
GAGAL SHOPING
Seperti weekend biasa Alista dengan Azri selalu berusaha meluangkan waktu bersama, mengingat kalau waktu yang mereka miliki untuk bersama hanya siang dan malam karena sepanjang hari suaminya itu akan sibuk bekerja bahkan tak jarang lagi ia meninggalkan istrinya sampai berhari-hari untuk bertugas keluar kota. Sudah seperti bos kantoran saja ya? Ah sayangnya bukan.
Tadi malam Azri berjanji akan mengajak Alista berbelanja di Toserba atau pusat perbelanjaan terdekat. Walau dekat tetap saja harus menempuh waktu sekitar 25 menit untuk bisa sampai sana dengan mengendarai sepeda motor.
Alista ingat ia bukan lagi istri seorang laki-laki kaya yang selalu membawanya kemanapun dengan mengendarai mobil. Jadi ia memutuskan untuk memakai kaos panjang berwarna putih gading dan celana jeans panjang. Ya hitung-hitung untuk mencegahnya masuk angin karena ia akan membonceng sepeda motor. Ia sangat antusias akan ajakan Azri kali ini. Jarang sekali suaminya itu mengajaknya berbelanja biasanya Alista akan pergi bersama Sarah untuk belanja bulanan misalnya ataupun sekedar menemani kakaknya tercinta.
Saking antusiasnya sampai ia merias dirinya, meski sederhana tapi tetap terlihat cantik. Karena ia memang sudah mewarisi wajah cantik ibunya itu. Ia heran disela-sela ritual merias wajahnya mengapa ia harus bernostalgia karena menemukan sebuah lipstik berwarna orange yang ada digenggamannya saat ini. Yang jelas saja membuatnya tersenyum miris kala mengingat semua itu.
"Sudah siap Lis?" Ucapan Azri menyadarkan Alista dari lamunannya.
"Ah iy mas. Ayuk" jawabnya sambil membereskan lagi alat makeup yang ia gunakan tadi lalu menutup kembali tas kecil yang berisi alat makeup miliknya.
Wanita itu segera meraih handbag miliknya dan memakai sepatu agar ia lebih leluasa dalam membawa barang belanjaannya nanti dibanding memakai Wedges ataupun yang lainnya.
Sedangkan Azri sudah siap dengan kaos hitam polos dilapisi jaket kulit yang biasa ia pakai dan juga celena jeans pendek. Lucu memang tapi dia lebih suka seperti itu sebab merasa lebih santai.
"Pakai dulu helm nya" titah Azri kepada Alista saat Alista sudah menghampiri nya yang memang sedari tadi duduk diatas motor.
Alista tersenyum senang. Rasanya seperti ia sedang dijemput kencan oleh kekasihnya. Ia jadi teringat ketika masa kuliah dulu. Dirinya dengan Fais sering sekali melakukan perjalanan membosankan Cilacap-Jogjakarta atau bahkan sebaliknya dengan mengendarai sepeda motor. Lelah memang tapi itu menyenangkan, apalagi dengan orang ia sayangi. Lelahpun tak akan jadi masalah bukan? . Ahh iya setelah kejadian Alista demam waktu itu dan Fais yang merawatnya, Alista sempat berkata kepada Fais agar mereka tidak usah bertemu lagi, memang belum bertemu sampai saat ini tapi laki-laki itu masih sering menghubunginya melalu pesan singkat ataupun WhatsApp, sekedar basa-basi bertanya kabar, walaupun Alista sering mengabaikannya namun sepertinya Fais belum menyerah. Buktinya sampai pagi tadi laki-laki itu masih sempat menghubungi Alista.
Saat Azri akan mengoper gigi sepeda motornya agar bisa melaju. Tiba-tiba saja ponsel Azri berbunyi. Lekas saja ia mematikan mesin motornya dan mengangkat teleponnya setelah melihat siapa yang tengah mengganggu acara weekend mereka.
"Halo Assalam...."
'Halo Azri, bisa kamu kesini? Putri sakit. Dia demam dari tadi malam'. Ucapan seseorang disebrang sana bahkan memotong ucapan salam Azri yang akan ia ucapkan.
"Ah iya mbak. Oke"
Sambungan telepon pun terputus.
"Ada apa mas? Siapa?" Tanya Alista panik ketika melihat air muka suaminya berubah cemas.
"Maaf Lis kayaknya kita nggak jadi pergi deh. Putri, anak aku sakit. Kata mbak Aina dia sudah demam dari tadi malam" ucapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Mungkin saja rasa cemas dan rasa bersalah menjadi satu.
"Nggak apa-apa mas. Anak kamu lebih penting. Belanjanya lain kali aja" Alista mengelus lembut punggung suaminya seolah berkata agar ia tetap tegar.
"Aku ikut ya?!" Pinta wanita itu yang hanya diangguki oleh Azri.
Putri terbaring di tempat tidur. Wajahnya sudah merah matang. Mungkin demamnya sangat tinggi. Sesekali terdengar ia memanggil ibunya. Mungkin ia merindukan sosok seorang ibu. Kakak iparnya bilang anak itu masih belum juga makan dari pagi padahal ia harus diberi obat agar demamnya segera turun, hingga ia bingung harus bagaimana sehingga ia nekad menelepon Azri agar ia datang.
"Ayah... hiks" panggilnya disela tangis bocah itu kepada Azri saat ia menghampiri bocah kecil itu dan segera memeluknya.
"Ayah disini nak. Sayang makan dulu terus minum obat ya? Biar cepet sembuh sakitnya." Titahnya lembut seraya mengusap punggung Putri.
"Putri mau ibu yah... ibu mana? Putri kangen ibu" tangis nya lagi malah semakin kuat. Sebegitu rindunya ia terhadap sosok ibunya.
Azri membaringkannya lagi untuk segera beranjak mengambilkan makanan untuknya agar bisa meminum obat setelah itu.
"Sayang makan dulu yah! Biar sembuh. Biar bisa ketemu ibu" bujuk Azri dengan mengusap airmata dan menyeka peluh pada kening anak itu.
Alista tersenyum miris mendengar perkataan Azri. Ya Tuhan, bocah sekecil itu harus menerima kenyataan sepahit ini. Sudah ditinggalkan ibunya menuju panggilan Tuhan.
Alista berinisiatif saat melihat suaminya membawakan bubur untuk anaknya. Ia berpikir,apa salahnya kan? toh dia bisa saja dianggap sabagai ibu oleh anak suaminya.
"Biar aku aja mas." Kemudian di angguki oleh Azri. Ia senang kalau istrinya mau ikut serta merawat anak-anaknya.
"Ayah...." teriaknya semakin keras saat mendapati Alista yang mendekatinya. Saking kerasnya sampai anak itu terbatuk-batuk.
"Ini ibu sayang. Ayo makan dulu ya. Biar cepet sembuh. Nanti main sama ibu, ya" ucap Alista lembut seraya memberikan suapan kepada bocah itu. Namun ekspektasinya sedari tadi sangat salah dan
Bug
Prang
Anak itu menepis sendok bubur yang akan Alista berikan dan menendang mangkuk bubur itu sampai pecah tak berbentuk.
"Bukan. Kamu bukan ibu. Putri mau ibu. Putri mau ibu ayah" racaunya lagi disela tangisnya yang masih kuat.
Serasa sesak dada Alista saat ini. Sebegitu tidak pantasnya ia dipanggil ibu. Bahkan anak dari suaminyapun tidak mahu memanggil ataupun menganggapnya ibu.
"Kamu nggak apa-apa Lis. Maaf yah. Biar aku aja yang suapin dia. Mungkin dia belum terbiasa"
"Iya mas nggak apa-apa. Namanya juga anak-anak"