
Keesokan paginya dengan perasaan masih kesal karena semalaman menunggu suaminya yang pulang terlambat,dengan langkah malas dan menahan kantuk ia tetap segera bergegas saat nada alarm pada ponsel berbunyi. Ia segera membersihkan diri dan menyiapkan sarapan.
" Mas Azri pulang jam berapa tadi malam mbak?" tanya Randi yang tiba-tiba saja sudah duduk dimeja makan.
"Eh Ran. Jam dua kayaknya. Aku lupa kalau dia pergi ke Solo nganter barang" ungkap Alista dengan tawa gelinya.
Lucu bukan? Dia bahkan sampai lupa kalau suaminya sudah meminta ijin kepada Alista sebelumnya.
Randi hanya ber'oh ria lalu segera memakan sarapannya.
"Ibu sama Ayah kapan pulangnya mbak?"
"nggak tau Ran. Mbak juga nggak nelpon mereka"
"Mbak kok gitu sih? "
Alista hanya tersenyum hambar mendengar pertanyaan sang adik. Seolah senang bila kedua orang tuanya tidak disisinya.
Randi tidak bertanya lagi. Setelah selesai sarapan dia berpamitan berangkat kesekolahnya. Dia baru saja kelas dua SMA saat ini.
***
"Mas"
Aku menghampiri mas Azri yang sedang menyantap sarapannya di meja dapur.
"Mas minta cicis!" Aku membuka telapak tanganku dan mendekatkannya dihadapan mas Azri.
Dia menatapku. Aku menaik turunkan alisku dan menampakkan deretan gigiku seraya menunggu jawaban dari nya.
"ayo ayo buruan! Aku mau beli jamu mbok Sumi di depan. Udah aku panggil"
Maz Azri tampak meraba kantong celananya seperti mencari sesuatu.
"Dompet aku di kamar deh kayaknya"
Mendengar jawaban mas Azri, aku segera berlari menuju kamar guna mengambil uang di dalam dompet suamiku.
Aku meraih benda yang terbuat dari kulit itu di atas kasur lalu membukanya.
Aku terkejut bukan main saat mendapati sebuah benda tipis yang terselip plastik yang memang bagian dari domper itu.
Apa-apaan ini? Siapa dia?
Aku menemukan potret seorang wanita cantik berkulit putih bersih, hidung yang mancung bibir yang seksi. Tubuhnya, aku tidak bisa melihat pasti sebab potret itu hanya setengah badan. Tapi aku bisa menebak postur tubuh nya seperti berisi alias tidak kurus dan tidak gemuk.
Fikiran ku semakin kacau, bertanya-tanya siapa gerangan wanita itu. Dia bukan adik mas Azri, aku tahu itu. Apa dia pacarnya? Apa dia istrinya? Atau....
"Ketemu nggak dompet nya lis?" ucapan suamiku ini membuyarkan lamunanku.
Aku melototkan bola mataku kearahnya tanda aku membutuhkan penjelasan. Apa ini yang selama ini membuat Gilang selalu menghantuiku. Bahkan dia dengan nekadnya menemuiku malam itu.
Aku memang tidak tau apa-apa soal mas Azri. Yang aku tahu aku mengaguminya. Entah ini opsesi atau kah cinta, aku tidak tahu.
Rasanya enggan menjawab pertanyaan konyol mas Azri jelas-jelas aku sedang memegang dompet miliknya.
Aku segera berlari kearah depan.
"Mmmm... mbok. Kayaknya nggak jadi jamunya deh" sesalku dengan senyum hambar pada tukang jamu yang sudah aku panggil tadi.
"Nggak boleh gitu. Nggak sopan" tegur mas Azri yang mungkin mengikutiku tadi.
"Jamu campurnya mbok, dua. Dibungkus aja" mas Azri langsung memberikan uang lima ribuan dua lembar kepada mbok Sumi.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
"Matur suwun"
Ucap mbok Sumi setelah memberikan bungkusan jamu pada mas Azri kemudian berlalu.
Aku beranjak mendahului mas Azri munuju kamar dan duduk ditepi ranjang. Masih penuh tanda tanya diotakku saat ini.
Mas Azri menghampiriku, dia meletakkan bungkusan jamu itu diatas meja.
Aku membutuhkan penjalasan mas.