
"Fais...."
"Fais..."
Wanita muda yang tengah terbaring itu asik bergumam lirih. Mungkin dirinya sedang memimpikan sosok orang tersebut. Wajahnya merah matang, peluh berkucuran disetiap sudut wajah cantik itu.
Saat ini Sarah sedang berada duduk diruang televisi menemani Sasa yang tengah bermain. Dan tetap fokus pada siaran acara pada saat itu.
"Mbak. Mbak."
"Mbak Lis tadi siang ngapain aja? "
Teriak Randi dengan nafas terengah karena sedikit berlari. Dia memang berniat membangunkan Alista untuk makan malam, mengingat saat ini sudah pukul delapan malam. Sebab sejak ia menemani Sasa tidur siang ia tidak keluar kamar.
Sarah mengernyitkan dahinya, heran.
"Maksud kamu apa?"
"Badan mbak Lilis panas. Dia manggil-manggil nama Fais gitu" jawab nya sembari mengatur nafasnya yang masih belum stabil.
Sontak membuat Sarah terkejut dan tanpa menunggu lama dirinya langsung mengangkat bokongnya dari single sofa yang ia duduki menuju kamar yang saat digunakan Alista tidur.
"Ran. Randi. Ambilin hp aku dimeja, cepet!" Teriak Sarah dengan panik. Benar saja saat ia mencoba menebak suhu tubuh adiknya itu, belum juga ia mendaratkan telapak tangannya ke dahi Alista ia sudah merasakan panasnya. Terus saja wanita itu mengigau. Sebegitu rindunya kah dia kepada laki-laki itu.
Sarah tahu ini kebiasaan adiknya. Yang sampai seusia ini belum ada obatnya. Kekanakan memang, tapi inilah Alista. Sarah takut terjadi sesuatu pada adiknya itu, selama ini hanya dia yang paling dekat dan mengerti bagaimana Alista, bahkan lebih dari ibunya sendiri.
Tanpa berpikir dua kali ia langsung mengetik nama pada aplikasi kontak pada layar ponselnya dan menyentuh tombol hijau.
"Ha... halo"
'Iya mbak. Ada apa?' jawab seseorang diseberang telepon sana setelah mengetahui siapa yang tengah menelepon dirinya.
"Apa kamu masih di rumah pamanmu? Kalau masih bisa kesini sebentar!" Ucap Sarah dengan tidak sabar.
'Masih mbak. Ada apa ya? Apa terjadi sesuatu?'
"Lilis sakit. Cepat kesini ya!"
'Oke mbak. Aku kesana sekarang'
Dengan berat hati wanita itu harus memanggil orang yang tengah disebut-sebut namanya. Sarah tahu, hanya Fais lah obat yang dibutuhkan adiknya saat ini.
Jadi disinilah saat ini Fais berada. Dia duduk di tepi tempat tidur dimana wanita itu memanggil namanya berulang kali tanpa merasa bosan. Entah apa yang tengah dia mimpikan dalam tidurnya itu.
"Fais...." gumam Alista lirih seperti menahan batu yang menimpa tubuhnya sampai tidak mampu bersuara.
"Ra.... aku disini. Buka mata kamu. Hei" Fais mengelap keringat yang masih berkucuran diarea wajah Alista lalu menepuk kecil pipi kanannya guna membangunkan wanita itu.
Sarah masuk kedalam kamar itu dengan sebaskom air dan handuk untuk mengompres demam Alista.
"Biar aku aja mbak. Mbak istirahat aja biar aku yang jagain Ara"
"Makasih ya. Aku pikir kamu udah balik Jogja. Aku udah panik banget mana mas Danu nggak ada dirumah."
"Aku tinggal yah. Maaf ngrepotin kamu. Kalau ada apa-apa panggil aja" titah Sarah kemudian berlalu. Dia harus menemani putrinya tidur karena besok masih harus bersekolah.
"Ara... buka mata kamu. Aku disini. Kamu mimpi apa sih?hmm. Bangun!" Terus saja Fais berbicara seolah wanita itu bisa mendengarnya.
Diusapnya lagi keringat Alista. Seolah tahu siapa yang sedang berada disampingnya. Alista menggenggam erat tangan Fais yang sedari tadi mengelus lembut punggung tangan wanita itu dan seketika mengganti posisi tidurnya yang awalnya telentang kini menjadi miring kesisi kiri dimana laki-laki itu duduk.
Meski tanpa Alista sadari ia sudah sedikit membuka hatinya untuk orang lain tapi tidak menghalangi rasa rindunya kepada pria itu yang tiba-tiba memuncak saat pertemuan yang tak terencana pada hari itu. Apalagi kebersamaan mereka yang meninggalkan sejuta kenangan. Selama Alista menempuh pendidikannya di Jogja hanya Fais lah yang berada di sampingnya dalam susah maupun senang, dalam lapar ataupun kenyang.
Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundak Fais.
"Untuk apa kamu datang lagi. Gara-gara kamu. Semuanya jadi kacau. Kalau aja kamu mau bawa mbak Lilis kabur. Semuanya nggak akan kaya gini" kata-kata Randi menegur hati Fais untuk yang kesekian kali. Ia hanya diam tak mampu berkata.
Meski tanpa ia memberi tahu orang lain. Dirinya juga merasa terpukul dengan semua yang telah lalu. Dia selalu menyesali kebodohan nya yang saat itu melepaskan pujaan hatinya begitu saja.
Tapi mau bagaimana pun. Dia tidak akan pernah bisa mengembalikan keadaan seperti semula. Saat tawa dan senyum yang wanita itu miliki hanya diperuntukkan kepadanya.
Dikecupnya punggung tangan Alista berkali-kali berharap itu bisa melunturkan luka yang wanita itu rasakan.
---
JAKARTA (10:30)
Sebuah mobil sedan berwarna gray berhenti di area parkir sebuah cafe.
"Bos. Udah nyampe" tutur seorang laki-laki yang duduk dikursi kemudi mobil itu.
"Ya elah malah ngelamun. Buru gih masuk! Udah di telepon mulu sama bos tante" tuturnya lagi karena merasa tidak diabaikan.
Gilang baru saja akan membelokkan arah kemudi mobilnya ke pekarangan rumah ibunya, tapi telepon dari sang bunda terus mengganggu telinganya. Ia bertitah kepada Gilang untuk menemuinya disebuah cafe.
Seperti biasa dia memang selalu bolak balik Cilacap-Jakarta untuk mengurus bisnis.
"Males aku To. Jauh-jauh kesini cuma buat beginian. Apaan coba. Si Mami ngajak ketemuan disini kayak nggak punya rumah aja. Capek aku. Ngantuk"
"Udah sana turun. Kali aja ada yang menarik didalam. Lagian kamu kenapa nggak pindah aja kesini, tinggal sama si bos tante" ucap Anto ia merasa bosan juga terlalu sering menemani sahabatnya itu menempuh perjalanan jauh.
"Emang kamu mau pindah kesini?" Ketus Gilang. Seolah mengingatkan Anto bahwa dia asisten Gilang yang harus selalu mengikuti kemanapun ia berada.
"Heheee ya nggak sih. Nanti jauh sama ayank bebeb" cengir Anto, menggaruk tengkuknya yang memang tidak gatal.
Dirinya masih ingat kalau ia memiliki seorang kekasih dikampung halaman. Yang secara tidak langsung juga mengingatkan Anto kalau Gilang juga masih memiliki pujaan hati disana yaitu Alista. Meski entah sampai kapan Gilang harus hidup dalam harap dan mengawasi wanita itu dari kejauhan. Anto tersenyum geli saat ingatan itu terlintas dalam benaknya.
Gilang segera keluar dari mobilnya kemudian masuk kedalam cafe itu. Manik coklatnya meneliti seluruh pengunjung cafe itu untuk menemukan ibunda tercinta.
Dan benar saja dia menemukan sesuatu yang menarik didalam sana. Maniknya membulat seakan mau keluar. Rahangnya mengeras, telapak tangannya mengepal geram. Ia melihat seorang laki-laki yang ia kenal sedang duduk bersama dengan seorang wanita cantik disalah satu meja yang tak jauh dari dirinya berdiri saat ini.