MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 19



"Nggak bisa begitu dong mas. Anak kamu ya anak kamu beda lagi sama aku. Aku juga pengen ngrasain gimana rasanya mengandung dan melahirkan anak aku sendiri, semua perempuan pasti sama mas. Aku disini ngrasa ketipu mas. Kamu nggak pernah sama sekali bicara soal masa lalu kamu. Dan sekarang kamu bilang nggak terlalu menginginkan anak dari aku. Kamu pikir aku ini apa. Aku bukan boneka barbie yang bisanya cuma buat pajangan saat bosan terus kamu buang." Ucap Alista panjang lebar sesampainya mereka dirumah dengan terisak dan air matanya yang sedari tadi ia tahan kini membasahi pipi.



Pria itu sempat mengatakan kalau dia tidak akan membawa serta anak-anaknya tinggal bersama mereka, entahlah karena alasan apa. Tentu saja Alista senang. Tapi dia berfikir lagi. Bukankah itu sama saja seperti Azri bukan seorang pria yang bertanggung jawab. Mau mempunyai anak tetapi tidak mau merawatnya. Sedangkan mereka masih kecil dan membutuhkan kasih sayang dan sosok orang tua.



Azri mulai menarik istrinya itu kedalam pelukannya.


"Hei aku nggak nipu kamu lis. Bahkan kamu nggak tanya aku sama sekali soal masa lalu aku kan?dan sekarang aku sudah menjelaskan semuanya." Ucap pria itu lembut saraya menghapus air mata Alista. Sebelum mereka menikah memang Azri memberikan waktu untuk Alista berfikir berbeda saat dengan Gilang dulu. Bahkan Azri juga sesekali mengajak Alista berkencan. Agar dia bisa menanyakan apa saja yang wanita itu ingin tahu. Tapi seperti nya tidak sama dengan yang pria itu angankan, wanita itu tidak menanyakan apapun mengenai masa lalunya.



Baru kali ini wanita itu menitikkan air matanya untuk seorang laki-laki. Saat bertengkar hebat dengan Gilang tak sekalipun dia menangis sampai akhir perpisahan mereka.



"Terus kalau aku tua nanti siapa yang mau menjagaku mas kalau aku tidak punya anak. Kamu jahat mas kamu jahat" Masih dalam isak Alista mengeluh dan memukul-mukul lengan kekar Azri.



"Sudah-sudah jangan nangis. Aku kan cuma bilang. Itu terserah kamu. Kalau kamu mau ya nggak masalah kita punya anak. Toh banyak anak banyak rejeki kan" jawab Azri lembut dengan semakin mengeratkan pelukan kepada istrinya sampai wanita itu tertidur dalam dekapannya.




Alista memang mengenal Azri sejak lama bahkan sangat lama. Namun ia hanya mengenal sebatas nama dan wajahnya, mengenai sifat dan lainnya dia tidak mengerti sama sekali. Sejak Azri masih bersekolah dulu dia selalu aktif di club volly bahkan sampai berlomba mewakili nama sekolah SMP Azri dulu sampai setelah lulus pun dia sering bermain volly dengan teman-temannya. Kebetulan tepat disamping sekolah SMP itu ada sebuah lapangan volly yang dapat digunakan untuk berbagai kalangan seperti siswa-siswi sekolah itu atau muda-mudi yang memang mau berlatih atau bermain disana.


Dan dari sanalah Alista mengenal Azri karena kebetulan memang Alista juga bersekolah disekolah itu.



Jangan heran kalau Alista tidak perlu bujuk rayuan untuk mau menerima lamaran Azri. Betapa senangnya Alista saat dia tahu bahwa idolanya yang ia kagumi yang akan menjadi suami kedua baginya.



Meski usia mereka terpaut jauh dengan selisih 10 tahun tidak menghalangi Alista untuk tetap mengagumi sosok Azri. Siapa yang akan tahan dengan wajah tampan dan tubuh indah kekar yang dimiliki laki-laki itu, bahkan banyak teman serta kakak kelas Alista sekolah dulu yang terkagum-kagum dengan sosok Azri.