
Alex berlari di sepanjang lorong rumah sakit di ikuti Aksa dan yang lain. mereka sangat terkejut ketika mendengar pesan dari Dimas jika Sandra nekat melukai dirinya sendiri hingga harus masuk rumah sakit. Alex tau jika penyakit dan trauma wanita itu masih belum pulih dan pasti suatu saat akan kembali kambuh ,dan hari ini contohnya.
"gimana om?"
Dimas hanya menggeleng dengan wajah yang terlihat terpukul begitupun sang istri yang sudah terisak di pelukannya "masih di tanganin dokter ,Sandra kehabisan darah dan sayangnya stok gol darah A+ lagi kosong" paparnya membuat Alex memijit pelipisnya.
"biar saya aja om yang donorin , kebetulan golongan darah saya O"
"serius Lo Lex?" tanya Ali pasalnya seumur hidup nya Alex sangat takut dengan jarum suntik dan apa tadi? dia akan mendonorkan darahnya? hebat sekali pikir Ali.
"kamu yakin Alex? mending kamu bilang papih kamu dulu"
"nah iya Lex ,Lo juga punya tato kan? emang gamasalah kalo Lo donorin darah?" tanya David "apa hubungannya sama tato gue? ngaco Lo?!"
"lah bukannya orang tatoan gaboleh donor darah yah?"
William mendengus "gausah sotoy Lo!! lagian ga ada salahnya kalo Alex donorin darah ,dan soal tato?mending Lo tanya google aja dah males gue jelasinnya"
Ali mendengus kesal lalu meminta Aksa menjelaskan nya ,walau dengan wajah datar dan ogah-ogahan ia tetap memberi pemahaman pada si Ali.
setelah beberapa menit menunggu ,akhirnya Alex mulai keluar dari ruangan tempat ia diambil darah tadi. walau sedikit linu dan takut ,ia tetap melakukannya walau para suster harus memakan waktu lama untuk mengambil darahnya. Alex mendengus ,sedari kecil ia sangat benci rumah sakit apalagi jarum suntik sudah seperti musuh bebuyutan baginya. dan apa sekarang? ia malah harus sukarela di tusuk jarum sialan itu demi sahabatnya.
"widih pahlawan kegelapan kita udah selesai nih? kagak mewek Lo kan?" tanya vano membuat Alex menatapnya tajam "bacot Lo"
"Yee abis imunisasi jadi galak banget yah bund" timpal Ali membuat Alex ingin sekali menabok muka jeleknya itu ,namun sayang tenaganya seolah menguap entah kemana membuat tubuhnya lemas.
"makan dulu nih" ujar David seraya memberikan satu buah apel yang sengaja ia beli tadi di kantin sekalian membeli makanan untuk para kaum dhuafa nya.
"kupas"
"ck manja banget Lo bos"
"banyak bacot Lo"
mereka menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan sifat Alex yang dari dulu hingga sekarang tidak ada perubahan nya tetap dingin, datar ,menyebalkan, egois ,irit bacot ,paling parah suka menyuruh orang dan manja sekali. dengan misah misuh ,David mengupas kulit apel menggunakan pisau lipat yang selalu ia bawa kemana-mana niatnya hanya untuk berjaga-jaga tapi bisa juga di pakai untuk hal lain contohnya ,mengupas apel.
"nih Raden Alex saya sudah mengupas kulitnya silahkan anda lebok"
Alex mengambil potongan apel tersebut sambil sesekali meringis karena masih merasakan ngilu pada area lengan dimana darahnya diambil tadi.
________________
dilain tempat suara tembakan mampu membuat semua orang yang ada di dalam rumah ikut berteriak ketakutan ,Laura tidak henti-hentinya memeluk seraya menenangkan zeline dan juga Erina yang masih dalam keadaan syok.
"ZELINE!!"
kaca jendela juga pintu depan sudah rusak parah akibat tembakan brutal yang dilakukan oleh beberapa orang pria yang mereka sendiri tidak kenal. zeline menahan rasa sakit di lengannya akibat luka tembak yang ia alami saat melindungi Laura yang akan menjadi sasarannya ditambah kepalanya yang terbentuk dinding dengan sangat keras mengakibatkan darah merah keluar dari sana. tubuhnya sudah sangat lemas dan untungnya saat akan ambruk ,dengan sigap Laura memeluknya. baik Brama maupun Revan sialnya tidak ada di rumah hari ini karena ada beberapa jadwal meeting dengan investor di luar kota.
Erina mengikat lengan zeline menggunakan sobekan kain yang berasal dari bajunya untuk menghentikan pendarahan yang terus keluar dari lengan gadis itu. "zeline harus kuat yah sayang ,mamah tau kamu anak yang kuat" ucap Laura sudah beberapa kali berkata demikian untuk memberikan anaknya semangat dan paling penting mencoba mengajak zeline berbicara agar anak nya tidak jatuh pingsan.
keadaan diluar masih sangat mencekam ,beberapa bodyguard yang di tugaskan berjaga di rumah mereka masih terus menghadang kelompok orang yang akan masuk ke dalam rumah. "Zee denger aku!! kamu gaboleh tutup mata kamu , ngerti?!"
zeline hanya diam ,matanya sudah sangat berat sekarang dan tenaganya sudah terkuras habis bahkan untuk berbicara satu katapun rasanya sangat sulit. luka tembak dan kepalanya terasa menyakitkan hingga rasanya dirinya sudah tak mampu bertahan dalam waktu yang lama.
DOR
DOR
"dimana kalian sialan?!!" teriak seseorang yang Laura yakin itu adalah Edward ,entah kenapa ia kembali muncul karena setahunya Kakak dari suaminya itu tengah menjalankan proses hukum nya tapi kenapa ia bisa ada disini dan membuat keributan.
pintu kamar di tendang dengan keras hingga membuat Gangga pegangannya terpental begitu saja ,Edward tersenyum smirk saat melihat apa yang ia cari ada di depan mata. "rupanya disini? kenapa tidak membalas saat aku berteriak tadi?!" nada yang ia keluarkan sangat datar namun terkesan arogan dan dingin.
perlahan ia mendekat kearah incarannya lalu seketika rahangnya mengeras seketika melihat luka tembak yang di alami zeline "siapa yang menembak nya?" tanyanya namun baik Laura dan Erina sama-sama terdiam ,ludah keduanya kelu mungkin karena rasa takut mendominasi mereka saat ini.
"tidak berguna!!" umpatnya kemudian mulai menggendong zeline menuju keluar kamar "mau kamu apakan anak saya Edward?!!"
tidak ada balasan ,pria itu masih memangku zeline menuju mobilnya karena sedari awal kedatangan ia kesini adalah untuk mencari gadis kecilnya .ralat , harta berharga nya.
"JANGAN BAWA ANAK SAYA!! LEPASKAN DIA BRENGSEK!!!"
teriakan Laura tidak didengar sama sekali oleh Edward ,ia lantas memberi kode pada bawahannya agar cepat menjalankan mobil dan segera pergi dari sini. sekilas ia melihat kearah belakang dimana Laura masih mengejar mobilnya walau beberapa kali terjatuh dan di bantu oleh seorang gadis.
"ZELINE ANAK MAMAH!!! JANGAN PERGI TINGGALIN MAMAH NAK!!"
Erina mendekap erat tubuh wanita setengah baya yang terlihat rapuh itu ,ia turut merasakan bagaimana kesedihan seorang ibu yang harus di pisahkan dengan anaknya. "Erina cepat susul mereka!! bawa zeline kembali" tangisnya membuat Erina menuntun Laura terlebih dahulu sebelum ia merampas kunci mobil di kantong salah satu bodyguard yang sudah tergeletak di depan halaman dan segera menancap gas mobil untuk mengejar mobil yang sudah membawa zeline pergi.
"MAMAH!! ZELINE!! KALIAN DIMANA?" Revan sedikit berlari dengan wajah yang sangat panik begitupun dengan Brama saat melihat keadaan masion yang sudah sangat kacau. kakinya bergerak cepat saat mendengar Isak tangis yang berasal dari arah dapur.
"mah!! mamah gapapa?"
Laura mendongak lalu memeluk anak laki-laki nya itu erat begitupun dengan Revan yang melakukan hal yang sama.
"zeline mana?"
wanita itu membisu ,namun sedetik kemudian isakan pilu kembali terdengar dan Brama sudah paham dengan situasi. ia segera memberi perintah pada Vincent untuk melacak keberadaan putrinya.
"zeline dimana mah?! dia gapapa kan?"
deg
tubuh Revan meluruh ,dadanya terasa sesak mendengar fakta yang ada. ia menggeleng keras ,kejadian dulu tidak akan pernah terjadi lagi dan ia tidak akan pernah membiarkan adik kesayangannya menderita lagi seperti dulu.
"Erina mana?" tanya brama yang bersikap tenang padahal hatinya sama hancurnya seperti istri dan anaknya.
"dia ngejar mobil Edward ,Revan mamah mohon bawa adik kamu balik lagi kesini mamah pengen peluk dia Revan "
"mamah tenang yah ,Revan bakal bawa zeline kembali ,sekarang mamah istirahat dulu di kamar biar papah sama revan urus semuanya.
Alex melempar handphone nya asal keatas kasur ,sudah jam 8 malam dan gadisnya belum membalas bahkan memberi kabar padanya. ia meremas kuat kepalanya ,saat datang ke rumah zeline satpam disana bilang jika keluarga mereka sedang tidak ada di rumah dan sekarang ia bingung harus mencari zeline kemana.
satu nama yang ada di otaknya dengan segera ia mencari nomor kontak orang tersebut namun hanya ada suara operator yang menjawab.
"kamu kemana sih sayang?!!" ujarnya terlihat sangat frustasi.
sudah satu Minggu berlalu dan sekolah berjalan seperti biasanya. para murid mengikuti pelajaran , ekstrakurikuler ,istirahat di kantin dan semacamnya. walau terkesan biasa namun ada yang tidak biasa dari para gadis yang kini memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat mereka di taman belakang. sudah lebih puluhan panggilan ia layangkan pada zeline namun tidak ada hasil sama sekali.
"kemana sih sebenernya nih anak ,bikin khawatir aja" dengus sela menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"hiks...gue takut terjadi apa-apa sama zeline mana si Erina juga gaada! rumahnya kosong kita mau cari info ke siapa?!"
Bella memijat pelipisnya yang sedikit pusing ,bertanya pada Alex pun sama saja. ia juga tidak mengetahui kemana zeline pergi ,ditambah sepertinya pria itu lebih merasa kehilangan dari pada mereka semua. ia sering melihat Alex keluar masuk ruang BK setiap hari karena berkelahi dan masalah nya terkadang hanya masalah kecil saja.
"gue yakin zeline baik-baik aja ,kita berdoa yang terbaik yah" ujar sela sembari mengelus punggung Mora dan syeril yang masih bergetar karena menangis.
disisi lain keadaan pria yang menjadi most wanted sekolah juga tak kalah mengenaskan ,terkesan sangat memprihatinkan. wajah babak belur dengan luka lebam di mana-mana ,tangan yang di perban karena seperti nya terluka dan sebatang rokok yang menyelip diantara jari telunjuk dan tengahnya.
ia berjalan menyusuri lorong sekolah yang sudah nampak sepi karena ini sudah jam 8 dimana murid-murid pastinya sudah bergulat dengan pelajaran di kelas masing-masing. sesekali ia membernarkan letak tas hitam yang menyampir di bahu kanan nya.
brak
semua yang ada di kelas nampak terkejut saat seseorang membuka pintu dengan kasar ,namun seketika mereka menghela nafas pelan saat mengetahui pelakunya.
"Alex kenapa baru datang jam segini?! kamu harus sopan selama berada di lingkungan sekolah dan hormati guru mu Alex!" tegur Bu Lauren namun hanya di jadikan angin lalu saja oleh pria itu. ia mendudukan bokongnya di sebelah William yang masih diam dengan mata terus tertuju pada sahabatnya.
"tumben telat, abis ngepet dimana bos? dapet banyak kagak?"
krik krik krik
Ali menggaruk belakang kepalanya karena ucapannya selalu di abaikan oleh Alex belakangan ini ,mereka tau apa yang membuat pria itu seperti ini dan sayangnya mereka masih berusaha membantu menemukan sumber kebahagiaan nya.
"udah jangan di ganggu , madep depan lo muka Lo ganggu" dengus David membuat Ali mendengus "anjing sekali anda yah"
"jangan kan muka ,dia nafas aja ganggu anjir" saut vano dari bangku depan membuat sebagian murid yang mendengar langsung menyembunyikan tawa mereka.
"laknat banget Lo ,gue kagak nafas metong dong"
"yaudah sekalian aja gue pengen liat Lo metong"
pletak
"Ali! jangan berisik di jam pelajaran saya, dan perhatikan materinya!!"
"maap bu maap ,lagian nih si vano nyumpahin saya metong katanya "
"dih ngadu ,Cepu Lo"
"diam kalian!" tegur Bu Lauren yang nampaknya sudah sangat lelah menghadapi anak Alaskar idaman kaum hawa ini "saya pusing lama-lama menghadapi kalian ,sebentar lagi jam istirahat pertama kita akhiri saja pembelajaran hari ini"
"Yeay!!!" sorak semuanya yang memang sudah sangat tidak betah berada terlalu lama di dalam kelas.
kini alaskar tengah berada di ruangan pribadi mereka ,Aksa dan William tengah menyampaikan informasi penting mengenai usaha mereka untuk menemukan zeline. begitupun dengan David dan Ali yang menyimak dengan sangat serius ,sedangkan vano ,ia tengah keluar untuk membeli makanan.
"gue rasa kelurganya sengaja palsuin identitas zeline ,karena kata om gue keluarga bramajaya gaada ngajuin pasport keberangkatan apapun" ujar William membuat Alex memijit pelipisnya "ada satu orang yang mungkin bisa kita tanya soal ini" ucap Aksa membuat semua menoleh.
"Erina?" tanya David seolah tak yakin "dia pasti ikut keluarga zeline pergi kan?"
"menurut bawahan gue ,kemarin dia liat Erina di stasiun yang mengarah keluar daerah dan setelah gue selidiki lebih lanjut ternyata di balik ke kampung halamannya di Medan"
Alex nampak sedikit menemukan secercah harapan untuk menemukan gadisnya "pulang sekolah kita susulin dia kesana" ujarnya lebih terdengar seperti perintah yang tidak dapat di ganggu gugat.
"Yeay!! kita naik motor kaya touring gitu Lex?!!"
Alex berdehem membuat Ali semakin menjadi-jadi ,maklum lah udah lama dia kagak motoran apalagi ini keluar daerah pula kan keliatannya seru banget.
Erina mengerjap pelan saat mendengar bunyi ketukan pintu di rumahnya. ia mengusap wajahnya yang masih elah lalu berjalan menuju pintu untuk melihat siapa yang datang. kebetulan paman dan bibinya tengah ada acara nikahan membuat nya harus berdiam di rumah sendiri.
deg
gadis itu sedikit terkejut saat melihat siapa yang berada di depan teras rumahnya. tangannya bergetar otomatis tanpa alasan ,dengan cepat ia hendak kembali menutup pintu namun sayang gerakan Alex lebih cepat dari Erina. pria itu menatap datar kearah gadis di depannya begitupun dengan alaskar.
"kalian ma_mau apa kesini?"
"bisa bicara sebentar?" tanya Alex membuat Erina mau tidak mau mengangguk dan mempersilahkan mereka untuk masuk.