MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 22



Seusai mencuci piring Sasa, Alista kemudian beranjak menuju ruang tengah untuk membantu keponakannya mengerjakan PR.



"Randi kemana mbak?" tanya Alista kepada Sarah. Setelah ia menyadari adik bungsunya itu tidak terlihat.



"Main kali kerumah temen. Nanti juga kesini lagi. Aku udah bilang sama Randi kamu bakal nginep" jawab Sarah tanpa mengalihkan pandangan maniknya dari ponselnya.



"Bibi ayo duduk sini" Sasa mengalihkan percakapan diantara dua wanita itu sambil menepuk-nepuk sofa sisi kanan posisi dia duduk.



"Iya sayang, mana lihat PR nya!" seru Alista penuh perhatian sembari mendaratkan bokongnya disamping Sasa.



"Yang ini bi" tunjuk gadis kecil itu pada sebuah catatan miliknya. Alista kemudian mengambil alih buku tersebut dan membaca nya.



Tok



Tok



Tok



Terdengar seseorang mengetuk pintu utama.



"Bibi buka pintu dulu ya, sama mama dulu Sasa ngerjain PR nya ya" tutur Alista lembut lalu beranjak pergi untuk membuka pintu seraya melempar buku milik Sasa kepada Sarah yang sempat dia lalui. Dia hanya berniat untuk memberikan kesempatan kepada Sarah yang sedari tadi kesal pasalnya Sasa tidak mau sedikitpun terlepas dari Alista.



Alista segera meraih dan memutar knop untuk membuka pintu tersebut.



Deg



"Fa.... Fais" ucap Alista terbata. Ia terkejut mendapati siapa yang ada dihadapannya saat ini.



"Ara..." ucap seseorang dihadapan Alista yang sama terkejut nya.



"Siapa lis...." tanya Sarah yang tiba-tiba sudah berada di belakang Alista.



"Eh Fais, sini masuk" pinta Sarah membuat lamunan kedua orang itu seketika berhambur.



"Ayo duduk Fais" pinta wanita itu kepada seorang laki-laki yang masih termenung memandangi Alista.



"Lis buatin minum buat Fais gih!" Titah Sarah kepada Alista yang kemudian di jawab dengan deheman oleh wanita itu, dan segera pergi membuat minuman.



Laki-laki itu menatap punggung Alista lama. Sarah tahu arah pandang laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Sarah berdehem guna menyadarkan laki-laki tersebut.



Fais tersenyum kepada Sarah kemudian duduk.


"Mau nganterin titipan dari mas Danu. Dia bilang hari ini ada tugas Kampus jadi nggak bisa pulang". Laki-laki itu menyodorkan sebuah kantong plastik yang ia sendiri tidak tahu apa isinya. Tapi dari aromanya ia tahu kalau isinya adalah makanan.



Danuarta adalah suami dari Sarah. Ia sangat terobsesi dengan gelar dosen. Jadilah saat ini dia harus melanjutkan studi S2 nya di Jogjakarta.



"Makasih ya udah ngrepotin jauh-jauh mau mampir kesini" ucap Sarah sungkan.



"Nggak apa-apa mbak. Kebetulan lagi ada urusan di rumah paman jadi sekalian"



"Sekarang kerja dimana Is"



"Aku kerja disalah satu Bank di jogja mba. Makanya sering ketemu sama mas Danu"jelas Fais yang kemudian diangguki oleh Sarah.



"Ngobrol aja dulu sama Lilis. Mumpung lagi ketemu" ucapan Sarah yang di iringi senyum menggoda Fais.



"Boleh mbak?" Jawab laki-laki itu dengan mata berbinar seolah menang lotre.



"Iya, ngobrol aja sepuasnya kapan lagi bisa ketemu dia"



Tak lama kemudian Alista keluar dengan segelas minuman yang ia bawa.


Laki-laki itu terus memandang Alista dari kejauhan. Sarah mengikuti arah pandang pria itu dan segera berdiri memberi ruang untuk mereka berbincang-bincang.


"Temenin Fais ngobrol dulu Lis. Udah waktu nya Sasa tidur siang. Aku masuk dulu ya!" pinta Sarah kepada Alista sembari menepuk bahunya.



Alista membulatkan kedua manik hitamnya seolah berkata 'mbak jangan tinggalkan aku'.


Sungguh menyesal Alista meninggalkan Sasa hanya untuk membuka pintu bagi laki-laki dihadapannya saat ini. Dia tidak menyangka sama sekali akan dipertemukan kembali dengan pria itu.



Alista berdehem, ia merasa risih tak luput dari perhatian pria itu, yang terus saja menatapnya.


"Silahkan diminum" pintanya dengan menyodorkan segela es jeruk.



"Kamu masih ingat minuman favorit aku Ra? " celetuk pria itu tanpa rasa sungkan.



"Ahh, kebetulan aja lagi nggak ada kopi, adanya jeruk di kebun" ucap Alista sinis tanpa memandang lawan bicaranya.



"Ara..." panggil pria itu manja. Ara adalah panggilan sayang pria itu untuk Alista. Dia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan wanita itu. Wanita itu hanya menanggapi dengan deheman.



"Mbak Sarah sengaja banget sih... Aku tuh males, pasti ujungnya adu mulut sama nih orang" batin Alista.



"Aku kangen kamu Ara" batin Fais.



"Aku dengar dari mas Danu kamu sudah pisah dengan Gilang" ucap Gilang lirih dengan terus memandangi wanita disampingnya.




"Aku minta maaf Ra" kini Fais meraih tangan wanita itu dan menggenggam nya erat.



Alista terkejut dan seketika kedua maniknya membulat, kini pandangannya menuju kedua mata laki-laki dihadapannya. Tatapannya sendu. 'Tuh kan, mulai' batin Alista, ia merasa keadaan sudah mulai menegangkan.



"Minta maaf?? untuk apa?" tanya Alista



"Untuk semua kesalahan aku di masa lalu" ucap Fais parau. Dia benar-benar merindukan sosok wanita disampingnya saat ini. Sungguh keberuntungan sedang berpihak kepadanya.



"Ahh... itu. Tidak masalah toh tidak ada gunanya lagi untuk diingat, iya kan??" Ia menekankan kata-kata yang ia ucapkan.



"Jadi. Kamu sudah memaafkanku?"



"Lalu...." imbuh pria itu lagi namun menggantungnya seolah sedang mencari jawaban atas pertanyaan yang belum ia berikan.



"Lalu??" Alista semakin mengerutkan keningnya, ia mulai tidak mengerti arah bicara Fais. Dia memang sudah tidak mau membahas hal diantara mereka. Sekarang apa? Lalu apa? Jangan bilang....



"Aku mau kita memulai semuanya dari awal lagi" tanya Fais lembut sambil terus mengusap punggung tangan Alista.



"Maksud kamu apa Is? " jawab Alista ketus kemudian menepis genggaman Fais dengan satu tangannya yang bebas.



"Maksud aku... kasih aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki semuanya" ucapan Fais semakin membuat Alista tak habis pikir dengan jalan pikiran Laki-laki itu.



"Hah. Semuanya sudah terlambat sayang" Alista semakin sinis menanggapi lawan bicaranya dan menekankan kata 'terlambat'.



"Maksud kamu? " Fais menyatukan alisnya. Ia bingung, bukankah ini memang peluang untuknya.



"Ya. Aku sudah memiliki pengganti Gilang" Alista sudah mulai jengah menanggapi lanturan Fais.



Deg



Retina Fais membulat mendengar pengakuan wanita itu. Wanita yang pernah mengisi kekosongan dihatinya. Ia menggeleng tak percaya.


"Se... secepat itu?"



Yang benar saja Alista tidak hentinya merasa heran dengan lanturan Fais. Membuat ia tersenyum hambar mengingat kisahnya bersama laki-laki itu.



"Ha ha ha. Secepat itu,kamu bilang? Memang mas Danu nggak ngasih tahu kamu kalau aku sudah menikah lagi?" Alista mengeluarkan tawa mengejek untuk Fais. Fais hanya diam menyimak apa yang akan wanita itu ungkapkan.



Alista mengarahkan jari telunjuknya kearah dadanya sendiri guna menekankan kalimat-kalimat yang akan dia lontarkan saat itu juga.


"Fais. Aku" Alista menghempaskan nafasnya berat. Dadanya mulai sesak.



"Aku. Berbulan-bulan aku menderita nahan batin selama menjadi istri seorang Gilang. Dengan bodohnya berharap kamu datang merebut aku dari dia..."



Fais memang kekasih Alista sebelum dia menikah dengan Gilang. Fais dan Alista sudah saling menyukai saat mereka masih SMP. Namun mulai resminya hubungan mereka sewaktu mereka bertemu kembali di Universitas yang sama saat mereka kuliah.



"Ara aku bisa jela..." Fais memotong ucapan Alista. Dan di potong lagi oleh wanita itu.



"Diam. Aku belum selesai bicara" bentak Alista geram. Emosinya sudah memuncak saat ini.



"Lalu, aku kabur ke Jakarta pasca perceraian aku dengan Gilang. Kamu kemana aja. Hah? Kamu nggak muncul sama sekali. Bahkan aku bela-belain jauh-jauh ke Jogja waktu itu buat nemuin kamu tapi apa yang aku dapat.... dan sekarang sudah satu tahun berlalu. Dan kamu bilang secepat itu. Oh salah. Aku yang harus bilang itu ke kamu. Secepat itu kamu lupa sama semua tentang kita. Dan menyerah gitu aja sebelum berperang. Apa itu yang kamu sebut sayang? Apa itu yang kamu sebut cinta. Oh aku tahu. Kamu cuma main-main kan sama aku. Banyak perempuan cantik dikampus. Ahh atau bahkan kamu sudah lebih dulu mendapatkan yang lain sebelum aku dengan sangat-sangat bodohnya mengemis harap saat itu" Alista menghela nafasnya yang mulai terengah setelah panjang lebar mengeluarkan keluhannya.



"Please Ara. Aku tahu aku salah, kamu harusnya tahu diposisi seperti apa aku saat itu" Fais berusaha meraih lagi tangan Alista namun dengan cepat ditepis oleh wanita itu.



"Hei. Itu Alasan basi. Itu bukan alasan yang masuk akal. Kalau kamu sadar,harusnya kamu nggak mulai sama sekali hubungan kita waktu itu. Daripada kamu takut mengambil keputusan bahkan mundur sebelum semuanya dimulai" tutur Alista. Ia berhenti sejenak. Fais masih diam menyimak.



"Sia-sia kamu secara terang-terangan deketin aku. Bahkan kamu tahu gosip antara aku dengan Gilang yang sudah nggak asing lagi bagi seluruh isi sekolah SMP kita. Lalu kamu dengan mudahnya nglepasin aku. Sekarang apa lagi? Tiba-tiba muncul dan meminta untuk memulai semuanya. Terlambat Fais, terlambat" final Alista dengan menekankan kata terlambat.



"Mending kamu pergi dari sini!" titah Alista seraya menunjuk arah pintu agar ia segera berlalu.



"Ra, please. Aku mau semuanya clear."



"Apa lagi? Semuanya udah clear kan. Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Jangan ganggu hidup aku" Alista segera beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Fais. Belum juga Fais mengucapkan kalimat dalam benaknya



"Bibi....." Sasa berlari kearah Alista. Disusul dengan Sarah.



"Sasa. Ganggu bibi aja kamu. Sini ayo bobonya sama mama yuk" Sarah mengulurkan kedua tangannya kepada gadis kecilnya itu. Ia benar-benar merasa tak enak hati.



"Nggak apa-apa mbak biar sama aku aja. Fais juga udah mau pulang kok kayaknya." Ucap Alista seolah mengusir laki-laki itu secara halus. Ia masih menahan emosinya. Kemudian menggendong Sasa dan berlalu dengan kepedihan yang ia rasakan.



"Maaf yah. Sasa emang begini kalau Alista lagi disini. Lengket banget kaya perangko"



"Nggak apa-apa mbak. Kalau gitu aku permisi dulu. Kapan-kapan aku mampir lagi"



Dengan berat hati laki-laki itu berlalu meninggalkan rumah itu dengan segala penyesalan.