
Saat ini Alista tengah menyisir rambut panjang nya yang sedikit basah didepan cermin full body dibalik pintu lemari yang ada dikamarnya.
Tiba-tiba ia mendapatkan pelukan dari belakang tubuhnya. Tangan kekar itu melingkar erat diperut wanita itu, ia juga menaruh dan menyandarkan dagunya di bahu Alista. Sesekali ia menghirup aroma tubuh istrinya yang begitu ia rindukan. Beberapa hari ini dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
"Lis" gumamnya. Terasa begitu dekat hembusan napas lelaki itu.
"Iya" jawab Alista lembut.
"Waktu aku pergi ke Jakarta kemarin...." ucapnya namun entah mengapa pria itu menggantungnya.
Deg
Bola mata Alista membulat "A... apa dia mengetahui sesuatu?" Tanyanya dalam hati. Ia teringat lagi adegan ciuman panasnya bersama Fais ketika itu. Sungguh Alista mengutuk dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia kelepasan dan seketika lupa kalau dia bukan lagi seorang gadis yang bisa seenaknya menjalin hubungan dengan laki-laki manapun yang ia mahu.
"Iyaaa kenapa?" Tanya Alista sedikit gugup. Berharap dugaannya tidak benar.
"Ahh aku sudah lupa. Saat aku mau barangkat apa aku memberimu uang?"
Huufft. Lega yang wanita itu rasakan. Ia sudah meremas bagian dada piyama yang ia kenakan, takut-takut kalau malam itu badai menghancurkan acara melepas rindu di antara keduanya. Bersyukur dewi keberuntungan sedang bersahabat dengannya. Cukup sudah, ia tidak mahu lagi kejadian itu terjadi lagi di kemudian hari meski ia dengan Fais akan atau harus bertemu kembali.
"Itu.... ah iya? Kayaknya enggak deh. Waktu itu kamu kan buru-buru ditungguin sama pak Joko. Lagian aku juga nggak butuh, kan ada mbak Sarah yang ngasih makan" jawabnya di iringi cengengesan. Ia bahkan tidak ingat sama sekali akan hal itu. Apalagi Sarah selalu memperlakukan dia dengan baik.
"Hm, nggak bisa gitu dong. Emang kamu nggak beli sesuatu untuk mbakmu itu? Lain kali kamu harus ingetin aku kalau lupa yah?"
"Kenapa? Kalau kamu keberatan kamu bisa memberiku double lain kali mas"
"Ya baiklah"
Meskipun dia meninggalkan istrinya itu di rumah Sarah kan bukan berarti dia meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang suami yang harus menafkahi istrinya. Ceroboh sekali dia, umpat Azri dalam hati.
"Mas" kini Alista yang memulai percakapan mengisi kesunyian disela adegan mesra mereka yang masih setia dengan posisi semula.
Ingin rasanya Alista tertawa mendengar panggilan manis dari bibir suaminya itu.
Tapi sesuatu terus saja mengganggu dibenaknya. Sehingga mahu tidak mahu ia harus mengungkapkannya.
"Kalau aku hamil bagaimana?" Ucap Alista dengan menekankan setiap kata, penuh harap.
"Hamil? Apa kamu sudah hamil? Ya nggak apa-apa. Menangnya kenapa?" Jawabnya dengan nada antusias.
"Sekarang belum sih. Tapi... bukanya waktu itu mas bilang nggak..." Alista kembali mengingat kejadian sialan beberapa waktu lalu yang menyayat hati nya akan ucapan Azri, bahwa dirinya mengatakan kalau tidak terlalu mengharapkan kehadiran buah hati diantara mereka.
Azri membalikkan tubuh Alista agar menghadap kearahnya
"Sssst kalau kamu mau ya nggak masalah. Biar kamu nggak kesepian juga dirumah. Hm" ibu jari pria itu mengelus lembut pipi kanan Alista dan satu tangan nya lagi meraih erat pinggul istrinya.
"Benarkah? Jadi kalau aku hamil kamu tidak akan marah, sungguh??" tanya wanita itu lagi seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya... harus berapa kali aku mengatakannya agar kamu berhenti bertanya soal itu?" jemari yang sempat mengelus lembut pipi wanita itu kini turun mengelus punggung Alista.
Alista senang,terukir senyum tipis pada kedua sudut bibirnya yang tidak tebal dan seksi itu. Kini kekhawatiran yang ada dalam hatinya sirna sudah, setelah mendapatkan jawaban yang entah keberapa kalinya ia dapatkan dari Azri. Tapi kali ini dirinya sudah memantapkan dirinya tanpa keraguan jikalau suatu saat dirinya memang harus mengandung dan melahirkan bayi mereka.
"Kalau begitu ayo kita buat anak!" Bisik Alista pada daun telinga Azri membuat dirinya merinding dengan sedikit menjinjit mengimbangi tinggi badan sang suami.
Kalau masalah itu Azri tidak akan ragu lagi. Mengingat kerinduan yang melanda diseluruh tubuhnya akan kehadiran Alista yang membuatnya ketagihan. Seketika senyum nakal melintas dibibir pria itu. Ditatapnya lekat-lekat wanita itu. Ternyata ia baru sadar kalau istrinya itu pandai sekali menggoda. Tanpa ragu dan tanpa banyak bicara lagi segera diraihnya tengkuk Alista guna mengeratkan pagutan dan kecupan yang akan ia berikan dibibir istrinya yang sedari tadi memang sudah menggodanya untuk ia lahap, dan tangan satunya turun meremas bokong Alista yang sedikit berisi.
Alista tak mahu kalah nakalnya. Ia mengalungkan kan lengannya pada leher Azri dan sesekali meremas tipis rambut hitam suaminya.
Azri sudah mulai tidak sabar untuk segera memberikan kepuasan untuk istrinya itu. Ia melangkahkan kakinya agar menuju kasur mereka, segera ia jatuhkan tubuh mereka ke atas ranjang tanpa melepas ciuman yang sadari tadi mulai membakar gairah mereka sehingga posisi Azri sedikit menindih tubuh wanita itu. Azri memang sudah telanjang dada sedari tadi hanya mengenakan boxer sebagai gaun malamnya. Ia meraih dan membuka satu persatu kancing piyama yang Alista kenakan, tangan kanannya mulai masuk melesuri benda singtal di balik bra berwarna pink yang sudah mulai mengeras. Azri melepaskan kecupannya memberi kesempatan kepada wanitanya untuk mengambil napas.
"Akhhh" desah wanita dibawahnya yang merasa benda singtal miliknya telah diremas sedikit kuat oleh Azri. Tangan kiri pria itu ia gunakan untuk menopang tubuhnya agar tidak menimpa Alista dan tangan satunya lagi yang tadi meremas benda dibalik bra itu mulai naik membelai tubuh Alista hingga tengkuknya. Ia masih ingin melahap bibir basah itu. Gerakan-gerakan panas lainnya juga ia berikan untuk Alista sembari melepas semua pakaian yang ia kenakan sehingga tanpa sehelai kainpun yang melekat pada tubuh wanita itu.