MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 15



Malam ini sudah menunjukkan pukul 19.30. Sebuah mobil sedan berwarna gray memasuki pelataran sebuah rumah, khas rumah adat jawa.



Tok



Tok



Tok



"Mba"



"Mba" panggilan Randi mengejutkan Alista yang tengah asik membaca sebuah novel.



Dengan langkah malas Alista beranjak membuka knop pintu kamarnya.


"Randi. Kenapa?" Alista menyatukan alisnya.



"Ada yang nyari mba tuh diluar"



"Hah?? Siapa?" Tanya Alista dengan nada sedikit tinggi. Bertanya-tanya siapa gerangan yang mencarinya, mengingat sekarang sudah hampir pukul delapan malam. Randi hanya menggedikkan bahunya.



"Lihat aja sendiri" jawab Randi samar sambil berlalu.



Dengan parasaan cemas dan gelisah Alista berjalan menuju pintu depan kemudian membuka lebar pintu yang sudah sedikit terbuka, mungkin Randi tadi yang sudah membukanya.



"Gi...Gilang" ucap Alista terbata. Betapa terkejutnya dia yang mencari dirinya adalah Gilang.



Gilang tersenyum "Sayang" tutur nya dalam hati.



"Ngapain dia kesini?" Batin Alista



"Ada apa ya malam-malam kesini?" Dengan posisi Alista berdiri dan masih memegang knop pintu.



Gilang menyodorkan kantong plastik berwarna hitam yang dia tenteng sedari tadi.


"Aku beli sate kesukaan kamu" ungkapnya tak lupa dengan senyum manis miliknya.



Dahi Alista berkerut, ia tidak langsung menerima pemberian Gilang "apa-apaan dia ini. Kurang kerjaan apa?" Batinnya sinis.



"Ah tadi ada urusan deket sini jadi sekalian mampir" Gilang seolah tahu maksud kerutan di dahi wanita itu. Mungkin tertera tanda tanya (?) didahinya.



Gilang mengayunkan lagi bungkus sate yang belum juga diterima wanita dihadapannya itu.



"Makasih"



"Maaf. Duduk nya diluar aja ya. Di dalam nggak ada orang, cuma ada Randi" jelas Alista sambil berjalan menuju kursi panjang yang terbuat dari bambu yang ada diteras rumah.




Tidak menunggu lama Alista langsung membuka bungkusan sate yang Gilang bawa tadi dan mengigitnya dengan lahap. Siapa yang tahan bila disodorkan dengan makanan yang kalian sukai.



Gilang semakin senang melihat Alista mau menerima pemberian darinya dan dengan lahap menyantap sate itu. Simple bukan? Dia sangat tahu, hanya makanan yang satu ini yang bisa membuat Alistanya tidak akan mengusirnya pergi bila dia ingin datang berkunjung.



"Memang ibu dan ayah kemana?"



Alista menghentikan kunyahan dalam mulutnya.


"Lagi ada urusan ke Sumatera"



"Mas Azri belum pulang kerja, trus Evani udah di Jogja lagi,dan.... mba Sarah kamu tau lah dia nggak tinggal disini" imbuh Alista panjang kali lebar tanpa ditanya oleh Gilang.



Dia hanya mengangguk tanpa mengerti.


"Berapa hari di Sumatera?"



"Nggak tau. Kemarin bilangnya cuma seminggu, eeh sampe sekarang belum balik juga"



Baru saja Gilang mau mengucap sesuatu Alista sudah menegurnya.


"Brisik banget sih kamu. Tanya mulu. Niat ngasih sate nggak sih? Lagi makan juga"



Gilang tersenyum gemas "aku kangen digalakin sama kamu sayang, juteknya kamu, senyum kamu" ungkap nya dalam hati.



"Oke. Oke. Maaf" tutur Gilang kemudian diam memperhatikan wanita kesayangannya itu asik mengigit dan mengunyah sate di genggamannya.



Menitpun berganti setelah menghabiskan sate, mereka lanjut berbincang-bincang. Entah mengapa Alista mau menanggapi pertanyaan-pertanyaan dari mulut Gilang. Mungki efek sate yang di bawakan oleh Gilang.



Haripun semakin larut Gilang memutuskan untuk berpamitan.



***



"MAS AZRI" seru wanita itu dengan lantang membuat sang empunya yang baru saja menutup knop pintu terkejut.



"Lis kok belum tidur? "



"Ini udah tengah malam loh" imbuhnya dengan nada santai



"Iya. Tengah malam. Kamu dari mana aja mas jam segini baru pulang? "


Waktu memang menunjukkan pukul dua dini hari saat ini.



to be continue