
Pagi itu sebuah truk kargo berwarna hitam yang dikendarai oleh Azri melewati gerbang pusat distribusi gula merah yang ia bawa. Tempat ini memang sudah berlangganan dengan bosnya itu. Ia memutar stirnya mendekati area gudang yang akan menampung semua gula-gula tersebut.
Seperti biasa, setibanya disana sudah ada beberapa orang pria yang siaga didepan pintu gudang yang bertugas untuk memindahkan gula-gula yang memang sudah dipacking rapih dengan plastik yang mampu menampung 5 kg gula setiap plastiknya. Hari ini ada lima orang sepertinya. Empat orang yang bertugas memindahkan gula-gula itu dan satu orang lagi seorang kepala gudang yang bertugas mencatat jumlah plastik gula yang Azri bawa.
Sesampainya di area itu memang seharusnya tugas Azri sudah selesai sebab pak Joko sebagai rekan yang selalu menemani dirinya lah yang akan mengawasi dan menangani proses selanjutnya.
Lelah yang ia rasakan, semalaman dia harus terjaga dan menjaga keseimbangan mobil dengan muatan banyak yang ia bawa itu sampai tujuannya. Ia mencoba untuk menghilangkan rasa kantuk yang sudah menyerang sedari tadi dengan memejamkan matanya sembari duduk dibalik stir mobil tersebut.
Namun apa daya, perkiraannya tidak sesuai kali ini. Seseorang mengetuk kaca mobil itu. Dengan segera ia membuka pintu guna melihat siapa yang tengah mengganggu tidurnya. Kesal pasti. Tapi setelah melihat siapa yang mengganggunya seketika rasa kesalnya tergantikan dengan senyum disudut bibirnya.
"Ada apa mbak Lisa?"
Seorang wanita cantik ternyata yang berada dihadapannya saat ini. Dengan rambut panjang hitamnya yang ia biarkan tergerai bebas, pakaian rapih dengan kemeja berwarna navi dan rok span sepanjang lutut dan juga heels 5cm yang menghiasi kaki cantiknya yang membuat dirinya semakin enak dipandang.
"Maaf mas Azri ada mau saya sampaikan. Bisa kita bicara di cafe depan sini!"
Tutur wanita itu dengan aura ceria. Terdengar akrab memang sebab mereka memang sering bertemu jika memang dibutuhkan saat dia memasok gula di sana.
"Oh boleh mbak, mari! " sambut Azri dengan menggerakkan telapak tangannya seolah memberi isyarat agar wanita itu berjalan mendahuluinya. Tak lupa juga Azri memberi tahu pak Joko bahwa ia akan berbincang dengan Lisa, agar dia tidak kebingungan mencari pria itu.
Azri tahu mungkin Lisa akan membicarakan soal harga pasaran gula merah yang berubah bisa jadi naik ataupun turun. Sebab yang ia tahu Lisa merupakan seorang manager keuangan ditempat itu.
Sesampainya di cafe, mereka segera mencari bangku kosong yang akan mereka duduki dan memesan beberapa cemilan dan minuman. Lumayan kan mengingat dirinya memang belum sempat sarapan, apalagi ditemani oleh wanita cantik dihadapannya.
Benar memang wanita itu membicarakan harga pemasaran yang berubah. Sudah pasti itu membuat pria itu gelisah sebab otomatis akan mempengaruhi pemasukan untuk bosnya dan tip yang ia dapatkan dari perjalanan yang melelahkan ini. Tapi bagaimana lagi ia juga tidak bisa menolaknya. Tidak jarang juga mereka sedikit basa basi disela memakan cemilan yang mereka pesan.
Setelah merasa tidak ada yang perlu lagi mereka bahas, keduanya segera berdiri dari duduk mereka untuk segera berlalu namun sebelum itu mereka sempat berjabat tangan dan sedikit ritual perpisahan dengan cipika-cipiki.
Di saat itu lah Gilang melihat adegan tersebut. Tanpa disengaja, sungguh kebetulan ibundanya meminta Gilang untuk menemuinya di cafe itu. Yang membuat dirinya mengepal geram dan rahangnya mengeras. Ingin rasanya ia mendaratkan tonjokan dipipi kanan Azri karena ia berfikir kalau pria itu telah berani menghianati istrinya. Namun ia tahan, dia tidak ingin gegabah dan membuat keributan disana apalagi ada sang bunda yang telah menunggunya sedari tadi.
Tidak mau menyia-nyiakan moment ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya untuk mengambil gambar adegan tersebut lalu mengirimkannya kepada Anto. Kemudian menelpon sahabatnya itu.
'Foto apa ini bos?' Tanya Anto langsung dari seberang telepon setelah melihat foto yang ia terima dari Gilang.
"To. Ikuti mereka!. Apa yang mereka lakukan disini. Baru aja mereka keluar dari cafe ini"
Diputuskannya langsung sambungan telepon tersebut. Gilang segera menemukan sosok ibunda yang sedang menanti dirinya sedari tadi.
"Mam" panggilnya pada wanita separuh baya yang masih terlihat muda itu. Ia langsung mengecup kening ibunya saat sudah berada disamping Rahma.
Namun Rahma tidak sendiri ada seorang wanita muda yang duduk disampingnya.
Gilang bisa menebak lagi-lagi ibundanya tanpa bosan membuat kencan buta untuk dia. Raut wajahnya semakin dingin. Belum hilang kekesalan yang melihat Azri bersama seorang wanita cantik, kini malah ibunya sendiri yang semakin membuat moodnya benar-benar kacau.
"Hei. Sudah sampai. Lama banget sih sayang? Sini sayang kenalin ini Luna anaknya temen mami." Titah Rahma sembari menepuk lengan Gilang.
Wanita itu tersenyum ia segera berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Gilang.
"Laluna"
"Gilang" pria itu membalas uluran tangan wanita itu tetap dengan ekspresi datar
Laluna adalah anak dari salah satu teman Rahma sewaktu kuliah dulu. Namun malang nasib gadis itu sebab kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan mobil. Jadilah dia yang sekarang ini. Hidup seorang diri dengan mengandalkan tekad dan berhasil mendirikan sebuah cafe tempat mereka berada saat ini. Begitu cerita sang ibunda.
Gilang baru menyadari hal itu saat mengingat tulisan yang tertera di depan bangunan cafe itu yang bertuliskan «LALUNA CAFE «
...
"Mama tuh nggak bosen-bosen sih ngatur-ngatur kencan buta buat aku. Mama kan tau. Aku cuma cinta sama Ali..." protes Gilang saat mereka sudah berada didalam mobil, perjalanan menuju rumah Rahma.
"Luna itu gadis baik Gilang. Cobalah kamu belajar buat buka hati kamu untuk orang lain. Nggak ada salahnya kan mencoba. Mau sampai kapan kamu begitu. Berharap yang nggak pasti. Kalau dia sayang sama kamu dia nggak akan ninggalin kamu. Mama cuma nggak mau kamu hidup dalam bayang-bayang terus seperti ini nak" putus Rahma seolah tahu yang ada didalam pikiran anak semata wayang nya itu.
"Mama tuh nggak ngerti apa Gilang rasain. Apa perlu Gilang jelasin berkali-kali gimana aku selama ini berjuang untuk dapatin dia" jawabnya. Dia selalu yakin bahwa ini semua hanya soal waktu. Kalau dia mau berusaha sedikit lagi pasti akan membuahkan hasil. Ia belum sempat bertanya kepada Anto. Kejadian apa yang sesungguhnya ia lihat didalam cafe tadi, diantara Azri dengan seorang wanita. Bahkan sempat terlintas dalam benaknya kalau sampai pria itu menyakiti seujung kuku saja wanita pujaan hatinya itu. Ia tidak akan segan-segan untuk merebutnya kembali meski dengan cara hina sekalipun.
Rahma hanya menggeleng pasrah. Benar-benar anak yang keras kepala. Hanya doa yang bisa ia panjatkan berharap Tuhan memberikan yang terbaik untuk putranya.
Sedangkan Anto hanya diam menyimak pertengkaran kecil diantara mereka. Apalagi dia tahu betul bagaimana sahabatnya itu terobsesi dengan Alista.