
"Kau tidak perlu kasihan padaku Frans. Aku tidak butuh itu." ucap Saina datar. Frans menggeleng kuat mendengar nya, entah mengapa dia merasa tidak menyukai ucapan Saina, meski memang ada rasa simpati padanya, namun rasa cinta Frans benar-benar tulus adanya.
"Aku mencintaimu Saina. Sejak awal aku sudah mulai tertarik padamu. Jangan berkata seolah aku hanya kasihan padamu karena itu tidak benar." jawab Frans dengan raut wajah sendunya.
"Kau tidak boleh mencintaiku Frans. Aku akan mati. Cintai ini hanya akan menyakiti kita, buang perasaanmu jauh-jauh dan carilah orang lain yang lebih pantas untuk mendapatkan cintamu." ucap Saina tegas, namun siapapun masih bisa melihat kesedihan dalam nadanya.
"Tidak Saina. Jangan pernah memintaku untuk melakukan hal yang tidak mungkin bisa aku lakukan. Aku akan selalu mencintaimu sampai waktu mu tiba. Aku akan mencintai mu untuk melepaskanmu." ucap Frans sedikit bergetar mengucapkan nya. Meski tidak ada air mata yang menetes dimatanya, namun dia bisa merasakan tangis dalam suaranya mengatakan hal itu.
Tanpa bisa dicegah Saina meneteskan air matanya. Untuk pertama kalinya bagi Frans melihat Saina menangis pilu. Secara refleks Frans memeluknya erat. "Kenapa ini terjadi padaku, kenapa kebahagiaan yang baru saja kurasakan akan segera berakhir seiring datangnya kematianku. Aku mulai menginginkan hal-hal yang tidak mungkin kudapatkan. Aku mulai menginginkan kehidupan ini, sekalipun waktuku akan segera habis. Aku ingin lebih lama lagi bersamamu dan orang-orang yang aku cintai." ucap Saina disela isakkannya. Lalu ia melepaskan pelukan Frans dan mengangkat wajahnya. "Kau lihat betapa kelirunya semua ini ...? Aku mulai meminta pada tuhan yang sempat tidak kupercayai sebelumnya. Aku ingin meminta hal yang tidak pantas kuminta: Waktu tambahan. Walaupun aku tahu tidak ada kebaikan yang pernah kulakukan yang membuatku layak mendapatkannya." sambungnya lagi, membuat Frans semakin terhenyak mendengarnya.
"Dengar Saina, aku akan berusaha untuk menyembuhkan mu, kita akan keluar negri untuk melakukan pengobatan. Aku akan mencari dokter terbaik untuk merawatmu. Kau pasti akan sembuh." ucap Frans mencoba menyemangatinya. Meski itu sangat mustahil.
Saina tidak menanggapinya, dia tahu bahwa hal itu sangat mustahil. Saina takut saat dia tidur dan dia tidak akan bisa bangun lagi. Bayangan akan kematian membuatnya menjadi takut seolah itu adalah mimpi buruk baginya.
Frans kembali membawa Saina kedalam dekapannya. Hanya dalam waktu singkat mereka bersama, dan sesingkat itulah Frans akan kehilangannya. Seolah cinta mereka adalah berkah segaligus sebuah kutukan bagi mereka.
****
"Astaga, Celine apa yang kau lakukan disini?" tanya Daniel yang keget dengan kehadiran Celine disebelahnya.
"Daniel aku takut, karena itu aku kemari. Maaf telah mengagetkanmu." ucapnya terbata dan langsung memasang wajah sedih nya.
Daniel mengusap kasar wajahnya. "Kau tidak bisa seperti ini ! Jika ada yang melihat akan terjadi salah paham nantinya." ucap Daniel dengan nada kesal. "Kalau begitu aku harus pergi, aku rasa sekarang kau sudah lebih baik." sambungnya lagi.
Celine hanya menipiskan bibirnya menanggapi ucapan Daniel. Tanpa menunggu persetujuannya Daniel telah melangkah pergi.
****
Nayna mencoba mencari kesibukan dirumahnya untuk mengalihkan segala pikiran buruk mengenai Daniel. Namun tidak semudah yang ia harapkan. Nayna mendesah pelan. Lalu perhatianya teralihkan saat
mendengar suara ketukan pintu.
Nayna segera membukanya, dia begitu kaget saat melihat orang yang telah mengganggu pikiran nya sejak tadi malah muncul dihadapannya saat ini dengan tiba-tiba. Seketika mereka saling menatap, namun tatapan Nayna bukanlah tatapan kebencian seperti yang tadi ia pikirkan. Saat ini dia memandang dengan tatapan kerinduan, dan Daniel menyadari hal itu.
"Kau tidak ingin menyuruhku masuk." ucap Daniel lembut.
"Maaf aku sibuk," ucap Nayna segera menutup kembali pintunya, namun sebelum pintu itu tertutup rapat, Daniel dengan sigap mencegahnya.
"Nayna, kumohon biarkan aku menjelaskannya padamu !" ucap Daniel sembari menahan pintu yang akan tertutup itu. Tenaga Nayna tidaklah sebanding dengan Daniel, sehingga membuat Daniel dengan mudah membuka pintu itu lebar-lebar dan tanpa tahu malu ia langsung masuk kedalam rumah Nayna.
"Apa yang kau lakukan Daniel? Keluar dari rumahku !" ucap Nayna menatapnya datar sambil menunjuk jalan keluar. Daniel tidak menggubris pengusiran itu, dia malah duduk dengan santai seolah tidak terjadi apapun.
"Duduklah Nayna, akan aku jelaskan." ucapnya menepuk sebelah tempat duduk, seolah memberi isyarat agar Nayna duduk disana. Nayna mendengus, namun dia menuruti kemauan Daniel dan duduk disebelahnya.
Melihat Nayna yang telah duduk, Daniel segera memulai penjelasannya. "Saat itu Celine sedang mabuk berat. Melihat dia yang limbung aku segera menangkapnya, lalu kau datang dan pasti kau salah paham." ucap Daniel menjelaskan. Tapi tidak ada perubahan di raut wajah Nayna.
"Lalu kau mau." ucap Nayna memotong ucapan Daniel yang belum sempat dia selesaikan. Daniel diam saja memasang wajah bersalahnya.
"Lalu bagaimana dengan ini." ucap Nayna mengerakan tanganya di depan wajah Daniel. menunjukan foto yang sengaja dikirim seseorang padanya.
Daniel membulatkan matanya. Dan menggeleng pelan, tidak menyangka hal seperti ini ternyata sudah direncanakan. Tapi siapa yang melakukan ini? Apa Celine ...?" batinnya.
"Nayna, sepertinya ada yang ingin merusak hubungan kita."
"Benarkah? siapa, apa dirimu sendiri?." ucapnya sinis.
"Cukup Nayna. Percayalah padaku ! Aku sangat mencintaimu, tidak mungkin aku melakukan hal itu." ucap Daniel mulai kesal.
"Aku sangat ingin mempercayai mu Daniel. Tapi kenyataan yang aku lihat ini, sangat sulit membuatku percaya padamu." ucap Nayna pahit.
"Suatu hubungan tanpa rasa percaya, bukanlah dua hati yang saling cinta, tapi hanya dua orang yang menghabiskan waktu bersama. Cinta itu seharusnya mengajarkan kita bagaimana bisa saling percaya. Bukan untuk saling curiga." ucap Daniel lembut, dan itu cukup membuat Nayna terdiam.
""Aku tahu mungkin saat ini kau butuh waktu untuk sendiri. Tapi aku tidak bisa untuk langsung pergi Nayna, aku masih sangat merindukanmu. Maaf jika aku egois." ucap Daniel sembari memeluk Nayna. Nayna tidak menolaknya, bahkan diluar dugaan Daniel. Nayna malah membalasnya.
Bukan hanya Daniel yang menginginkan pelukan itu, tapi juga Nayna. Rasa cintanya pada Daniel jauh lebih besar dibanding kekesalannya. Meski Nayna sangat ingin sekali melampiaskan kemarahannya, tapi entah mengapa semua amarah, bahkan sumpah serapah yang sempat difikirkannya hilang begitu saja.
Kehadiran serta pelukan Daniel membuatnya melupakan semua masalah yang terjadi. Dan saat ini hanya ada mereka berdua. Yang saling melepas rindu satu sama lain.
******BERSAMBUNG ......
****
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH**** "