku udah sukses. Aku bakal ganti cincin dijari manis kamu itu. Ganti dengan yang lebih bagus. Dan disinilah aku, aku akan menepati janjiku" Risky melepaskan genggaman tangannya.Ia mengambil kotak kecil berwarna merah disaku jasnya. Dan membukanya di depan Elvina.
Elvina yang melihat nya terkejut dan hanya mampu menutup mulutnya. Ia tak menyangkan akan seperti ini akhirnya. Lagi lagi air matanya keluar. Tapi bukan air mata kesedihan. Melainkan kebahagiaan.
"Jadi Elvina Meisy Maheswari will you marry me?" Risky kembali menggenggam tangan Elvina dengan tangan kanan nya. Tangan kirinya masih setia memegang kotak kecil berwarna merah yang berisi cincin yang sangat indah dan tentunya mahal.
Tanpa ragu Elvina pun mengangguk. Senyum Risky mengembang. Ia pun langsung memasangkan cincin tersebut pada jari manis Elvina.
Tanpa aba aba. Elvina memeluk Risky erat,"terimakasih Iky, kamu udah menepati janji" ucap nya disela sela pelukan nya.
"Terimakasih juga kamu udah mau nunggu aku" Risky mengelus punggung Elvina.
"Selamat Elvina adiku, ciye bentar lagi nikah. Uhuy" tiba tiba muncul suara Rayhan .
Elvina langsung melepaskan pelukan nya, dan menatap sekelilingnya. Betapa terkejutnya. Disana berdiri. Rayhan, Elina, Papa, mama, ayah,bunda dan kedua orang tua Risky.
Sejak kapan kedua orang tua Elvina di Paris? begitulah isi pikiran Elvina.
"Mereka semua datang karena permintaan aku Na, aku udah minta izin sama orang tua kamu . Dan mereka menyetujui ,mereka bilang keputusan ada tangan kamu. Dan akhirnya kamu menerima aku" ucap Risky.
Elvina berlari untuk memeluk orang tuanya. Risky pun mengikuti dari belakang sembari memasukan tangan nya pada saku celananya.
"Kok nangis lagi si" ucap Nadin,ia menghapus air mata Elvina.
"Elvina bahagia banget bunda".
"Kamu bahagia, apalagi bunda-".
"Dan kami semua juga bahagia" ucap mereka semua kompak.
Elvina tak mampu berkata kata untuk menggambarkan perasaan nya saat ini.
Bahagia? sudah pasti.
Memang benar setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan. Dulu Elvina selalu mendambkan hidupnya bahagia.
Dan Tuhan pun mewujudkan nya sekarang.
Elvina duduk sembari menyandarkan kepalanya pada bahu Risky. Semua keluarga nya, sengaja memberikan waktu untuk mereka berdua.
Apa yang ada dipikirkan Elvina beberapa jam lalu,benar benar terwujud. Akhirnya ia bisa menghabiskan waktu berdua dengan Risky, sembari menikmati indahnya Eiffel.
Risky mengeratkan pelukan nya pada bahu Elvina.
"Aku sayang kamu Risky Fajar Prambudi".
"Aku lebih sayang kamu Elvina Meisy Maheswari" balas Risky,ia mencium puncuk kepala Elvina lama.
[END]