
Kami masuk ke rumah Om Allan tidak banyak berubah seingatku waktu dulu aku sering kerumahnya sengaja untuk menginap menemani mereka sebelum orang tuaku sesibuk sekarang, Om Allan menymbut kami bersalaman dengan Enrico dan menyalami ku juga sini Enrico sahutnya mengajak Enrico ke ruang kerjanya
"Om tinggal dulu yah aaliya kamu temani tante Maria dulu kata Om Allan
" Iyah Om sahutku sambil merebahkan diriku di sofa di ruang keluarga
Tante mariya datang sambil membawa buah dan minuman untuku,
"Tante masih inget ajah aku suka banget buah ucapku sambil tersenyum padanya
Kemudian dia duduk di dekatku " inget dong sayang, kamu kan kesayangan tante katanya
Aku memindahkan kepalaku ke pangkuan tante Maria kemudian dia membelai rambutku lembut, tidak terasa aku menangis, aku sangat merindukan Mami ku
"kangen Mami ya
aku hanya mengangguk, sambil masih menangis
tante Maria terus membelai rambutku dan berkata
" sabar berbaik baik lah dengan Enrico minta dia mengantar kamu pulang Papi pasti ijinin kalo sama Enrico
aku hanya mengangguk tanpa berkata sambil terus memeluknya dia sangat keibuan aku sangat menyayanginya
di ruang kerja Om Allan terlihat sedang berbicara pada Enrico
"kamu kan udah lulus kenapa ga ke perusahaan ucapnya
" Papa ngajuin syarat yang sulit Om aku harus lebih dekat sama aaliya sambil menundukkan wajahnya dengan lesu
"Loh gpp kan aaliya itu memang calon kamu, jadi kamu harus bisa dekat dengan dia ucap Om Allan sambil memberikan sedikit penekanan pada kata-kata nya
" Tapi Om kan tau aku udah ada Diana
"Om sudah pernah suruh kamu jauhin perempuan itu kan dia ga baik buat kamu, dia dekati kamu gak tulus sahut Om Allan
" ah sudahlah Om ucap Enrico
kemudian Enrico pamit untuk menemui aaliya
"aku ke aaliya sebentar Om
" yasudah temani aaliya sana sahut Om Allan
Enrico beranjak meninggalkan Om Allan di ruang kerjanya menuju ke ruang keluarga
sewaktu aaliya masih terisak menangis dia dikejutkan oleh suara Enrico
"kamu kenapa nangis katanya dengan suara lembutnya suara yang jarang sekali ku dengar selama ini
" kangen Mami Papi nya kata tante Maria sambil tersenyum, kamu antar dia ke kota B buat jenguk Mami sama Papi nya kata tante Maria
aku menyambut uluran tangan Enrico dan mengikutinya ke arah kamar tamu
" ngapain ucapku dengan nada sedikit takut
"aku cuma mau ngobrol tenang ajah gak ngapa-ngapain kata Enrico
aku memasuki kamar tamu disana ada sebuah sofa
" duduk kata Enrico padaku
"aku mematuhinya kemudian Enrico duduk di sebelahku
dia mengeluarkan sebuah kertas dari dalam tasnya yang dia bawa sedari tadi,
"aku harap kamu bisa bantu, kita kerjasama ucapnya
aku membaca surat tersebut, aku kaget di dalam nya tertulis
Perjanjian menjadi pacar sementara hatiku bergetar tidak tahu apa yang kurasakan ada sedikit rasa hancur di dalam hatiku, apakah harus seperti ini ucapku dalam hati, aku masih terus membaca isinya
1.pihak pertama yang mengajukan kemudian di sebut sebagai pihak pertama sedangkan pihak yang menyetujui kemudian di sebut sebagai pihak kedua
2.pihak kedua harus terlihat sedikit mesra di depan kedua orang tua pihak pertama
3.tidak marah dan tidak melakukan hal yang merugikan pihak pertama
4.tidak membantah dan melawan pihak pertama di hadapan kedua orang tua nya
5.jika terjadi hal yang tidak di inginkan misal pihak pertama harus mencium pihak kedua makan pihak pertama harus membuat denada Rp 10jt kepada pihak kedua.
isi surat perjanjian yang di ajukan Enrico padaku. Aku langsung mengembalikannya sambil berkata
"Aku gamau ucapku sambil membuang muka darinya
" kamu gamau ketemu Mami Papi emangnya ucap Enrico
dalam hatiku aku ingin sekali bertemu mereka.
"kamu janji antar aku ketemu mereka ucapku
" Iyah aku janji kata Enrico
aku menandatangani surat kontrak pacaran dengan Enrico, begitu juga dengan Enrico
"Nah kalo gini kan enak katanya udah yuk gk enak lama-lama di kamar ucap Enrico sambil beranjak pergi dengan raut wajah yang terlihat bahagia
" Gw bakal masuk perusahaan sebentar lagi ucapnya dalam hati
kami berdua menghabiskan waktu sampai sore dirumah Om Allan dan saat hampir jam makan malam Enrico pun mengajakku pulang dan berpamitan pada Om Allan