
Sassy menyipitkan matanya saat melihat Hans yang sudah duduk manis dirumahnya tanpa tahu malu. Pria itu terlihat santai sembari membolak balik majalah, entah karena bosan atau karena memang dia hoby membaca.
Menyadari kehadiran Sassy disana membuatnya seketika mengembangkan senyuman. Hans menggerakan jarinya memberi sebuah isyarat agar Sassy mendekat. Sassy mendekatinya dengan langkah pelan, seakan waspada. Bagaimana pun juga dia harus berhati-hati, karena Hans bisa menjadi predator lapar kapan saja saat bersamanya.
Hans berdecak kesal melihat Sassy yang berjalan begitu lambat. Lalu dia menarik tangan Sassy sampai tersungkur menabrak tubuhnya.
"Kenapa kau lambat sekali? Apa kau tidak tahu bahwa aku sangat merindukanmu." ucap Hans masih betah dengan posisi mereka yang menempel satu sama lain.
"Salah kau sendiri kenapa tiba-tiba datang." ucap Sassy mencoba untuk bangkit dengan menggerakan tubuhnya namun perbuatannya itu membuat Hans menggeram menahan sesuatu yang bergejolak didalam dirinya.
"Jangan bergerak-gerak seperti ini Sassy, itu akan berbahaya bagimu." ucap Hans sembari menggeretakan giginya. Hans memejamkan matanya seketika dan menarik nafas panjang untuk menetralkan kondisi nya.
"Baiklah, tapi lepaskan aku Hans. Tidak baik jika kita seperti ini."
Hans melepaskan tangannya dengan sangat berat hati. Bagaimana pun juga Sassy benar. Ini sangat tidak baik bagi mereka, apalagi bagi dirinya sendiri. Lama-lama dia pasti akan lepas kendali.
"Huhhh ... Baiklah," ucap Hans sembari mengangkat kedua tangannya.
"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Sassy menuntut.
"Aku hanya rindu," jawabnya santai.
"Hanya itu ..." ucap Sassy menyipitkan matanya, dengan nada curiga.
"Baiklah. Aku akan mengatakan bahwa aku ingin bercinta denganmu, bagaimana?" ucapnya dengan kurang ajar. Senyumannya yang menggoda membuat Sassy bergidik ngeri. Bisa-bisanya pria ini mengucapkan hal yang begitu vulgar padanya.
"Dasar tua bangka mesum." ucap Sassy sembari memukul Hans dengan bantal sofa secara bertubi-tubi dengan raut wajah kesalnya.
Hans hanya terkekeh menerima pukulan yang tidak berpengaruh apapun itu. Hans menangkap tangan Sassy dan membuang bantal yang dipegangnya. Lalu memerangkap tubuh mungil Sassy dengan memegang erat kedua tanganya, dengan bertumpuan pada pinggiran sofa. Membuat Sassy tidak bisa berkutik.
"Kau bilang aku tua bangka hah? Umurku baru 30 tahun sayang kita hanya beda 10 tahun." Hans sengaja berbicara dengan nada sensual dengan mendekatkan mulutnya di telinga Sassy, serta sesekali meniup nya dengan hangat. Sassy merasa sangat terpengaruh dengan sentuhan itu. Terasa gelenyar aneh didalam dirinya, serta gejolak panas yang membara.
Hans tersenyum senang melihat Sassy yang memejamkan matanya, seakan menikmati sentuhan hangat yang dia berikan. Secara perlahan Hans mendekatkan wajahnya pada wajah Sassy sehingga membuat kening mereka bersentuhan. Lalu Hans sengaja menggesekan bibirnya pada bibir Sassy dan menyesapnya perlahan. Tanpa dia duga hal itu membuatnya mengeluarkan gejolak nafsu yang telah lama dia tahan. Sassy sendiri bahkan sulit mengontrol dirinya. Sampai membiarkan Hans memangut bibirnya dengan rakus. Membiarkan Hans menjelajahi mulutnya dengan liar.
Dengan kesadaran penuh serta nafas yang ter engah-engah. Sassy menghentikan pertautan itu dan menahan bibir Hans dengan tangannya. Sassy sendiri bisa melihat kilatan nafsu yang kian membara seakan butuh pelepasan dari mata Hans. Namun dia segera menyadarkan Hans dengan menggeleng kuat. Hans menggeram menggertakan giginya menahan gejolak yang begitu menyiksa.
"Hentikan Hans. Kita belum menikah. Jangan melakukan hal itu lebih jauh." ucap Sassy dengan nafas nya yang mulai teratur.
Hans mengusap kasar wajahnya dan langsung menuju kamar mandi. Bukan untuk menuntaskannya disana. Melainkan untuk membasahi wajahnya agar pikirannya lebih jernih.
Hans keluar dengan wajah yang masih basah dan rambutnya yang terkena percikan air. Membuat ketampanannya bertambah. Sassy menatapnya dengan kagum dan tersenyum lembut.
"Hentikan tatapanmu itu Sassy. Jangan membuatku kehilangan kendali lagi." ucap Hans menggigit bibirnya.
Sassy tertawa lepas melihat wajah Hans yang kalang kabut dan terlihat gusar. Hans menatapnya jengkel, lalu tiba-tiba menggelitiknya tanpa ampun sampai Sassy mengeluarkan air mata.
Hans menghentikan aksinya saat mendengar Sassy beberapa kali meminta ampun padanya karena sudah tidak kuat menahan geli.
***
"Mbak Nayna, akan menikah."
"Aku tahu." jawab Hans santai. "Aku juga ingin mengatakan padamu bahwa ibuku mengamuk saat mendengar berita tentang rencana pernikahan Daniel. Dia ingin aku juga segera menikahimu." tambahnya lagi, kali ini dengan serius.
Sassy tersentak kaget mendengarnya. Sesungguhnya Sassy sangat belum siap untuk menikah dalam waktu dekat.
"Aku tahu, kau belum siap. Tenanglah, aku akan membujuk ibu nanti." ucap Hans seakan mengerti tentang perasaan Sassy. Namun raut wajah kecewa Hans tidak bisa untuk dipungkiri. Sassy bisa melihatnya.
Dan hal itu membuat Sassy seakan bersalah karena begitu egois memikirkan dirinya sendiri. Namun Sassy juga tidak bisa menghilangkan kebimbangannya.
***
"Mbak Nayna, akan menikah."
"Aku tahu." jawab Hans santai. "Aku juga ingin mengatakan padamu bahwa ibuku mengamuk saat mendengar berita tentang rencana pernikahan Daniel. Dia ingin aku juga segera menikahimu." tambahnya lagi, kali ini dengan serius.
Sassy tersentak kaget mendengarnya. Sesungguhnya Sassy sangat belum siap untuk menikah dalam waktu dekat.
"Aku tahu, kau belum siap. Tenanglah, aku akan membujuk ibu nanti." ucap Hans seakan mengerti tentang perasaan Sassy. Namun raut wajah kecewa Hans tidak bisa untuk dipungkiri. Sassy bisa melihatnya.
Dan hal itu membuat Sassy seakan bersalah karena begitu egois memikirkan dirinya sendiri. Namun Sassy juga tidak bisa menghilangkan kebimbangannya.
***
Nayna menatap kagum pada semua gaun pilihan ibunya Daniel. Sampai dia sendiri bingung harus memilih yang mana.
"Ibu kesana dulu sebentar ya." ucap Lucia menunjuk gaun yang ada diujung untuk melihat-lihat.
Nayna hanya mengangguk sebagai sebuah tanggapan.
"Nayna ..."
Nayna menoleh kesumber suara yang cukup familiar baginya.
"Kendrick?" Sedang apa dia disini." pikirnya.
"Nayna, sedang apa kau disini." ucap kendrick tanpa ekspresi, batinnya sangat belum siap menerima hal yang ada dibenaknya.
"Aku sedang memilih gaun untuk pernikahan ku nanti." jawab Nayna tanpa ragu. Tubuh kendrick seketika mengejang ditempatnya. Hati nya terasa sangat sakit bagai ditoreh-toreh pisau yang tajam.
"Apa tidak ada lagi kesempatan untukku." ucapnya dingin. Nayna sendiri bingung dengan apa yang ia katakan. Wajah Kendrick saat ini terlihat begitu kalut, sorot matanya nampak hampa.
"Apa maksudmu Ken?"
Kendrick hanya menipiskan bibirnya dan menatap Nayna dalam. "Apa kau tidak punya perasaan padaku walau hanya setitik saja, Nayna." ucap Kendrick dengan gemblang.
Nayna menatapnya nanar, seakan tidak menduga dengan yang dikatakan Kendrick barusan.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Jangan berbohong Nayna, ingat ... Kau pernah menciumku waktu itu." ucap Kendrick mendesak Nayna.
"Aku sendiri tidak tahu apa yang kulakukan dulu Ken. Mungkin Itu hanya pelampiasan." jawabnya asal.
Kendrick mengeraskan rahangnya. Terlihat betapa dia sangat menahan amarahnya agar tidak meledak. Kendrick tidak pernah semarah itu sampai sangat ingin dia menghancurkan apapun yang ada didepannya.
"Baiklah ... Selamat atas pernikahan mu. Semoga kau bahagia." ucapnya tersenyum pedih dan segera melangkah pergi dengan tangan masih mengepal. Kendrick melangkah cepat seakan takut dia berubah pikiran dan membawa kabur Nayna dari sana.
Nayna menatap kepergiannya dengan menipiskan bibirnya. Betapa merasa sangat bersalahnya dia karena telah berbicara kasar. Tapi setidaknya dengan cara itulah, Nayna mempertegas bahwa dirinya memilih Daniel.
****
***BERSAMBUNG .......
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK.
***
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH**********