
Nayna membuka ponselnya. Lagi-lagi foto tentang kedekatan Daniel dan juga Celine terpampang jelas disana, namun kali ini berbeda dari sebelumnya. Foto ini terlihat begitu dekat dan sedikit intim, Nayna hanya menatap datar foto itu dan langsung mematikan kembali ponselnya.
"Mbak? Sepertinya kita kekurangan banyak mutiara untuk gaun kita, aku akan pergi dulu untuk membelinya." ucap Sassy dengan membawa tasnya dan segera pergi. Nayna hanya mengangguk pelan menanggapinya.
"Butuh tumpangan?" ucap Hans tiba-tiba berada di depan Sassy.
"Ya, sepertinya aku membutuhkan seorang supir untuk mengantarku."
Mendengar ucapan Sassy membuat Hans terkekeh.
"Ayo,"
Sassy mengangguk cepat saat Hans membukakan pintu mobil untuknya. Hans berjalan menuju sisi lain mobil untuk menuju kearea tempat duduk supir. Mobil mereka menembus jalan raya dengan kecepatan standar. Saat mengajak Sassy Hans tidak pernah sekalipun mengemudi dengan kecepatan penuh karena tidak ingin membuat Sassy takut meski dia cukup ahli dalam mengemudi.
Hans memakai hendsetnya untuk menerima panggilan teleponnya yang baru saja berdering. Dan panggilan itu ternyata dari ibunya.
"Ada apa ibu?"
Sassy menoleh kearah Hans saat mendengar dia menyebut ibunya.
"HANS .... DIMANA CALON MENANTUKU, KAU BILANG INGIN MENGAJAK NYA KEMARI?" ucap ibunya dari seberang telepon. Hans mendelik mendengar ibunya yang bicara begitu keras.
"Ibu ... Dia sedang sibuk, saat ini kami ingin membeli sesuatu. Nanti jika ada waktu luang aku akan segera mengajaknya menemuimu." jawab Hans pelan.
" APA? JADI DIA BERSAMAMU SEKARANG !! KALAU BEGITU KAU HARUS MEMBAWANYA KESINI SEKARANG JUGA HANS IBU TIDAK MAU TAU. JANGAN MENJADI ANAK DURHAKA YANG SELALU MEMBANTAH UCAPAN IBUMU, KAU MENGERTI." ucapnya segera mematikan telepon tanpa menunggu jawaban dari Hans. Jika ibunya sudah seperti ini, maka malapetaka akan menimpanya. Ibunya akan mendiami Hans dan akan sangat sulit untuk membujuknya.
Hans mendesah letih, "Ada apa Hans? Kenapa kau jadi gusar." tanya Sassy yang melihat perubahan raut wajah Hans.
"Ibuku ingin kau menemuinya sekarang." ucapnya pelan.
"Lalu?"
"Itu tidak mungkin, karena pekerjaamu saja masih banyak." jawabnya lagi.
"Aku bersedia menemuinya Hans." ucap Sassy tanpa ragu. Membuat Hans langsung menatapnya.
"Kau yakin?" tanya Hans memastikan.
"Aku yakin. Lagi pula aku sudah berjanji, cepat atau lambat aku juga pasti akan menemui ibumu." ucap Sassy lembut.
"Baiklah, kalau begitu kita akan kesana sekarang juga." ucap Hans mengembangkan senyuman nya. Sassy mengangguk pelan dan mengambil ponselnya untuk memberitahukan pada Nayna.
***
"Bagaimana keadaannya?" tanya Frans pada dokter Reyyan yang baru selesai menangani Saina.
Saat diperjalanan tiba-tiba dokter Reyyan menghubungi Saina untuk mengingat kan nya agar tidak lupa bahwa hari itu jadwalnya mengotrol penyakitnya. Tidak disangka malah Frans yang mengangkatnya dan langsung menemui dokter Reyyan.
"Keadaan nya sudah stabil, namun dia harus rutin memeriksakan kondisi nya setidaknya seminggu 3 kali." ucap dokter Reyyan terdengar sedih.
"Memangnya apa penyakitnya, apa begitu parah?" tanya Frans dengan kekhawatirannya.
Dokter Reyyan mendesah pelan, sudah saatnya dia memberitahukan rahasia Saina. Meski Saina mungkin akan tidak mempercayainya lagi, tapi apa boleh buat. Dia tidak ingin menyesal jika saja sesuatu yang buruk akan terjadi menimpa Saina.
Tanpa ragu Dokter Reyyan menjelaskan tentang penyakit yang diderita Saina dengan sedetailnya, siapa tahu Frans bisa membujuk Saina agar lebih berhati-hati dan rajin untuk memeriksanya. Frans terperangah kaget mendengar setiap ucapan dokter Reyyan. Frans tidak menduga dibalik sifat Saina yang begitu ceria dan sedikit absurd menyimpan penyakit yang mematikan dan tidak memberitahu pada siapapun. Saina yang terlihat kuat ternyata begitu lemah dan tidak berdaya melawan penyakitnya. Tanpa bisa dicegah air mata Frans mengalir membasahi pipinya.
Frans terdiam dipojokan dinding kamar Saina dirawat dengan suasana hati yang suram. Matanya sibuk menekuni kertas tentang penyakit Saina, yang diberikan dokter Reyyan padanya. Frans sudah membacanya berulang kali bahkan sudah sampai puluhan kali, sampai nyaris hapal kata demi kata, berharap akan menemukan petunjuk tersembunyi atau sejenisnya yang bisa membantunya untuk menolong Saina.
Namun harapan itu tidak terkabul.
Tidak ada apa-apa disana, selain pembahasan mengenai penyakit Saina.
Frans begitu terhenyak begitu mengahadapi kenyataan bahwa tidak ada cara apapun yang bisa menyelamatkan Saina. Cepat atau lambat Saina akan mati.
Frans segera mengusap kasar air matanya saat menyadari Saina yang mulai sadar, secara perlahan dia menggerakan tangannya lalu didetik kemudian dia membuka matanya. Saina berkerut heran melihat wajah Frans yang merah, Saina tahu bahwa Frans habis menangis Meski Frans mencoba menutupinya dengan tersenyum hangat.
"Kau sudah sadar!! bagaimana keadaanmu?"
Saina tidak terkecoh dengan akting picisan dari Frans untuk bersikap normal. Raut wajahnya yang hampa membuktikan bahwa Frans sudah mengetahui tentang penyakitnya.
"Kau sudah tahu semuanya?" tanya Saina lemah. Frans mengangguk pelan menanggapinya.
"Jadi aku akan mati? Memang sesuai dugaanku." ucap Saina mendesah pelan. Saina melirik kertas yang dipegang oleh Frans dan menariknya dari genggaman Frans. Seolah begitu ***** Frans malah membiarkan Saina mengambilnya dan membacanya. Bukannya berusaha mati-matian untuk mencegahnya.
Ekspresi Saina masih tetap tidak berubah ketika dia membaca carikan kertas itu. Hanya ada sedikit riak disana. Sebelum kembali berubah sedatar dan sehampa sebelumnya.
"Berarti ajalku sudah hampir tiba," ucap Saina begitu enteng sambil kembali menjejalkan carikan kertas itu digenggaman tangan Frans.
"Sudahlah tidak apa-apa. Mungkin memang sudah harus begini adanya." ucapnya pelan. Frans sendiri tidak berkomentar malah merasa sedikit bersalah karenanya.
"Kau tidak perlu memasang wajah seperti itu Frans. Aku sendiri tidak kaget. Aku sudah menduganya. Satu-satunya yang berada diluar prediksiku hanyalah waktunya." ucap Saina datar.
Ketika berbicara lagi Saina menatap mata Frans lekat-lekat. "Terimakasih telah membawaku kemari Frans." ucap Saina tersenyum tipis padanya.
"Saina, aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah kulakukan padamu. Maukah kau menikah denganku?" ucap Frans begitu tulus dan murni dari dalam hatinya, namun ketulusan itu justru membuat Saina salah sangka terhadapnya. Saina menyunggingkan senyuman penuh ironi.
BERSAMBUNG .....
TERIMAKASIH TELAH MENGIKUTI ALUR CERITA INI DENGAN BAIK. AYO DUKUNG AUTHOR AGAR SEMANGAT NULISNYA.
****
HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA
JANGAN LUPA KASIH
LIKE 👍
KOMENTAR 😀
BINTANG 5
FAVORITE
KOIN
DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN
JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH "