
"Apa kamu mencintai Azri??"
"Kalau aku tidak mencintai nya untuk apa aku mau dinikahi oleh mas Azri"
"Kamu tahu kalau dia sudah pernah menikah? Apa kamu tahu semua masa lalunya seperti apa? Atau mungkin keburukan dia seperti apa diluar sana?
"Te.... tentu saja"
Percakapan dirinya bersama Gilang malam tadi masih terngiang dalam ingatan Alista.
Keburukan? Masa lalu?
Memang benar Alista tidak banyak bertanya tentang kehidupan suaminya itu. Dia seperti apa, bagaimana masa lalunya. Terus saja otak cantik itu berputar. Apa salah kalau dia percaya pada suaminya itu.
Kini dia tengah duduk di ruang tamu rumahnya, oh bukan, rumah ibunya karena mereka masih tinggal dirumah orang tua Alista . Menunggu suami tercinta nya yang masih belum pulang dari bekerja.
Untuk menghalau rasa kantuk yang amat sangat melanda sedari tadi dia selingi dengan membaca sebuah novel. Dia sangat suka membaca apalagi yang berkaitan dengan hal-hal romantis.
Lagi-lagi dia melirik arah jarum pendek pada sebuah benda berbentuk lingkaran yang setia melekat pada diding.
Ia mulai meremas novel yang sedari tadi ia pegang. Geram rasanya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi suaminya itu masih belum juga terlihat.
Sesekali dia juga membuka tombol on pada ponselnya namun hasilnya nihil. Berkali-kali sudah ia mengirim pesan bahkan memanggil nomor suaminya tapi tak ada satupun yang menunjukkan hasil.
Sampai detik berikutnya terdengar deru mesin sepeda motor memasuki garasi rumah tersebut.
Ceklek
"MAS AZRI" seru wanita itu dengan lantang, tangannya bersedekap dada. Membuat sang empunya yang baru saja mengunci pintu terkejut.
"Tengah malam mas, dari mana aja jam segini baru pulang, masih inget rumah, masih inget kalo punya istri?" Tanya Alista beruntun
"Aku kan habis nganter barang lis, ke solo" jawab Azri sambil melepas jaket kulit berwarna coklat yang ia kenakan.
"Bukannya aku udah bilang sama kamu kemarin malam" imbuh Azri lagi mengingatkan sang istri bahwa ia memang sudah mengatakan bahwa dia akan pergi ke solo hari ini.
Otak cantik Alista tampak berputar memflash memori ingatannya.
"Iya. Tapi kenapa hp kamu nggak aktif mas. Aku telponin, aku chat berkali-kali tapi nggak dibales sama sekali" Tak mau kalah Alista terus memutak otaknya melontarkan pertanyaan untuk menghilangkan kekesalannya yang sudah diubun-ubun.
Tidak memberikan jawaban malah Azri berlalu menuju kamar mereka.Alista membuntutinya.
"MAS, KAMU TUH KALO DITANYA TUH DIJA...." Alista semakin kesal
"Ssssstt... kamu mau semua tetangga pada dateng kesini karna denger kamu teriak-reriak"
Alista terdiam dia sadar nada bicaranya mulai meninggi kalau dia tambah satu oktaf saja mungkin akan membangunkan Randi yang susah tertidur atau bahkan tetangga meraka bisa berdatangan.
"Aku capek lis . Dari solo aku langsung pulang karna aku inget, kamu cuma sama Randi dirumah"
"kalo soal hp aku nih" tunjuk Asri pada sebuah ponsel yang berada diatas meja dikamar mereka.
"Kamu kan tau hp aku lowbatt dari kemaren sampai tadi pagi lupa dicaz. Makanya aku nggak bawa"
"Kamu tuh nggak tau aku dari tadi hawatir sama kamu mas, se nggak nya kamu...."
"Oke. Mau kamu apa lis? Aku beneran capek. Marah-marah nya besok aja ya. Sekarang udah malem nih. Udah hampir jam tiga" ungkap Azri sambil melirik alroji di pergelangan tangannya kemudian langkahkan kakinya menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Sedang Alista masih dengan emosinya
"Yang bener aja kamu mas. Emang kamu aja yang capek. Aku juga sama nungguin kamu daritadi"