MY DESTINY

MY DESTINY
episode 54



"HAPPY READING"


***


Celine telah menyiapkan semua kejutan untuk Daniel. Berharap dialah yang akan menjadi orang pertama yang mengingat hari kelahiran Daniel. Sehingga Daniel akan terkesan padanya.


"Selamat ulang tahun Daniel ..." ucap Celine memegang kue tar ditangannya. Daniel yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, sedikit kaget melihat Celine yang datang secara tiba-tiba.


"Celine, oh astaga!! Aku sendiri bahkan tidak ingat dengan hari kelahiranku."


"Benarkah!! Aku yakin kau pasti kaget karena aku orang pertama yang mengatakannya padamu, benarkan?" ujar Celine sangat percaya diri.


"Kau benar." jawabnya lembut, dan tersenyum kecut, berfikir apa Nayna tidak tahu hari kelahirannya. "Terimakasih telah ingat." sambungnya lagi.


"Sama-sama, ayo tiup lilin dan potong kuenya." ucap Celine bersemangat.


"Tentu," jawabnya dan segera meniup lilin. "Berhubung hanya ada kau disini jadi kau jugalah yang akan menerima suapan pertama dariku." ujar Daniel yang disambut senyuman sumringah dari Celine.


"Jika aku boleh tahu, doa apa yang kau ucapkan saat meniup lilin tadi?" tanya Celine penasaran.


"Sebenarnya aku tidak ingin memberi tahu siapapun, tapi karena kau adalah sahabatku, maka aku akan mengatakannya. Aku berdoa agar orang-orang yang aku cintai selalu baik-baik saja dan bahagia, itu saja." ucap Daniel enteng.


"Kau tidak berdoa untukku?" tanyanya lagi, tidak ada niat bergurau dalam ucapannya.


"Aku berdoa semoga kau segera menemukan orang yang tepat." ucap Daniel serius.


"Bagaimana jika tidak ada yang mau, apalagi yang serius!! Apa kau mau menikahiku?"


Daniel terdiam sejenak, "Aku tidak akan menikahimu Celine, karena aku hanya akan menikah dengan Nayna." ucap Daniel tegas.


"Hahah ... Aku hanya bercanda Daniel, wajahmu terlihat serius sekali." ucap Celine mengejek Daniel.


Meski Celine tertawa hambar, Daniel bisa menyadari ada raut kekecewaan di wajahnya. Daniel mengambil ponselnya untuk menghubungi Nayna, namun tidak ada jawaban darinya.


"Kau menelpon Nayna?"


"Ya, sepertinya dia sedikit sibuk." ucap Daniel lemah.


"Aku rasa dia lebih mementingkan rancangannya dibanding dirimu Daniel!!" ucap Celine mencoba memprovokasi Daniel agar merasa kesal pada Nayna. Daniel menghela nafas gusar, tidak menanggapi ucapan Celine.


***


"Apa yang kau lakukan disini?" ucap Saina menatap dingin kearah Frans yang tiba-tiba berada di kantornya.


"Apa kau tidak bisa bersikap sopan pada investor pertamamu?" jawab Frans santai dengan menyunggingkan senyuman sinisnya.


("Apa maksudnya mengatakan investor pertamaku! Apa yang dimaksud ayah waktu itu, pria mesum ini.?") batin Saina menatap tajam Frans yang ada dihadapannya.


"Ini adalah surat perjanjian kita," ucapnya menyodorkan berkas pada Saina. "Ayahmu sudah menandatangani nya, sekarang giliranmu." sambungnya.


Saina menatap ragu kedalam map itu, karena tidak percaya pada Frans, diapun memeriksa poin-poin penting dalam perjanjian itu. Matanya terbelalak kaget saat melihat salah satu isinya yang mengatakan bahwa dia harus ikut membantu Frans kapanpun yang dia inginkan.


"Apa-apaan ini!! Aku tidak mau mengikuti keinginanmu, siapa tahu kau merencanakan hal jahat padaku!" ujar Saina berteriak kesal.


"Terserah kau, mau mengikutinya atau tidak. Aku tidak akan rugi apapun! Justru kaulah yang rugi karena kehilangan investor terbesarmu. Dalam hitungan menit usahamu akan hancur. Bukankah kau baru mau merintis karirmu?" jawabnya mengangkat bahu seolah itu bukan masalah besar baginya.


Saina menggeram kesal, ("kenap harus pria licik ini yang menjadi investor kami, bisa-bisanya ayah menandatangani nya semudah itu.") batin Saina.


Mau tidak mau dia terpaksa menandatangani nya. Dan hal itu membuat Frans mengembangkan senyumannya, merasa penuh kemenangan.


"Sudah. Kau puas!" ucap Saina ketus.


Frans memeriksanya, lalu tersenyum sinis. "Sekarang, aku ingin kau menemaniku makan siang bersama. Sekaligus membicarakan kerjasama kita."


"Hanya makan siang!! Kau tidak sedang merencanakan sesuatu bukan?" tanya Saina menyipitkan matanya, menatap curiga pada Frans.


"Baiklah kalau begitu."


Merekapun sampai ke restaurant dan langsung menyantap makanan mereka dalam diam. Tidak ada yang membuka suara. Hanya terdengar dentingan suara sendok dan garpu. Sesekali Frans melirik kearah Saina yang hanya fokus pada makanannya.


"Saina!! Kau disini?"


ucap Dokter Reyyan yang tidak sengaja bertemu Saina di sana. Saina menoleh kesumber suara yang memanggil namanya barusan.


"Dokter Rey? Ayo bergabunglah bersama kami."


Dokter Reyyan segera mengambil tempat duduk yang berada disebelah Saina. Frans menatap bingung pada pria itu. "Saina siapa dia?"


"Ah, Dokter Reyyan kenalkan dia rekan kerjaku namanya Frans. Frans ini dokter Reyyan temanku." ucap Saina memperkenalkan mereka, dan membuat Frans sedikit lega karena pria itu hanyalah teman Saina.


"Maaf mengganggu waktu kalian! Beruntung aku bertemu dengan Saina disini. Saina bagaimana keadaanmu?" tanya dokter Reyyan yang membuat Saina gugup, kenapa dokter Reyyan harus membahas tentang penyakitnya disini.


"E .. Aku baik-baik saja dokter, kau tidak perlu khawatir." ucapnya sedikit tergagap.


"Memangnya Saina, sakit apa?" ucap Frans mencoba mengatasi rasa penasaran nya.


"Jadi begini. Saina mengalami penyakit ..." belum sempat dokter Reyyan menjelaskan Saina sudah memotongnya. "E.. Aku hanya demam, ya. Hanya demam. Dan aku merasa lebih baik jika dokter Reyyan yang mengobatiku. Benarkan dokter?" ucap Saina sedikit menginjak kaki dokter Reyyan dan memberi isyarat padanya agar dia mengiya kan ucapan Saina barusan.


Dengan sangat terpaksa dokter Reyyan pun menuruti keinginan Saina. "Ya ... Benar." ucapnya menipiskan bibirnya. Frans hanya menyipitkan matanya dan mengangguk kecil menanggapinya, bukan berarti dia percaya. Malah justru itu adalah pertanda bahwa dia merasa curiga. Frans berencana untuk mencari tahu sendiri tentang Saina dan dokter Reyyan.


****


Daniel melemparkan ponselnya saat menghubungi Nayna namun tidak ada jawaban darinya, Daniel juga sudah berusaha mencarinya dimana-mana namun Nayna menghilang entah kemana, bagai ditelan bumi.


Celine melihat Daniel yang gusar mencoba untuk menenangkan nya, dan mengambil sedikit keuntungan dari hal itu. "Daniel, tenanglah. Biarkan saja Nayna yang sibuk dengan pekerjaannya, masih ada aku disini bersamamu." ucapnya tegas namun tersimpan kelicikan didalamnya.


"Tidak Celine. Nayna tidak pernah seperti ini sebelum nya. Aku takut terjadi sesuatu padanya." ujar Daniel mengusap kasar wajahnya.


("Sial ... wanita itu benar-benar sangat berpengaruh bagi Daniel. Apa yang harus kulakukan untuk membuat Daniel membencinya.") batin Celine menggerutu kesal.


BRAK


Hans membuka kasar pintu ruangan Daniel. Daniel kaget dengan kedatangan Hans secara tiba-tiba ditambah lagi raut wajah kecemasannya.


"Hans! ada apa, kenapa kau terlihat panik?" tanya Daniel bingung.


Dengan nafas tersengal Hans mencoba memberitahu pada Daniel.


"DANIEL .... NAYNA, DIA ..??"


***


HAY GUYS KALAU KALIAN SUKA


JANGAN LUPA KASIH


LIKE 👍


KOMENTAR 😀


BINTANG 5


FAVORITE


KOIN


DAN VOTE SEBANYAK BANYAK NYA YA , DAN JANGAN LUPA KRITIK DAN SARAN NYA JUGA YANG MEMBANGUN


JANGAN ADA PLAGIAT DI ANTARA KITA YA " TERIMAKASIH "