MY DESTINY

MY DESTINY
Episode 37



Sekuat apapun seseorang pasti ia pernah mengalami dimana ia berada pada titik paling lemah. Begitu juga dengan Alista.


Tubuhnya gemetar, keringat dingin berkucuran membasahi setiap sudut wajahnya. Di remasnya lengan Sarah yang saat itu ada disampingnya. Mereka baru saja turun dari sepeda motor milik Sarah yang memang mengantar Alista pulang.


Pikiranya sudah bercampur aduk saat ini. Ia melihat sebuah honda jazz terparkir manis dipelataran rumah itu. Siapa lagi yang datang, batinnya.


"Ayo. Mbak temani kamu masuk" Sarah mengusap punggung tangan Alista yang sejak tadi mencengkeram lengannya. Berharap rasa panik adiknya sedikit berkurang.


Perlahan mereka melangkahkan kaki menuju pintu utama rumah itu. Alista berjalan lebih dulu dan Sarah mengekorinya. Dari luar terdengar suara gelak tawa seorang laki-laki.


Dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu antara takut, ingin marah dan juga kesal, jikalau pikiran negatif nya saat ini benar. Alista mungkin akan benar-benar murka.


"Assalamu...." suara salam Alista menggantung ketika ia menongolkan kepalanya dari balik pintu. Ia melihat ibunya didalam disana bersama seseorang yang sangat dia kenali duduk disofa panjang ruang tamu.


"Alaikum" sambungnya lirih.


"Ehh itu Lilisnya udah pulang" ibu halimah segera berdiri menyambut kepulangan Alista.


"Fais, ngapain kamu datang kesini??" Ucap Alista dengan nada ketus.


Ya seseorang yang datang adalah Fais. Mantan kekasih Alista. Ia datang karena merasa rindu dengan wanita itu. Beberapa hari ini, pesan teks yang ia kirim melalui WhatsApp tidak pernah Alista baca.


"Kok nanya nya gitu Lis? Nggak sopan, nanya sama tamu begitu!" Tegur ibu Halimah, ia segera menuntun Alista agar ia duduk di sofa yang sempat ibunya duduki tadi.


Mata Alista membulat ketika mendengar bisikan ibunya "Lihat Lis. Pacar kamu makin ganteng, mobilnya bagus lagi"


Apa-apaan ini. Apa tadi ibunya bilang? Pacar? Siapa yang mengklaim siapa? Apa laki-laki dihadapannya saat ini yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya. Apa dia lupa kalau semuanya sudah jelas dan berakhir seperti yang Alista katakan terakhir mereka bertemu.


Kedua bola mata Alista beralih pada Fais. Ia terlihat tersenyum pada nya. Apa dia merasa bangga mendengar pernyataan ibunya barusan, oh bukan. Bisikan ibunya yang mungkin terdengar oleh Fais karena suaranya agak sedikit keras.


Dada Alista sudah bergemuruh sekarang. Masalah rumah tangganya sendiri saja belum bisa ia tangani, sekarang apa lagi maksud dari semua ini. Fais tiba-tiba datang bahkan ibunya menyambutnya dengan senang hati. Sudah cukup ia terombang ambing hidupnya sejak satu tahun yang lalu akibat ulah ibunya itu. Apa sekarang akan terjadi lagi?


Alista segera berdiri dan menghadap ibunya yang masih berdiri disampingnya.


"Kenapa?" Ucapnya dengan nada tinggi.


"Kenapa nggak sekalian aja ibu jual aku ke tempat pelacuran biar uang ibu lebih banyak lagi??" Sial, ia sudah tidak bisa menahan semuanya lebih lama lagi. Ini saatnya meluapkan segala gejolak yang tersimpan rapih dihatinya selama ini.


Plak


Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Alista. "Jaga bicaramu Lis" ungkap ibunya tak jauh tingginya dengan nada bicara anaknya.


"Ara" pekiknya setelah meraih kedua pundak Alista dari belakang.


Alista menyentuh pipi nya yang terasa perih. Ia tidak percaya kali ini ibunya berani memukulnya, pukulan pertama seumur hidupnya.


Alista memutar tubuhnya menghadap Fais.


"Senang kamu kan, hah?? Ini kan yang mau kamu lihat Fais?? Pemandangan seperti ini kan yang kamu nanti-nanti?"


"Ra, nggak gitu. Kamu dengerin aku"


"Denger apa lagi. Apa masih kurang jelas aku nolak kamu secara halus. Dan sekarang lihat. Semuanya semakin jelas. Kamu bener-bener senang lihat aku semakin kacau" suara Alista sudah diiringi dengan tangis. Airmatanya yang baru saja mengering kini kembali membasahi pipi nya.


Sarah yang memang belum pulang segera keluar ketika mendengar keributan dari ruang tamu.


"Kamu pulang aja Fais"


"Tapi mbak. Ini nggak seperti yang Ara pikirkan"


"Aku ngerti. Tapi aku rasa semuanya sudah berakhir. Aku mohon jangan buat keributan disini. Sekarang kamu pulang. Bukankah kamu juga nggak mau lihat Lilis menderita. Ini yang terbaik untuk kalian" Sarah mendorong punggung Fais keluar. Bisa-bisa keributan mereka akan mengundang banyak tetangga yang datang jika tidak segera di lerai. Dan dengan berat hati juga ia segera melenggang pergi.


Sakit memang melihat wanita yang ia sayangi tersakiti. Tapi secara tidak langsung dirinya jugalah yang sudah menggores luka itu dan menyakiti nya. Ragu dan sesal datang bersamaan. Ia ragu melangkah menjauh dan membiarkan Alistanya pergi untuk yang kedua kalinya. Sesal karena ia jugalah penyebab semua ini. Kalau saja waktu itu dia mahu mengambil resiko untuk melawan Gilang pasti semuanya akan jauh berbeda dengan kenyataan pahit yang saat ini terjadi.


Bukan hanya kehilangan Alista tapi dia juga tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk memperbaiki semuanya.


Alista terduduk lemas di atas sofa yang tadi ia duduki. Dadanya semakin sesak akibat airmata yang tak henti mengalir sejak pagi tadi. Baru saja ia berhasil mengeringkannya saat dirumah Sarah tadi, sekarang ia harus menumpahkan nya kembali.


"Ibu puas kan sekarang. Kanapa ibu nggak henti-hentinya mencampuri urusan Lilis. Mau ibu tuh apa? Hah?" Ucap Alista pada ibunya disela tangisnya.


To be continue...


๐Ÿ‚๐Ÿ‚๐Ÿ‚


๐ŸžTerimakasih banyak yang masih mau setia. Maaf kalau masih banyak kekurangan. Rasanya greget pengen cepet slesein cerita ini. Menurut kalian mending Alista berakhir sama siapa? Please koment dibawa ya.


Oiya. Sekedar share, kali aja ada yang mau mampir di karya kedua aku. Judulnya


'Si Nona Tomboy'


Salam author.