
suasana di kediaman Erina menjadi sangat hening ditambah suara binatang malam yang mulai ramai terdengar karena memang rumah paman dan bibinya terletak sedikit jauh dari jalan. dan dibilang sedikit pelosok karena di kelilingi oleh kebun teh milik pamannya. sedari tadi tidak ada yang memulai percakapan ,Erina seakan enggan hanya untuk bertanya kenapa mereka tau alamat rumah pamannya.
Ali yang merasa kondisi sedikit parah berusaha mencairkan suasana seperti biasa namun baru berkata beberapa kalimat ,ia sudah di pelototi oleh Aksa memintanya agar diam. "ekhem ,maaf kita ganggu malem-malem gini" ujar vano menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "gapapa ,gue gaada makanan yang bisa di suguhin"
"sans aja kita juga bentar doang disini" balas David.
"oke to the point, seminggu ini Lo kemana? kenapa gak masuk sekolah?" tanya Alex masih dengan wajah datar dan nada dinginnya.
Erina sedikit gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu ,namun secepat mungkin ia menutupinya "aku terpaksa pulang kampung Karena bibi lagi sakit"
"really? trus dimana bibi Lo?" tanya William seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah yang terbilang kecil itu.
"dia lagi di rawat ,dan aku baru pulang tadi dari rumah sakit karena mau bawa baju ganti" jelasnya tidak ada keraguan didalamnya tapi entah kenapa Alex masih sedikit curiga dengan ucapan gadis itu.
"Shaquille ,dia dimana?".
semua orang kini serius menanti jawaban dari Erina ,sedangkan yang di tanya mencoba untuk tetap tenang "kemarin dia, Tante Laura ,bang revan sama om Brama bilang ada urusan tapi aku gatau urusan apa"
"urusan? trus kenapa Lo gak ikut?" kini Aksa yang bertanya sepertinya pria itu juga sedikit gatal karena belum juga menemukan titik terang keberadaan kekasih sahabatnya.
"aku gak ikut karena harus nengokin bibi, dan untuk kemana nya aku beneran gatau"
"Lo beneran jujur? gue gaakan kasih toleransi kalo Lo sampe bohongin gue" ucap Alex semakin membuat Erina gemetar ,pasalnya pria itu mengatakan hal tersebut dengan sungguh-sungguh dan Erina tau pasti siapa itu Alex.
"aku jujur Lex ,buat apa aku bohongin kalian"
Alex menghembuskan nafas kasar ,ia tidak tau lagi harus mencari zeline kemana karena semua info seolah tertutup rapat dan ia yakin Brama sengaja menyembunyikannya. tapi apa alasannya? kenapa gadisnya menghilang begitu saja tanpa memberi tahu dirinya.
_______________
kepala sekolah hanya bisa menggeleng pasrah dengan kelakuan keenam murid bengal nya ini ,sudah di beri hukuman dan berkali-kali nasehat pun sepertinya tidak ada yang meresap betul kedalam pikiran mereka. pagi ini smc di buat geger dengan Alex yang menghajar beberapa kakak kelas hingga membuat dua orang dari mereka harus di rawat di rumah sakit.
bukan hanya itu ,Alex juga terbukti telah merusak beberapa fasilitas sekolah seperti beberapa bangku kantin ,pot bunga dan membuat kegaduhan disaat jam pembelajaran masih berlangsung.
"kalian kenapa ikut masuk? saya hanya punya urusan dengan Alex disini!" tanya kepsek tersebut karena alaskar juga ikut masuk ke dalam ruangan nya "kita mah kan solid parah pak gak mungkin lah biarin nih biji cabe kena sanksi sendiri" bela David dengan sombongnya.
"keluar dan kembali masuk ke dalam kelas ,saya hanya akan berurusan dengan Alex" tegasnya namun alaskar adalah alaskar ,mau di beritahu bagaimana pun mereka memang keras kepala semuanya.
melihat tidak ada tanda-tanda mereka akan keluar ,kepsek tersebut hanya menghela nafas pelan membuang-buang waktu saya meladeni para anak bengal ini.
"baik Alex ,katakan apa alasan kamu memukul kakak kelas sampai harus masuk rumah sakit?"
"dia hina pacar saya" jawabnya dengan enteng sedangkan kepsek dan beberapa guru yang kebetulan ikut menangani kasus ini hanya bisa menggeleng mendengar jawaban tersebut "tindakan kamu sudah keterlaluan , beberapa kali masuk keluar BK karena membuat masalah dan saya terpaksa harus memanggil orang tua kamu untuk datang kesini"
Alex sedikit terkejut tapi ia langsung menetralkan perasaanya dan terlihat biasa saja. Bu Gusti yang mendapat perintah dari kepala sekolah untuk menghubungi orang tua Alex segera melakukan nya.
"kamu masih pelajar Alex tapi sikap kamu tidak mencerminkan jika kamu seorang pelajar. apapun alasannya ,kamu tetap harus menerima konsekuensi dari para wali korban"
"baik saya akan menerima konsekuensi nya"
Aksa ,William ,David ,vano dan Ali hanya bisa menatap sahabatnya dengan pandangan tak biasa. mereka sangat prihatin dengan kondisi Alex yang semakin liar setiap harinya.
wajah penuh lebam bahkan ada darah kering yang mereka lihat disana ,tangan yang masih di perban tali masih bisa memukul wajah orang lain dengan kuat dan penampilan nya yang benar-benar diluar ekspektasi jika ia adalah siswa SMA.
tak lama pintu terbuka menampilkan beberapa orang yang sepertinya wali korban yang sudah di hubungi kepala sekolah sebelumya. mereka menatap Alex dengan tatapan kesal dan marah .bagaimana tidak, anak mereka terluka dan harus masuk rumah sakit karena anak remaja di depan mereka itu.
"selamat siang semuanya ,sebelumnya saya mohon maaf menganggu waktu ibu semuanya___
"jadi ini anak yang udah bikin Willy masuk rumah sakit?!" bentak salah seorang wanita yang mereka yakini adalah ibu dari Willy.
"mohon tenang dulu Bu, kita diskusikan masalah ini dengan kepala dingin"
"gimana saya bisa tenang! anak saya masuk rumah sakit sampai harus di rawat ,dan ini karena bocah tengil ini!!" tunjuk ibu Zidan pada Alex. sedangkan Alex hanya melirik sekilas seraya berdecih karena telah di tunjuk-tunjuk seperti tadi ,dan ia sangat tidak menyukainya.
"berisik banget dah Bu ,dikira lagi di pasar kali pake tereak-tereak" gumam Ali membuat Bu Gusti mendelik saat mendengar nya "diam kamu Ali!!".
"jadi bagaimana apa masalahnya sampai kamu memukul anak saya seperti itu?" tanya salah satu wanita yang terlihat paling tenang dan tidak terbawa emosi seperti yang lainnya.
"ayo Alex ,jelaskan semuanya pada kami nak" ujar Bu dini membuat Alex semakin rileks.
"mereka menghina salah satu siswi disini dengan mengatakan bahwa dia ****** yang sering menggoda pria termasuk saya. lebih parahnya yang mereka hina itu adalah pacar saya"
"jadi karena itu kamu pukulin anak saya?!! cuma karena wanita hah?!! kelakuan kamu itu tidak mencerminkan seorang siswa SMA ,dan ini sudah termasuk tindakan kriminal!"
"Alex udah jelasin kalo anak ibu yang mulai duluan ,lagian punya mulut gak beradab banget pake ngatain orang ****** kaya gak pernah di sekolahin" dengus vano yang ikut berbicara karena jujur saja ia juga sangat kesal karena perkataan wanita tadi.
"apa kamu menyalahkan saya?!! disini teman kamu yang salah!! seperti tidak di didik dengan benar oleh orang tuanya sampai menjadi berandalan seperti ini"
"siapa yang menjadi berandalan??" tanya seseorang yang baru datang membuat semua guru hingga kepala sekolah menunduk hormat padanya.
"selamat datang pak Nathan dan Bu Kenzie ,silahkan duduk" ujar Bu dini di angguki Kenzie sedangkan Nathan masih mempertahankan wajah dinginnya. Kenzie duduk tepat di samping Alex , menggenggam tangan anak laki-laki nya membuat Alex menoleh lalu tersenyum singkat.
"sebelumnya saya mohon maaf mengganggu waktu bapak dan ibu Karen telah memanggil untuk datang kesini"
"tidak apa-apa , jadi apa masalahnya?" tanya Kenzie yang tidak suka berbasa-basi.
"begini Bu, Alex telah berkelahi dengan kakak kelasnya hingga membuat dua orang dari mereka harus di rawat di rumah sakit dan 3 orang lainnya mengalami luka dan kini masih di lakukan pengobatan di rumah sakit"
Nathan hanya diam lalu melirik kearah anaknya yang nampak santai seolah ini bukanlah masalahnya "saya akan membayar semua biaya rumah sakit" ujarnya.
"berikan dia skorsing beberapa hari" titahnya pada kepala sekolah yang hanya bisa diam karena mau menyanggah pun ia sangat segan terlebih Nathan adalah donatur terbesar di smc juga anak dari pemilik sekolah ini.
"baik saya akan memberikan skorsing untuk Alex selama 5 hari"
"jika hanya skorsing saya rasa kurang ,dia harus mendapatkan sanksi sosial yang lain"
sumpah dah Ali gak like banget sama mamahnya si Zidan yang tukang kompor. banyak bacot Banget dah padahal biaya rumah sakit dan apapun pasti di tanggung sama om Nathan tapi kenapa dia masih nge bacot aja dah.
"keputusan saya sudah bulat ,Alex akan menerima skorsing selama 5 hari dan bapak Nathan harus membayar biaya rumah sakit dan segala apapun yang menyangkut korban selama dalam pemulihan" tegas nya yang tidak bisa di sanggah.
Nathan menatap putranya dengan tatapan datar begitupun dengan Alex yang hanya melirik sekilas kearah sang papih. kini mereka telah kembali ke rumah karena permintaan Kenzie. melihat Alex juga terluka ,wanita cantik itu memutuskan untuk mengobati sang anak di rumah karena Alex yang menolak di bawa ke rumah sakit.
keduanya sama-sama diam ,hanya ada celotehan Kenzie yang sedang menasehati Alex sembari mengobati luka di wajah anaknya. sesekali terdengar ringisan dari mulutnya karena lukanya tak sengaja di tekan sang Mamih.
"kamu denger apa yang mamih bilang?" tanya Kenzie dengan sangat lembut yang dibalas anggukan oleh Alex "denger mih".
"kelakuan kamu makin di luar kendali Alex"
Alex menoleh saat Nathan membuka suaranya "bukan Alex yang mulai"
"tapi tindakan kamu belakangan ini semakin menjadi-jadi ,bahkan setiap hari kepala sekolah menghubungi Mamih kamu karena ulah yang kamu buat disekolah"
"sayang ,kamu sebenernya ada masalah apa hmm? kenapa kaya gini?"
Alex sedikit ragu untuk menceritakan mengenai zeline pada kedua orang tuanya ,karena ia rasa ini masalah pribadinya dan ia akan menyelesaikannya sendiri. "gapapa mih ,Alex cuma kebawa emosi aja"
Kenzie mengelus wajah tampan sang anak membuat Nathan melirik dengan wajah masam nya "lain kali harus bisa ngendaliin emosi ,Mamih gamau denger lagu kamu berantem sampe bikin muka babak belur gini jelek tau"
"Mamih ngatain Alex jelek?"
"iya kamu jelek sekarang!"
"hmm mamih tega banget sama Alex"
Nathan menggeleng melihat sifat putranya yang akan berubah 180° jika bersama Mamih nya ,berbeda saat bersama dirinya hawanya berasa sangat suram karena aura dingin dari keduanya.
Shaquille ❤️
sayang kamu dimana?
aku kangen
jangan nyiksa aku Shaquille
aku berantakan gaada kamu
sayang
sayang
kamu masih sayang aku kan?
Shaquille
selamat malam my love,
i love you ❤️
Alex membanting ponselnya keatas lantai ,ia sangat kecewa pada dirinya sendiri karena sampai sekarang masih belum menemukan keberadaan kekasihnya. Vincent dan yang lain masih mencari info tapi sampai detik ini belum ada yang berhasil. ada banyak pertanyaan di dalam benaknya tapi untuk saat ini tidak ada yang dapat menjawab.
ceklek
"Alex" panggil seseorang membuat Alex yang tengah memejamkan langsung terbangun hingga seseorang menabrak tubuh tegap nya dan memeluk pinggangnya erat.
"Lo kemana aja si? kenapa chatt gue gak Lo bales?"
"lepas Sandra!"
wanita itu menggeleng keras "engga! Lo belom jawab pertanyaan gue ,kenapa gak bales chatt dan gak nengokin gue lagi?"
"gue ada urusan" jawabnya seraya melepaskan paksa pelukan itu.
"urusan apa? tentang cewe Lo yang kabur itu?" Alex melirik tajam kearah wanita dengan crop top ungu tersebut "gue denger dari alaskar cewe Lo kabur dan sampe sekarang belom balik? udahlah Lex biarin aja sih dia pergi toh cuma bikin Lo sakit hati doang"
"gausah ngomong kalo Lo gatau apa yang sebenarnya terjadi!"
"ko Lo jadi bentak gue gini? Lo beneran udah berubah lex, dulu aja Lo gapernah bentak atau nolak pelukan gue!"
Alex mengambil nafas lalu kembali duduk di kursi membuat Sandra duduk di sampingnya "dulu dan sekarang beda ,gue udah punya cewe yang hatinya harus gue jaga"
"ck ,kita juga gatau kan dia pergi saja siapa dan kemana? bisa aja dia selingkuh dari Lo makanya dia minggat"
"stop san, gue lagi gamau cari ribut sama siapapun"
"lah siapa yang nyari ribut? gue cuma bikin mata hati Lo kebuka Alex! dia itu gabaik buat Lo"
Alex hanya diam sambil menyandarkan kepalanya yang sedikit pusing ke sandaran sofa ,matanya terpejam dengan tangan kanan yang menutupi mata. Sandra yang melihat itu hanya memanfaatkan keadaan Alex yang lelah dengan cara memeluknya ,taada penolakan atau apapun yang di berikan Alex mungkin karena pria itu sangat kelelahan hingga tenaganya terasa habis kali ini.