MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 36



Di sela tangis Alista, ia kembali memutar memori ingatannya.


Satu tahun yang lalu.


Alista masih belum percaya dengan kejamnya kenyataan hidup yang ia alami. Pemandangan yang baru saja ia lihat benar-benar membuatnya merasa tidak ada harganya sama sekali. Bisa-bisanya Orang tua Alista menukar anak gadis mereka hanya dengan sebuah mobil.


Setelah kepergian keluarganya dari pelataran rumah itu. Gilang langsung menarik tubuh Alista dan membantingnya ke atas kasur. Mereka sudah sah, bukan? Jadi Gilang boleh saja meminta hak nya kepada Alista.


Alista menggigit bibir bawahnya. Belum juga rasa terguncangnya luntur kini akan datang lagi masalah baru.


"Stop" Alista menjauhkan tubuhnya kebelakang sebelum Gilang mendekat dan menerkam nya saat itu juga.


"Stop disana Gilang. Jangan mendekat"


Gilang yang mendengar itu malah tersenyum. Dan segera melepas satu persatu pakaian yang ia kenakan.


"Please Gilang. Stop disana. Kamu menikahi aku, cuma pengen bikin aku nangis kan? iya kan? Apa kamu masih penasaran gimana caranya bikin aku nangis? Bukan gini caranya. Lakukan hal yang lain. Siksa aku... atau bunuh aku. Tapi kumohon. Jangan lakukan ini" Alista masih ingat bagaimana Gilang kecil tak henti membuli dirinya dan mengatakan akan selalu menjahilinya sampai gadis kecil itu menangis. Tapi itu dulu. Saat mereka masih sekolah dasar. Kini sudah berbeda lagi keadaannya.


Rahang Gilang mengeras. Apa belum cukup kuat, pernikahan ini membuktikan kalau dirinya hanya menyayangi Alista dan ingin selalu menyayanginya.


Gilang memang bukan tipikal pria yang suka basa-basi. Dengan sekedar ucapan rayuan gombal untuk mengutarakan isi hatinya, dia cukup membuktikannya saja dengan tindakan. Contoh saja saat ini. Egois. Iya, dia memang egois tanpa tahu dan meminta pendapat Alista, dengan se-enaknya dia menikahinya. Hal ini juga yang membuat Alista selalu salah paham dengan segala tindakan Gilang.


Gilang tersenyum miring.


Membuatnya menangis?? dengan mudahnya ia akan membuat Alista menangis tanpa harus susah-susah menikahinya. Tinggal bunuh saja Fais kekasih Alista itu dengan mencincangnya menjadi berkeping-keping lalu membuangnya ke rawa-rawa, batin Gilang.


Alista hancur, Gilang berhasil mencuri mahkotanya yang selama ini dia jaga.


"Aku pastikan kamu mengandung anakku" bisik Gilang disela puncak kenikmatannya.


Alista tersenyum miring. Dia pikir, ia saja yang bisa membodohi Alista. Untuk apa dirinya bersekolah hingga universitas jika tidak tahu bagaimana caranya mencegah kehamilan.


Off


"Kenapa hidup aku kayak gini banget sih mbak??" Sarah masih memeluk Alista.


"Yang sabar. Semua pasti ada hikmahnya Lis"


"Apa nggak boleh bahagia mbak?" Tanyanya lagi disela sesegukannya.


"Semua pasti ada saat nya Lis"


Alista diantar pulang oleh Sarah, setelah tangisnya reda dengan mengedarai sepeda motor.


Firasat Alista tidak enak sejak tadi. Dilihatnya sebuah honda jazz terparkir dihalaman rumahnya.


Siapa lagi yang datang kali ini. Apa ibunya bertingkah lagi, ingin menjualnya dengan orang kaya lainnya, batin Alista berkecamuk.