MY DESTINY

MY DESTINY
44



1 tahun kemudian.


"Alex kamu cuma punya waktu satu hari lagi buat nentuin pilihan".


Alex menghela nafas kasar ,ia melirik singkat kearah wanita yang sedari tadi terus mengikutinya "gaada yang bakal gue pilih! jangan harap gue ikutin kesepakatan konyol Lo!"


"Lo udah janji kemaren"


"itu karena Lo jebak gue Sandra!"


"apapun alasan Lo , kesepakatan kita harus tetap berlanjut gue udah bilang ini ke ayah"


"terserah" ucapnya kemudian menghempaskan paksa lengan Sandra yang mencekal nya tadi.


semua murid kini kompak menatap kearah Sandra ,ada yang memberi tatapan benci ,marah ,iri, mengejek dan prihatin. sudah beberapa bulan terakhir wanita itu terlihat gencar mendekati Alex ,mengabaikan image nya yang semula baik menjadi buruk seketika.


ia tidak segan-segan melabrak para gadis yang kedapatan berani menatap bahkan menunjukan rasa sukanya pada Alex ,terlebih ia sudah bergabung dengan gang Cindy cs menambah kekuatan agar bisa menindas orang-orang yang tidak ia sukai.


begitupun dengan alaskar ,hubungan mereka kini tak sedekat dulu dan semua ini berawal saat Sandra tega menjebak Alex untuk tidur bersamanya setelah membawa pria itu ke sebuah bar dan membuatnya mabuk. untung saja alaskar cepat tanggap hingga kejadian tak diinginkan tidak terjadi.


"masih belom berhasil juga?" tanya seseorang membuat sandra menoleh "gue masih usaha ,dan gue yakin lama kelamaan dia gak punya pilihan lain lagi selain Nerima pertunangan ini"


"Lo percaya diri banget san ,Alex tuh cinta mati banget sama si zeline kayaknya Lo bakal susah deh buat mewujudkan impian besar Lo itu " celetuk Caroline membuat wanita itu melotot tak terima.


"ck liat aja apa yang bakal gue lakuin selanjutnya"


"Lo gaboleh keluar batasan lagi san" peringat mika namun Sandra tetap lah Sandra , tidak ada satu keinginan pun yang tidak bisa ia dapatkan.


_________________


di luar gerbang ,seorang gadis perlahan turun dari mobil BMW hitam diikuti beberapa orang berbadan besar yang setia mengawalnya. ia menarik nafas pelan kemudian menghembuskan nya seraya membernarkan letak tas yang hanya ia sampirkan di bahu kanan.


"ready?" tanya seseorang di balas anggukan singkat oleh gadis tersebut. perlahan tapi pasti kaki jenjangnya mulai melangkah masuk ke area sekolah yang mulai sepi karena bel masuk sebentar lagi akan berbunyi membuat para murid mungkin sudah memasuki kelas mereka.


matanya mengedar ,meneliti setiap detail bangunan yang sama sekali tidak berubah. garis bibirnya tertarik ke atas saat berpapasan dengan beberapa guru yang menatapnya cukup terkejut.


ceklek


"OMG!!!!" seru semua murid saat melihat siapa yang membuka pintu kelas.


"hai".


setelah bel masuk berbunyi ,pak Danu segera menggiring semua murid kelas XI IPA 2 untuk melakukan olahraga di lapangan utama sekolah. seperti biasa mereka harus membentuk beberapa baris kemudian melakukan absen dan pemanasan lebih dulu. beruntung lah materi kali ini adalah bola voli ,materi yang tidak susah-susah amat untuk di praktekan.


berbeda dari hari biasa semua murid terlihat sangat bersemangat terutama Bella cs yang tak henti-hentinya melontarkan beberapa pertanyaan interogasi pada seorang gadis. disisi lain Sandra yang masih belum percaya dengan apa yang tengah ia lihat hanya mendelik tajam kearah gadis tersebut.


"woyy woyy gausah gosip Mulu Napa! pala lopada ngadep depan sini!" seru Albert yang kini di tunjuk untuk memimpin pemanasan.


"yang bener Lo ngasih gerakannya ,jangan sampe gue salah urat nanti" protes James menyebalkan bagi albert.


"banyak bacot Lo ikutin aja si ah"


"Albert jaga bahasa kamu" tegur pak Danu membuat pria hitam manis itu menyengir tanpa dosa.


perlahan ia merentangkan tangannya lalu menggerakkan nya ke depan dan ke samping ,tak lupa kakinya juga ikut di naikan beraturan dan itu langsung di ikuti semuanya.


"1 2 3 4 5 6 7 8"


dan begitulah seterusnya banyak gerakan yang ia tunjukan lalu kemudian diikuti serempak oleh semuanya.


brak


"Lex!!" seru Ali dengan napas yang masih tersengal-sengal membuat semua orang yang berada di rooftop turut melayangkan tatapan tajam padanya.


"apaan sih anjir dateng-dateng ngagetin aja babi!"


"lopada pasti gabakal percaya hoosh hoosh"


"ck emang apaansi heboh bener lo"balas David setelah menyeruput es lemon miliknya.


"Lex!! Lo jangan sampe pingsan gue kasih tau berita ini yah?!"


Alex hanya menaikkan sebelah alisnya ,menunggu Ali melanjutkan kalimatnya. lelaki berambut ikal itu mendekat lalu membisikan sesuatu yang membuat Alex seketika membelalakan matanya.


"Lo kalo ga bisa maen voli mending diem deh ,jadi kena muka gue nih!!" bentak Mora membuat Albert meringis "sorry lagian Napa Lo berdiri di tengah lapang gitu kan jadi ke gaplok bola gue"


"gue disini mau jualan bubur!! ya mau maen voli lah makanya gue berdiri dilapangan ,oon emang otak Lo"


"yeeeehh marah-marah Mulu Lo kaya haji Janu"


"sape haji Janu?" tanya Mora seraya menggaruk pelipisnya yang tak gatal "itu tetangga gue orang nya dartingan ,dia ke sandung batu aja batunya yang di marahin"


"lah ngapa jadi bahas haji Janu? mending Lo awas dah halangin gue aja lo" sinis sela tak ramah.


"bacot Lo ,minggir ah" ucap zeline yang akan men servis bola"


"iya iya zeline yang cantik jelita ,Albert minggat nih"


Sandra hanya memutar bola matanya malas menyaksikan adu bacot unfaedah tersebut "buruan servis bola nya!!"


"sabar Napa dari tadi dartingan Mulu Lo!" saut syeril sangat tidak ramah.


zeline menservis bola kemudian membuat dua tim yang tengah bertanding tersebut saling berebut untuk mencetak skor. dari awal permainan tim zeline memang sudah memimpin karena mereka terlihat sangat paham akan permainan ini ditambah Melly dan Alina yang berasal dari ekstrakurikuler voli terlibat di dalam tim nya.


Sandra tersenyum smirk saat melihat ada celah untuk membuat seseorang mengenai bolanya "Zee awas!!" teriak Bella yang memang sudah memperhatikan gerak gerik Sandra yang mencoba men smash bola dan mengarahkan nya tepat pada zeline.


"Lo gila yah?! kalo maen yang sportif bisa?!" kesal Bella begitupun dengan sela dan yang lainnya yang masih syok akan kejadian tadi. mungkin jika Bella tidak memperingati zeline gadis itu akan terkena bola yang di smash cukup keras itu.


"mau Lo apa sih hah dari tadi kagak becus banget kalo maen?! malah mau bikin temen gue celaka Lo!"


"lopada apaansi ,lebat banget orang gue cuma mau smash bolanya"


"ya Lo smash bola jangan pake tenaga dalem juga!"


"heh gausah nyalahin temen gue deh ,si zeline nya aja yang lemah lebay banget" sambung mika dengan tangan yang terus membernarkan tatanan rambut nya.


zeline sendiri hanya terkekeh miris melihat apa yang di lakukan Sandra padanya tadi "kalo gak becus maen mending gausah so pengen ikutan"


"waktu pelajaran tinggal 20 menit lagi ,silahkan kalian berganti pakaian lebih dulu lalu kembali masuk ke kelas" suara pak Danu membuat perdebatan itu seketika terhenti. Sandra langsung menatap penuh permusuhan pada zeline yang dibalas hendikan bahu oleh gadis itu.


"Zee ,Lo belom ketemu sama Alex?" tanya Bella yang masih merapihkan seragam sekolahnya. zeline yang tengah mengoleskan Liptin di bibirnya seketika terhenti ,sedari awal ia memang menghindari satu nama itu dan kini ia kembali khawatir.


"udah ah yuk ke kelas keburu Bu dini masuk" ujar Nya mengalihkan topik. syeril yang hendak kembali membuka suaranya pun kembali terdiam saat sela memperingati nya untuk tetap diam karena ia tau jika zeline sedikit tidak nyaman dengan topik tersebut.


"baik anak-anak silahkan buka halaman 110 ,kita lanjutkan materi Minggu lalu" intruksi Bu dini yang langsung di patuhi oleh semuanya.


kini keadaan kelas sangat kondusif, semua mengikuti pelajaran kedua dengan sangat baik terkecuali Zeline yang kini pikirannya masih berkelana entah kemana. matanya hanya melihat materi yang tengah di tulis di papan tulis depan oleh Bu dini namun pikirannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan materi.


Alex berlari kecil seraya mendengus kesal karena niatnya yang akan menemui gadis yang selama ini ia rindukan harus sedikit terhambat karena Erina memberitahu jika pembina OSIS meminta untuk mengadakan rapat sebentar untuk membahas beberapa program kerja kedepan. ia sangat kesal karena rapat tersebut menyita banyak waktunya hingga saat ini bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.


ia semakin mempercepat larinya membuat alaskar yang masih berada di belakang hanya menggelengkan kepalanya "dasar si bulol , mentang-mentang bini nya udah balik jadi lupa sama kita padahal kalo gue kagak kasih tau gabakal tau tuh kampret!"


"ngomel Mulu ,gak pegel apa moncong Lo hah?!" tanya William membuat Ali menggeleng santai "moncong di ciptakan untuk nge bacot bukan cuma pajangan doang kaya si Aksa"


pletak


"sue Lo bawa-bawa gue!"


Alex mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantin, mengabaikan pekikan para gadis yang melihat sosok Alex yang tiba-tiba datang ke kantin begitu saja terlebih pria itu hanya sendirian. matanya memicing saat melihat teman-teman gadisnya yang tengah duduk di pojok kantin tepatnya dekat jendela namun ia sama sekali tidak menemukan zeline disana.


"makasih yah Bu ,ini yang nya" zeline memberikan satu lembar uang berwarna merah pada penjual milkshake alpuket "aduh neng gaada kembaliannya ,dari tadi uang nya pada gede semua"


"yaudah pak gausah kembalian"


"eh jangan atuh neng ,bapak kasih bonus milkshake nya 5 yah"


zeline mengangguk ,ia lantas menerima satu kantong plastik berisi minuman dengan berbagai rasa. saat hendak berbalik ,tubuhnya seketika terhuyung ke belakang saat seseorang memeluknya secara tiba-tiba.


"Shaquille"


deg


semua orang membeku di tempat melihat pemandangan paling menyakitkan terutama para kaum hawa yang harus kembali menggigit jari dan sadar diri jika Alex benar-benar sudah mempunya pawang. di bangku pojok ,Mora dan Bella sama terkejutnya ,hingga tak sadar jika mulut mereka ikut terbuka secara otomatis.


suasana kantin yang tadinya ramai mendadak hening ,entah mereka yang terlalu fokus pada pemandangan didepan atau hanya terkesima melihat betapa hangatnya seorang Alex merengkuh tubuh mungil kekasihnya yang sudah lama hilang dan kini tiba-tiba kembali. Sandra mengepalkan tangannya kuat namun seketika ia menoleh saat William mengelus lengannya "stop sampai disini san ,dia udah punya zeline" bisiknya membuat wanita itu tambah geram.


"a_alex"


"i Miss you so much" lirihnya dengan kepala yang masih betah di sembunyikan di ceruk leher sang gadis.


zeline dengan ragu membalas pelukan hangat tersebut ,membuat Alex semakin mengeratkan pelukan mereka. ia mengelus sayang punggung pria tampan hingga membuat Alex semakin nyaman berada di pelukan zeline.


"Alex lepas dulu"


"ga!"


"lepas dulu yah ,gaenak di liatin orang-orang" ucapnya dan ampuh membuat Alex meregangkan pelukannya. kini wajah mereka saling berhadapan, begitupun dua pasang mata yang kini saling menatap dalam satu sama lain. mencoba mengobati kerinduan yang telah lama terpendam dari tatapan tersebut.


"i Miss you and i love you , Shaquille" ujarnya membuat pipi zeline seketika memerah karenanya "kamu kamu harus jelasin semuanya sama aku nanti yah" zeline hanya mengangguk lalu Alex menggenggam lengan lentik sang gadis dan membawanya menuju meja mereka.