
"Ya ampun.... Randi. Kenapa kamu tidur disitu?" Teriak Sarah saat mendapati adik bungsunya tidur beralaskan kasur lantai diambang pintu kamar yang ditempati oleh Alista.
Sang empunya malah asik menguap dan menggeliatkan tubuhnya setelah mendengar teriakan sang kakak.
"Lihat aja mbak. Mereka berduaan dalam satu kamar. Emang mbak nggak takut dia macem-macem sama mbak Lis? Makanya aku tidur disini ngawasin mereka"
"Macem-macem gimana. Lilisnya sakit gitu. Gimana mau ena-ena" jawab Sarah
"Kali aja mbak satunya nggak berdaya tapi satunya lagi kan waras mbak. Mungkin aja kan dia tergoda gitu"
Plak
Sarah menyentil dahi Randi.
"Ngawur kamu. Mandi aja sono! Mana tidur ngehalangin jalan pula, udah tau sempit gini pake gelar kasur depan pintu" Randi hanya menunjukkan senyum gelinya.
Sarah segera masuk melalui Randi yang masih membereskan kasur lantai yang ia pakai tadi. Ia melihat Fais mulai terbangun mungkin karena mendengar suara pertengkaran kecil antara kakak beradik itu. Fais memang sempat tertidur tadi karena merasa lelah semalaman menjaga Alista,tertidur dengan posisi duduk dilantai dan tangannya tak lepas dari genggaman tangan Alista.
Kini Fais mulai mengganti posisinya untuk duduk di tepi tempat tidur disisi wanita itu terbaring. Berkali-kali dia mengecek suhu badan wanita itu seperti sekarang ini. Takut jikalau suhu badannya berubah lagi.
"Gimana Is, apa masih demam?" Tanya Sarah sambil menepuk bahu pria itu. Terlihat adiknya memang belum membuka matanya.
"Udah nggak sih mbak. Tapi dia belum bangun juga dari tadi. Padahal udah hampir siang. Apa perlu kita bawa ke dokter takutnya kenapa-napa? " khawatir yang Fais rasakan. Sudah hampir pukul sepuluh pagi tapi wanita itu masih asik bermain dengan alam mimpinya. Dulu sewaktu di Jogja juga sering kali wanita itu mendadak demam jika pikirannya merasa terganggu. Tapi tidak selama ini ia tidur. Biasanya ia akan bangun pagi seperti orang yang tidak pernah mengalami sakit sekalipun. Dia kan hanya demam bukan koma batin Fais mulai tak karuan.
"Nggak apa-apa Is. Bentar lagi juga bangun. Kamu mandi aja dulu terus sarapan! Kamu bisa pakai baju mas Danu dulu nanti"
Fais menggeleng pelan.
"Nanti aja mbak. Nunggu Ara bangun" Fais semakin mengeratkan genggaman tangan kepada wanita itu.
"Ya udah kalai gitu. Mbak mau nyuci baju dulu. Kalau ada apa-apa panggil aja" ucap Sarah segera berlalu, kemudian diangguki oleh pria itu.
Benar saja tak lama Sarah keluar Alista mulai mengerjapkan maniknya dan mencoba untuk duduk.
"Fais. Ngapain kamu disini?" Suara serak ala bangun tidur Alista yang terdengar seksi membuyarkan lamunan Fais.
"Ara. Akhirnya kamu bangun juga. Kamu bikin aku khawatir Ra" ucap Fais senang lalu meraih kedua tangan Alista dan mengecupnya lembut penuh sayang.
Alista mengerutkan keningnya
"Khawatir? Memangnya aku kenapa?".
Alih-alih menjawab dengan wanita itu malah Fais spontan memeluk tubuh Alista, entah apa yang ada dibenaknya saat ini
Namun sia-sia Fais malah makin mengeratkan pelukannya.
"Aku minta maaf Ra. Maafin aku. Kalau aja aku tahu kamu nggak bahagia bersama Gilang aku pasti akan cari kamu dari dulu."
Alista bingung. Kenapa dia tiba-tiba seperti ini apalagi dengan ucapannya.
"Tahu darimana kamu kalau aku nggak bahagia?. Sok tahu. Bukanya kamu juga nggak peduli sama semua itu? " jawab Alista ketus.
"Aku tahu semuanya. Aku udah denger dari Randi. Ijinkan aku untuk menebus semuanya Ra. Kasih aku kesempatan lagi untuk memulai semuanya dari awal" perkataan Fais seolah dia lupa kalau wanita itu sudah menjadi istri orang lain. Fais mulai melepaskan pelukannya dari wanita itu. Ia menggenggam lagi kedua tangan Alista.
"Memang saat itu aku nggak pikir panjang. Aku cuma mikir kalau apa yang Gilang miliki bakalan bisa buat kamu bahagia. Dari pada harus bersama aku yang jauh dari kata mampu" imbuhnya lagi
"Kita tuh sama-sama hampir empat tahun Fais. Bisa-bisanya kamu ngmong gitu. Seolah kamu nggak kenal aku. Memang pernah selama kita bersama aku nunjukin kalau aku cuma butuh uang biar bisa bikin aku bahagia bikin aku happy? Hah? Enggak kan?" Ucap Alista mulai kesal dia sungguh sudah tak ingin lagi mengingat semua itu. Ia hanya ingin menjalani yang seharusnya ia jalani saat ini tanpa melihat kebelakang lagi yang penuh akan kesakitan.
"Dan lagi. Kamu tuh aneh. Kamu lupa? Apa pura-pura lupa? Aku sudah bersuami Fais."
Fais menggeleng pelan tangannya beralih pada kedua bahu wanita itu
"Aku nggak peduli. Aku nggak mau kehilangan kamu untuk yang kedua kalinya. Aku bakal berusaha dan bakal nunggu kamu sampai kapanpun."
Alista menepis lengan Fais yang ada dibahunya seakan terasa berat ditambah lagi ucapan-ucapan Fais yang menurutnya sangat mengganggu ditelinganya.
"Maksud kamu apa? Kamu berharap kalau aku bakal pisah dari mas Azri?" Alista menggeleng tak percaya dengan apa yang ada di pikiran Fais.
"Kamu sendiri bahkan tahu kalau pernikahan itu bukan hal untuk main-main. Oh catat untuk yang bersama Gilang itu cuma kesalahan dalam hidup aku. Dan nggak mungkin aku tiba-tiba cerai dari mas Azri tanpa alasan. Meskipun ada masalah dalam kehidupan kita nantinya seharusnya kan dibicarakan baik-baik bukannya berpisah. Kalau setiap ada masalah terus cerai dan saat menikah lagi, meski itu dengan kamu dan kalau suatu saat kamu buat salah dan nyakitin aku terus aku juga harus pisah juga sama kamu gitu? Pakai logika kamu Fais! Jangan jadikan rasa sayang kamu menjadi sebuah opsesi seperti yang Gilang lakukan, itu akan nyakitin diri kita sendiri." Ucap Alista ia mengehembuskan napasnya yang membuat dadanya serasa sesak.
"Nggak Ara. Nggak bisa. Udah cukup selama in..."
"Denger Fais. Kamu masih muda. Jangan sia-siakan kesempatan kamu untuk hal yang nggak berguna. Walaupun aku rindu sama kamu, itu adalah hal yang wajar. Tapi bukan berarti aku bisa seenaknya mutusin buat bersama lagi sama kamu seperti dulu. Masih banyak perempuan baik-baik diluar sana yang pantas menerima ketulusan hati kamu. Kamu laki-laki baik Fais. Kamu nggak boleh begini" meski ada sedikit harapan dalam Alista untuk bisa bersama lagi dengan laki-laki itu setelah pertemuan ini. Tapi ia tidak ingin itu semua menguasai dirinya. Kenyataan memang tak seindah mimpi, bahkan mimpi yang ia miliki hanya tinggallah mimpi. Ia tidak ingin gegabah dalam mengartikan pertemuan ini. Mungkin saja Tuhan sedang menguji dirinya saat ini. Apakah ia akan tetap tinggal atau pergi bersama bayang-bayang hidupnya selama ini.
Entah apa yang akan terjadi diantara keduanya nanti. Fais hanya bungkam mendengar semua ucapan Alista.
"Aku tahu Ara, kamu masih sayang sama aku" ucap Fais terdengar frustasi. Tanpa Alista sangka sama sekali Fais dengan cepat menarik tengkuknya dan nyatukan bibir mereka. Di kecupnya lembut oleh Fais. Dilumatnya bibir yang selama ini dia rindukan. Ia tumpahkan segala emosi dan rasa rindunya itu melalui ciumannya. Awalnya Alista mendorong dada Fais namun rasa rindu yang juga ia miliki mengalahkan semuanya. Segera ia balas lumatan yang Fais berikan. (Khilaf euy😁)