MY DESTINY

MY DESTINY
episode 84 BERTEMU AYAH



Saat ini Alika berada dihadapan kakeknya. Alika menarik nafasnya untuk menghilangkan kegugupannya.


"Apa yang membuatmu datang kemari Alika?"


"Kakek. Ika ingin bertanya tentang ayah kandung Ika. Em, Ika pikir kakek pasti tahu sesuatu."


Marco menyipitkan matanya menatap Alika sembari berkerut heran. "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan ayahmu?"


"Ada sesuatu yang harus Alika lakukan kek, Ika harus menemuinya !"


"Aku tidak akan mengijinkanmu untuk bertemu dengan orang tua yang tidak bertanggung jawab seperti mereka. Kau sudah menjadi bagian dari keluargaku, jadi kau harus ikut peraturanku Alika." ucapnya dingin.


"Tapi ..."


Belum sempat Alika menyelesaikan ucapannya Marco kembali menyela nya. "Jika tidak ada hal penting lagi, lebih baik kau pergi kekamarmu dan fokus saja pada tugas sekolahmu."


Alika mendesah lelah kali ini. Dia menunduk lesu dan segera pergi dari sana. Marco memperhatikannya dengan perasaan iba.


~


"Bagaimana?"


Tanya Gio menuntut penjelasan Alika. Melihat gelagat Alika yang menunduk lesu ditambah gelengan pelan, membuatnya sudah paham dengan apa yang terjadi.


"Huuh ... Baiklah, sepertinya kita harus mencarinya sendiri."


"Bagaimana jika ayahku tidak ingin bertemu denganku," ucap Alika pahit.


Gio menepuk pelan bahu Alika mencoba menyemangatinya.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Tidak perlu cemas, ada aku bersamamu." Gio menampilkan senyuman manisnya kali ini. Alika hanya menarik sebelah sudut bibirnya menanggapi hal itu.


"Aku akan menghubungi anak buahku untuk mencarinya, kau tinggal tunggu saja kabar dariku."


Melihat Alika yang mengangguk dengan senyuman manisnya, membuat Gio menjadi gemas hingga mengacak poni Alika. Dan sesekali mencubit pipinya.


Hanya selang beberapa menit, anak buah Gio telah mengirim pesan padanya, tentang lokasi ayah kandung Alika.


"Cepat sekali?" ucap Alika takjub.


"Tentu saja. Anak buahku tidak pernah mengecewakanku dalam pekerjaannya. Ayo kita kesana sekarang."


Alika mengangguk patuh dan masuk kedalam mobil Gio.


Sepanjang perjalanan Alika hanya memandang lurus kedepan dengan segala keraguan didalam dirinya. Sementara Gio hanya meliriknya sesekali sembari fokus mengemudi. Kali ini mereka memilih untuk tidak membawa bodyguard. Agar pemilik rumah tidak ketakutan.


Sudah dua jam setengah perjalanan dan akhirnya mereka sampai.


Rumah itu nampak mewah dan megah, Alika sampai terperangah menatapnya. Dan hal itu malah membuat Alika semakin ragu. Akankah ayahnya mengakui dia sebagai anaknya? Atau malah sebaliknya. Namun keraguan itu segera hilang saat tangan Gio lagi-lagi mengusap bahunya.


"Ayo,"


Alika mengangguk patuh dan mengikuti langkah Gio dari belakang.


Gio menyentuh tombol untuk memanggil penjaga rumah besar itu.


Hanya butuh waktu sepersekian detik, penjaga rumah itu datang. "Maaf tuan, anda mencari siapa?" tanya security itu.


"Apa Tuan Nikhil ada?"


"Maaf anda siapa?"


"Katakan saja padanya, ada yang ingin bertemu dengannya dari keluarga Alvaro. Ini penting !!" tentu Nikhil pastinya tahu dengan keluarga Alvaro yang terkenal akan kesuksesannya.


" Baik Tuan, tunggu sebentar." security itu nampak sedang menghubungi seseorang, lalu dia segera menutup telponnya.


"Silakan Tuan, anda boleh masuk." ujar security itu menuntun mereka masuk.


Terlihat seorang pria paruh baya tengah duduk santai diruangan tamunya. Melihat kehadiran Gio, membuatnya langsung berdiri menyambut kehadirannya. Namun Nikhil masih belum menyadari kehadiran Alika disana, karena tertutup tubuh Gio yang kekar.


"Aku tidak menyangka kedatangan tamu penting hari ini." ujar Nikhil menyambutnya.


"Aku datang tidak untuk berbasa-basi, aku ingin langsung saja mempertemukan kalian." Gio mengulurkan tangannya dan memberi isyarat pada Alika bahwa dia harus menyambut uluran tangan itu. Secara perlahan Alika muncul dengan mengangkat wajahnya ragu. Nikhil


sampai mengerutkan dahinya menatap gadis cantik yang ada dihadapannya ini. Sejenak Nikhil tidak mengenalinya. Namun setelah melihat matanya, Nikhil teringat dengan seseorang. Meyca.


Alika ....


Alika menatapnya datar, entah mengapa ada rasa sakit didalam hatinya melihat sang ayah yang dulu dengan begitu tega meninggalkannya, kini berada dihadapannya tanpa rasa bersalah. Namun Alika mencoba menetralkan perasaannya, agar tidak terbawa emosi.


Nikhil mendekati Alika dengan perlahan dan memegang kedua pipinya. "Alika? apa ini benar dirimu?"


Alika mengangguk, namun wajahnya masih terlihat datar. Diluar dugaannya, Nikhil memeluk hangat Alika dengan penuh kerinduan dan kasih sayang. Nikhil bahkan sampai meneteskan air mata.


"Alika, kau sudah besar ! Bagaimana keadaanmu nak, kau pasti baik-baik saja kan?"


"Apa? baik?," Alika mendengus mengucapkannya. "Tadinya aku tidak baik-baik saja ayah. Tadinya aku menderita saat kalian meninggalkanku. Tadinya aku kesepian dan sangat merindukan kasih sayang kalian. Aku masih sangat kecil saat kalian meninggalkanku. Aku saat itu sedang sangat membutuhkan perhatian kecil dari kalian. Tapi karena keegoisan kalian, Aku menderita. Aku bahkan iri dengan teman-teman sebayaku yang memiliki keluarga utuh dan bahagia meski mereka berada dalam kekurangan harta." Alika menghentikan ucapannya, dan menghapus air matanya yang mengalir.


"Tapi aku masih beruntung masih memiliki seorang bibi yang begitu baik hatinya. Dia mendidikku menjadi anak yang baik, dia mengajariku untuk menjadi wanita tangguh yang kuat. Bibi mengajariku untuk memaafkan dan membuang rasa dendam. Aku bersyukur memiliki bibi yang mengambil alih peran kalian sebagai orang tuaku." Alika mengangkat wajahnya dan memaksakan diri untuk tersenyum. Namun siapapun bisa melihat bahwa itu adalah senyuman kepedihan. Bahkan Gio sendiri menatapnya prihatin. Gio juga tahu perasaan yang dialami oleh Alika. Perasaan menginginkan kasih sayang orangtua yang tak bisa digantikan oleh harta. Gio juga merasakannya. Hanya saja kasusnya berbeda.


...


~***~


Daniel, aku rasa kau keliru menanggapi sikap Nayna. Entah mengapa, aku sempat berfikir bahwa ada sesuatu yang membuat Nayna sampai melakukan hal itu untuk Kendrick !!" ujar Hans dengan prediksinya.


Daniel hanya menatap hampa, seakan tidak tertarik dengan arah pembicaraan Hans. Apalagi saat Hans menyebutkan pria yang begitu dibencinya.


"Aku tidak perduli," sautnya datar.


"Kau harus perduli, karena ini menyangkut rumah tanggamu. Ditambah lagi kalian sudah memiliki anak. Jangan sampai anak kalian menjadi korban."


"Apa yang harus aku lakukan Hans? Jika istriku sendiri lebih memilih pria lain. Aku tidak akan menghalanginya. Jika dia bahagia, maka aku akan melepaskannya."


"Tapi aku rasa kau salah ! Nayna tidak pernah menyukai pria itu. Pasti ada sesuatu yang membuat Nayna tidak berdaya."


Daniel tidak menjawab, hanya diam dengan tatapan kosong. Hans sampai menghembuskan nafas gusar. Kenapa jadi dia yang bersikeras ?


"Aku akan menyelidikinya sampai tuntas. Aku harap saat aku berhasil mengetahui sesuatu nanti, aku tidak terlambat." ujar Hans tegas. Tanpa menunggu persetujuan Daniel dia pun beranjak dari sana dan menjalankan misinya. Sementara Daniel masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


***BERSAMBUNG .......


TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.


***


HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA


JANGAN LUPA KASIH


LIKE 👍


KOMENTAR 😀


BINTANG 5


FAVORITE


KOIN


DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN


JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH***